KALTIMPOST.ID, Pengembangan infrastruktur transportasi di Ibu Kota Nusantara (IKN) diharapkan tidak hanya terpusat di dalam kawasan inti, tetapi juga merata ke wilayah mitra IKN, seperti Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kota Balikpapan, dan Kota Samarinda.
Hal ini disampaikan oleh Pengamat Transportasi, Djoko Setijowarno, yang menekankan pentingnya pemerataan transportasi umum modern di seluruh wilayah yang terkait dengan IKN, agar tidak terjadi ketimpangan.
Djoko Setijowarno, yang juga merupakan Dosen Teknik Sipil di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, menegaskan bahwa Kabupaten PPU sebagai induk dari IKN harus memiliki angkutan umum modern yang menjangkau hingga ke setiap pedesaan.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan layanan bus IKN - Balikpapan. “Bus IKN - Balikpapan dan sebaliknya harus dibenahi, dengan singgah di beberapa lokasi sepanjang jalan. Disediakan pula angkutan umum eksekutif terjadwal yang melayani langsung Balikpapan - IKN lewat jalan tol,” ujar Djoko kepada Kaltim Post, awal Agustus lalu.
Selain itu, Djoko juga mengusulkan agar pengunjung yang menuju IKN, termasuk pejabat yang melakukan kunjungan kerja, dibiasakan menggunakan angkutan umum.
“Jangan hanya himbauan buat rakyat, tetapi pejabatnya malah menggunakan kendaraan pribadi bersewa tinggi,” tambahnya.
Djoko Setijowarno juga mengingatkan agar pembangunan jalur kereta api yang sebelumnya direncanakan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan Otorita IKN segera direalisasikan.
Jalur Kereta Api Bandara Sepinggan - KIPP IKN, yang telah disusun Pra-FS-nya pada Januari 2024, memiliki dua alternatif trase.
Trase Sepinggan 1 memiliki jarak sejauh 46,06 kilometer dengan konstruksi yang terdiri dari underground, at grade, elevated, terowongan, dan immersed tunnel, dengan biaya Capital Expenditure (CAPEX) sebesar Rp 50,1 triliun.
Sementara trase Sepinggan 2, sepanjang 85,3 kilometer, memiliki konstruksi serupa namun tanpa terowongan dan immersed tunnel dengan biaya CAPEX sebesar Rp 37 triliun.
Pengembangan Kereta Api Perkotaan Balikpapan - IKN juga direncanakan memiliki trase sepanjang 161,95 kilometer yang terbagi menjadi dua lintas layanan: Layanan A sejauh 99,2 kilometer dan Layanan B sejauh 62,75 kilometer.
Penyusunan Feasibility Study (FS) dijadwalkan pada 2025-2026, dengan target transaksi pada 2027 dan konstruksi dimulai pada 2030.
“Pembangunan kereta api dari Balikpapan ke IKN perlu dipercepat,” pinta Djoko, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Penguatan dan Pengembangan Kewilayahan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).
Menanggapi hal ini, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menyatakan bahwa Kemenhub telah menyiapkan beberapa strategi layanan angkutan antarmoda di wilayah penyangga IKN.
Menurutnya, layanan angkutan antarmoda dari kota penyangga menuju Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, sudah dan akan terus diperluas.
Salah satunya adalah layanan angkutan antarmoda Balikpapan - IKN via tol, yang sudah beroperasi sejak 1 November 2022 melalui Simpang Samboja.
Dengan beroperasinya jalan tol IKN, layanan angkutan antarmoda ini akan dialihkan menjadi melalui tol, demikian pula dengan layanan angkutan antarmoda Samarinda - IKN.
“Setelah jalan tol beroperasi, titik akhir layanan untuk bus non listrik adalah Park and Ride 2 sebagai titik transit. Kemudian para penumpang akan beralih ke angkutan perkotaan IKN yang menggunakan Electric Vehicle (kendaraan listrik),” jelas Budi Karya dalam keterangan tertulisnya pada Juni lalu.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat mendukung pemerataan layanan transportasi modern, tidak hanya di IKN tetapi juga di wilayah mitra IKN, demi mencegah ketimpangan dan meningkatkan konektivitas di seluruh kawasan. (*)
Editor : Dwi Puspitarini