Untuk penerangan dan kebutuhan listrik lainnya, masyarakat hanya mengandalkan panel tenaga surya yang merupakan bantuan pemerintah provinsi, beberapa tahun lalu.
Yang lainnya manfaatkan genset atau generator listrik, untuk menghidupkannya menggunakan bahan bakar minyak solar ada juga yang menggunakan bensin atau pertalite.
Kepala Kampung Abit Basri mengungkapkan, listrik merupakan kebutuhan dasar setiap masyarakat yang sangat penting.
"Karena belum ada jaringan listrik PLN, kami masih mengandalkan tenaga surya sebagian lagi pakai genset," ungkapnya saat ditemui Kaltimpost.ID di kantornya, Kamis (19/9/2024).
Dia menambahkan, penggunaan genset memakan biaya yang cukup besar. Dalam sebulan, untuk pembelian BBM saja mencapai Rp 3 juta.
"Kita ini kan kampung paling ujung, otomatis harga-harga kebutuhan juga naik, misalnya aja pertalite di SPBU (Melak) Rp 10 ribu per liter, kita di sini di angka Rp 15 ribu per liter," tambahnya.
Basri menambahkan, Bangsa Indonesia Merdeka sudah 79 tahun, namun Kampung Abit belum menikmati listrik. "Belum ada listrik rasanya belum Merdeka," imbuhnya.
Oleh karena itu, pihaknya berharap pembangunan instalasi listrik segera dibangun ke Kampung Abit. Keberadan listrik di Kampung Abit, terang Basri, juga akan mengerakkan perekonomian.
Mirisnya, Kampung Abit belum menikmati listrik padahal dikelilingi 3 perusahaan sawit dan dilintasi satu perusahaan tambang.
"Kalau perusahaan sawit belum ada, tapi kalau perusahan tambang, walaupun mereka cuma melintas wilayah Abit tapi kami sudah merasakan dampaknya, beberapa waktu lalu perusahaan bangun dua rumah layak huni untuk warga kurang mampu," tandasnya. (*/ard)
Editor : Almasrifah