Di tengah megahnya pembangunan IKN, ancaman terhadap ekosistem laut semakin nyata. ITB berupaya menyelamatkan generasi penerus dan laut lewat digitalisasi.
M Rifqi Hidayatullah, Nusantara
RABU (11/9) pagi, di sebuah ruangan kelas sederhana SD 004 Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), puluhan pasang mata anak-anak tampak fokus. Mereka bukan menatap papan tulis atau buku-buku pelajaran. Pandangan mereka bergerak cepat menyimak layar proyektor, menjelajahi dunia bawah laut yang tak kasatmata dari daratan Sepaku, tempat tinggal mereka yang kini dibangun pusat pemerintahan baru Indonesia.
Mereka sedang menyelam secara virtual. Melalui teknologi yang memampukan mereka memahami laut. Mulai dari terumbu karang, ikan berwarna-warni, hingga ancaman polusi. Inilah masa depan literasi lingkungan yang telah hadir di tengah-tengah masyarakat; digitalisasi laut untuk generasi alfa. Generasi alfa merupakan anak-anak yang lahir antara tahun 2010 hingga 2025 yang tumbuh di era digital. Di mana teknologi sudah menjadi bagian integral dari keseharian mereka. Terbiasa dengan layar sentuh, perangkat cerdas, dan internet sejak usia dini.
Institut Teknologi Bandung (ITB), bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, memahami karakteristik generasi ini dan merancang pendekatan literasi lingkungan yang unik melalui digitalisasi. Program "Digitalisasi Literasi Laut bagi Generasi Alfa di Lingkungan IKN Nusantara" dihadirkan untuk mengenalkan ekosistem laut dan tantangan keberlanjutannya kepada anak-anak di wilayah IKN.
Teluk Balikpapan: Hulu Ekosistem yang Terancam
Ketika berbicara tentang laut, sering kali yang terbayang adalah ombak yang tenang, pantai yang indah, dan perahu nelayan yang berlayar di atasnya. Namun, sedikit yang menyadari bahwa laut adalah ekosistem yang sangat dinamis dan rentan, terutama ketika aktivitas manusia mulai mengintervensi.
Teluk Balikpapan, yang terletak di sekitar wilayah IKN Nusantara, adalah salah satu kawasan ekologi yang kaya dan berharga. Namun, pembangunan IKN yang sedang berlangsung menjadi ancaman bagi kelestariannya. Wakil Dekan Bidang Sumber Daya Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, Mutiara Rachnat Putri mengaku khawatir jika pembangunan masif di wilayah Sepaku yang menjadi hulu Teluk Balikpapan, memicu perubahan drastis pada ekosistem laut.
“Teluk Balikpapan itu seperti jantung dari ekosistem pesisir di Kalimantan Timur. Apa pun yang terjadi di hulunya, seperti di wilayah IKN, akan langsung berdampak ke laut. Nutrien, sedimen, dan polutan dari pembangunan bisa masuk ke laut, mengancam keberlanjutan ekosistem yang ada,” ujarnya. Mutiara melanjutkan, pembangunan bendungan di Sepaku yang dirancang mengatasi kebutuhan air bersih IKN, memiliki dampak ganda.
Di satu sisi, aliran air tawar yang menuju laut berkurang, sementara di sisi lain, hal ini membuka peluang bagi air asin untuk merangsek lebih jauh ke daratan. “Jika air laut terus masuk ke hulu karena berkurangnya aliran air tawar, ekosistem pesisir akan berubah. Biota laut yang biasanya hidup di area pertemuan air tawar dan air laut bisa terancam punah, bukan karena diburu, tetapi karena habitat mereka berubah,” lanjutnya.
Teknologi untuk Menghidupkan Laut di Mata Generasi Alfa
Di sinilah peran digitalisasi literasi laut yang diinisiasi ITB menjadi penting. Anak-anak di wilayah IKN, diajak mengenal laut dan ekosistemnya bukan hanya melalui buku teks, tetapi lewat pengalaman langsung yang dihadirkan secara digital. Dengan perangkat tablet di tangan, mereka menyelam secara virtual, mengenal kehidupan bawah laut, sekaligus belajar tentang ancaman yang membayangi seperti sampah plastik dan polusi industri.
