Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Ini Kunci Harmonis dari Pakar Keluarga Aisah Dahlan

Dina Angelina • Rabu, 24 Juli 2024 | 17:03 WIB

HARMONISASID: Dokter Aisah Dahlan (kiri) saat memberikan materi menciptakan keluarga harmonis di Balai Kota Balikpapan, Rabu (24/7). (FOTO: DINA ANGELINA/KP)
HARMONISASID: Dokter Aisah Dahlan (kiri) saat memberikan materi menciptakan keluarga harmonis di Balai Kota Balikpapan, Rabu (24/7). (FOTO: DINA ANGELINA/KP)
KALTIMPOST.ID, Laki-laki dan perempuan memiliki begitu banyak perbedaan. Terutama dari sudut pandang dan cara struktur otak bekerja. Maka dalam membina rumah tangga perlu upaya menciptakan harmonisasi atau keselarasan.

 

Hipnoterapi sekaligus pakar keluarga Aisah Dahlan berbagi tips dalam membentuk harmonisasi keluarga. Dia menuturkan, harmonis berarti menjalani hubungan dengan penuh kasih sayang, saling memahami, saling menghormati, dan saling mendukung.

 

Sehingga untuk mewujudkan harmonisasi butuh ilmu. Apalagi ada perbedaan otak atau cara berpikir antara suami dan istri. Kemudian perbedaan dalam bahasa kasih sayang, budaya, watak, hingga usia.

 

“Tips yang utama saling sabar. Terutama para istri,” katanya saat menjadi pembicara di Aula Balai Kota Balikpapan, Rabu (24/7). Dia menjelaskan, sabar bukan berarti diam. Namun mencari tahu dengan hal yang positif.

“Misalnya kenapa saat saya bilang sesuatu, tapi suami menangkapnya berbeda. Saya terus mencari tahu,” ujarnya. Bahkan dia kerap mengulang materi tentang perbedaan ini. Tujuannya agar semakin kuat tersimpan dalam memori otak.

 

“Kalau sudah sadar, baru otomatis kita bisa menjalankan,” sebutnya. Isha – sapaan akrabnya, perkembangan pesat neurosains membuat penelitian tentang isi otak perempuan dan pria semakin mudah.

 

Misalnya perempuan bisa lebih multitasking, berbeda dengan laki-laki. Sebab terdapat perbedaan lokasi bahasa bicara antara otak perempuan dan laki-laki. “Namun susunan otak laki-laki dan perempuan ternyata saling mendukung dan melengkapi,” imbuhnya.

 

Berdasarkan penelitian Institute of Psychiatry London Tahun 1999. Peneliti menemukan lokasi bicara dan bahasa pada laki-laki berada di otak belahan kiri belakang. Sementara perempuan berada di otak kiri belakang dan kanan belakang.

 

“Itu yang membuat perempuan banyak bicara dan multitasking. Jadi pahami kalau perempuan memang lebih bawel dari pria,” ujarnya. Isha menyebutkan, rata-rata jumlah komunikasi pria hanya produksi 7.000 kata per hari.

Sedangkan perempuan mengeluarkan rata-rata 20 ribu kata per hari. Apabila kurang dari 16 ribu kata, maka perempuan bisa tidur tidak nyenyak. “Tolong para suami kasih waktu istri bicara, tapi istri tetap harus ingat bicara sesuai tempat,” ujarnya.

 

Jadi semua saling paham dan mendapatkan amal soleh. Setidaknya keluh kesah yang ingin disampaikan perempuan sudah terpenuhi. Itu semua sudah fitrah dan bisa dipelajari oleh masing-masing pihak.

 

Contoh jika perempuan banyak bicara, tapi bisa berupaya mengontrol perkataannya. Selanjutnya Isha bercerita kerap terjadi pertengkaran saat suami dan istri bertemu di rumah usai pulang kerja.

 

“Ada 10-15 menit rawan. Istri menunggu ingin ngobrol, menyambut suami dengan senyum. Tapi suami karena hormon testosteron tidak bisa langsung senyum,” ungkapnya. Secara ilmiah, ada perbedaan hormon estrogen dan testosteron.

 

Biasanya dalam 10 menit pertama suami datang, mereka tidak mau ditanya panjang lebar. Maka istri cukup menyambut tidak lebih dengan 10 kata. “Jadi sebagai perempuan tahan-tahan untuk berbicara. Ini wujud kesabaran dan ikhtiar,” tuturnya.

 

Walau memang berbeda dengan cara wanita menyimak, wajah wanita bisa berubah hingga enam kali ekspresi dalam 10 detik. Namun ini alamiah dan menjadi kelebihan perempuan.

 

Dia mengingatkan, perempuan memang perlu bicara karena otak perempuan tidak dapat menyimpan masalah. Caranya dengan membicarakan masalah. “Itu melepaskan ganjalan hati, bukan mencari kesimpulan atau penyelesaian,” bebernya.

 

Artinya ketika perempuan curhat hanya ingin disimak. Namun pria sebenarnya tidak tega dan mencoba menawarkan solusi. “Maka ibu jangan tersinggung juga, anggap saja itu bentuk sayang suami. Jika tidak, bisa bertengkar terus,” ujarnya.

 

Bahkan WHO membuat program mengurangi depresi wanita dengan kampanye Ayo Bicara. “Perempuan diciptakan mendampingi laki-laki, Sunnatullah. Dengan memahami perbedaan, kita bisa bangun kekuatan bersama dansaling mencintai,” pungkasnya. 

Editor : Uways Alqadrie
#dr aisah dahlan #balikpapan