Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Elon Musk Minta Maaf, Wawancara Donald Trump di X Terkendala Masalah Teknis

Dwi Puspitarini • Selasa, 13 Agustus 2024 | 09:29 WIB

 

Mantan Presiden Donald Trump akhirnya kembali ke platform media sosial X (dahulu Twitter) dalam wawancara langsung dengan Elon Musk, Senin (13/8/2024).
Mantan Presiden Donald Trump akhirnya kembali ke platform media sosial X (dahulu Twitter) dalam wawancara langsung dengan Elon Musk, Senin (13/8/2024).

 

KALTIMPOST.ID, Mantan Presiden AS, Donald Trump, kembali menarik perhatian dunia setelah menceritakan percobaan pembunuhannya secara detail dan menyalahkan insiden tersebut pada "kurangnya koordinasi."

Cerita ini disampaikan Trump saat kembali menggunakan platform media sosial yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter, kini disebut X, dalam sebuah wawancara dengan pemilik X, Elon Musk.

Namun, wawancara ini terganggu oleh sejumlah masalah teknis yang membuat banyak pengguna tidak dapat mengakses siaran langsung.

Percakapan ini dimaksudkan untuk menjadi momen penting bagi Trump dalam menjangkau jutaan pemilih secara langsung serta bagi X, sebuah platform yang kini sangat bergantung pada konten politik, untuk menebus kesalahan dari berbagai masalah teknis di masa lalu.

Namun, hal ini tidak berjalan sesuai rencana. Dengan lebih dari 878.000 pengguna yang mencoba terhubung lebih dari 40 menit setelah waktu mulai yang dijadwalkan, wawancara masih belum dimulai, menyebabkan banyak pengguna menerima pesan "Detail tidak tersedia."

Tim Trump kewalahan oleh banyaknya pendengar yang login, sementara Musk meminta maaf atas keterlambatan dan menyalahkan "serangan besar-besaran" yang membuat sistem perusahaannya kacau.

Meskipun demikian, percakapan antara Trump dan Musk ini menyoroti betapa lanskap politik AS telah berubah dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah Trump dilarang secara permanen dari platform media sosial ini pada 6 Januari 2021, menyusul kerusuhan yang terjadi di Gedung Capitol.

Wawancara ini juga menyoroti hubungan yang berkembang antara Trump dan Musk, dua tokoh berpengaruh yang sebelumnya sering berselisih. Musk, yang dulunya pendukung Demokrat, kini cenderung ke arah sayap kanan dan telah membentuk kelompok super PAC untuk mendukung kampanye Trump.

Sementara itu, Uni Eropa telah memperingatkan Musk tentang potensi "penguatan konten berbahaya" terkait wawancara ini, mendesak kepatuhan terhadap undang-undang UE mengenai disinformasi.

Baca Juga: DPP Partai Golkar Gelar Rapat Pleno Malam Ini, Bahas Pengunduran Diri Airlangga Hartarto dan Penentuan Plt Ketua Umum

Dengan lebih dari 88 juta pengikut di X dibandingkan 7,5 juta di Truth Social miliknya, kembalinya Trump ke platform ini dipandang sebagai langkah strategis menjelang Pemilu 2024, terutama mengingat momentum yang sedang dibangun oleh rivalnya, Wakil Presiden Kamala Harris.

Pertemuan ini juga memicu peringatan dari Uni Eropa, yang mengkhawatirkan kemungkinan "penguatan konten berbahaya" dengan disiarkannya wawancara tersebut.

Seorang pejabat UE, Thierry Breton, memperingatkan Musk untuk memastikan kepatuhan terhadap undang-undang UE, termasuk Digital Services Act, yang diadopsi untuk mengatasi disinformasi.

Dalam wawancara tersebut, Trump juga mengomentari perkembangan politik terkini, termasuk rivalitasnya dengan Wakil Presiden Kamala Harris, yang saat ini unggul dalam berbagai jajak pendapat.

Masalah teknis yang terjadi pada wawancara ini mengingatkan banyak pihak pada kejadian serupa yang terjadi di platform yang sama pada Mei 2023, ketika Gubernur Florida, Ron DeSantis, mengalami gangguan teknis saat meluncurkan pencalonannya sebagai presiden.

Harris mencatat bahwa Trump pernah mengejek DeSantis saat menghadapi masalah teknis serupa dalam peluncuran kampanyenya tahun lalu.

Trump yang baru-baru ini kembali aktif di X setelah sebelumnya fokus pada platformnya sendiri, Truth Social, terlihat semakin mendekatkan diri dengan Musk. Musk sendiri telah menunjukkan dukungan yang lebih besar terhadap Trump setelah sebelumnya mendukung Presiden Joe Biden pada tahun 2020.

Meskipun demikian, wawancara ini menjadi bukti betapa pentingnya peran media sosial dalam kampanye politik modern, terutama bagi tokoh-tokoh seperti Trump yang terus berupaya menjangkau audiens yang lebih luas di tengah tantangan baru dalam kampanye pemilihan presiden 2024. (*)

Editor : Dwi Puspitarini
#percobaan pembunuhan donald trump #kamala harris #terkendala masalah teknis #Elon Musk meminta maaf #pembicaraan politik #Wawancara Donald Trump dengan Elon Musk di X #menarik perhatian global