Program yang diadakan di SD 004 dan SD 020 Sepaku ini, tidak hanya meningkatkan pengetahuan anak-anak tentang laut, tetapi juga mengajak mereka peduli dan terlibat dalam menjaga ekosistem. Melalui metode belajar yang interaktif, ITB ingin menciptakan pengalaman yang mendalam bagi generasi alfa. Menggabungkan elemen bermain dan pendidikan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan mereka.
Anak-anak diperkenalkan dengan berbagai jenis ikan, terumbu karang, dan biota laut lainnya, serta memahami bagaimana sampah dan polusi dari daratan dapat berdampak buruk pada laut. Bagi para guru, program tersebut berdampak signifikan. Mereka tidak hanya dibekali materi ajar tentang ekosistem laut, tetapi juga dilatih untuk memanfaatkan teknologi dalam proses pengajaran. Mutiara berharap setelah program ini selesai, para guru di Sepaku dan sekitarnya, melanjutkan program literasi kelautan secara mandiri, mengembangkan materi yang sesuai dengan kebutuhan lokal.
Kolaborasi untuk Masa Depan
Bagi ITB, program ini bukan hanya soal pengajaran satu arah. Kolaborasi yang erat dengan Unmul serta dukungan dari BRIN, menciptakan komunitas akademik yang kuat untuk mendorong literasi lingkungan. Program ini juga menjadi bagian dari implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), di mana mahasiswa dari kedua universitas tersebut terlibat langsung dalam kegiatan pengabdian masyarakat.
Bagi mahasiswa yang berpartisipasi, program ini tidak hanya memberikan pengalaman lapangan yang berharga, tetapi juga membuka kesempatan untuk memahami tantangan ekologi secara langsung. "Kami ingin mahasiswa kami juga belajar dari masyarakat dan lingkungan sekitar. Di sini, mereka bisa melihat bagaimana pembangunan berdampak langsung pada alam, dan bagaimana teknologi bisa menjadi solusi untuk mengurangi dampak negatif tersebut," ungkap Mutiara.
Selain itu, bagi dosen dan peneliti, program ini membuka pintu untuk penelitian lebih lanjut, baik di bidang sains kelautan maupun dalam pengembangan teknologi lingkungan. Mutiara menegaskan, kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, sangat penting untuk memastikan bahwa dampak program ini berkelanjutan.
Menjaga Laut dengan Teknologi Sederhana
Kekhawatiran akan dampak pembangunan IKN terhadap ekosistem laut bukan tanpa alasan. Namun, Mutiara optimis bahwa teknologi, meski sederhana, bisa menjadi solusi untuk menjaga keseimbangan alam di tengah pembangunan yang masif. Ia mencontohkan penggunaan teknologi sederhana dalam pengelolaan sampah dan air yang bisa diadopsi masyarakat.
"Teknologi tidak harus selalu canggih dan mahal. Dengan teknologi yang sederhana, kita bisa mengurangi dampak pembangunan terhadap lingkungan. Di beberapa desa, misalnya, sudah mulai ada inisiatif untuk mengelola sampah organik dengan teknologi sederhana, seperti pemanfaatan larva untuk mengurai sampah. Jika inisiatif ini terus berkembang, kita bisa menjaga keseimbangan lingkungan, meskipun ada pembangunan besar-besaran di sekitarnya," jelasnya.
Dengan program "Digitalisasi Literasi Laut," ITB ingin memastikan bahwa generasi alfa di wilayah IKN tidak hanya mengenal teknologi, tetapi juga memahami pentingnya menjaga lingkungan, khususnya laut. Harapannya, ketika mereka dewasa, laut Nusantara akan tetap biru, kaya dengan kehidupan, dan bebas dari ancaman yang dihasilkan dari aktivitas manusia. Di tangan anak-anak ini, masa depan laut Indonesia berada. Melalui program literasi digital, ITB berharap dapat menanamkan kesadaran sejak dini bahwa laut bukan hanya bentang alam yang indah, tetapi juga sumber kehidupan yang harus dijaga dan dilestarikan. (riz)
Editor : Muhammad Rizki