Ditemukan kesimpulan bahwa Desa Lung Anai miliki potensi pengembangan kakao yang luar biasa. Perlahan tapi pasti, membangun kemandirian desa.
Jadi salah satu produk cokelat terbaik yang berangkat dari pemberdayaan masyarakat. Dari sisi ekonomi, olahan kakao memiliki nilai yang cukup tinggi.
Dari situ, membuat PT MHU tergerak untuk lakukan intervensi. Sebab selama ini, kakao yang dipanen masih dijual dengan harga rendah. Mestinya harganya bisa lebih meningkatkan perekonomian masyarakat.
“Bekerjasama dengan Yayasan Peduli Desa Nusantara Madani. Pertama kali membuat bimbingan teknis (bimtek) fermentasi cokelat. Karena kalau cokelat yang sudah difermentasi, nilai jualnya bisa lebih dari 100 persen. Dari yang Rp 19-20 ribu per kilogram bisa jadi Rp 45-50 ribu per kilogram,” beber Community Development (Comdev) Superintendent PT MHU Muslim Gunawan.
Sebab selama ini, masyarakat setempat hanya menjual biji kakao kering tanpa proses fermentasi. Seiring waktu, mulai ke arah produk jadi atau olahan cokelat. Bukan lagi sekadar biji kakao.
“Potensi perkebunannya 400 hektare. Ditanam di area IKN, di ring 2. Tapi sayang, hampir 80 persen tanaman terkenal penyakit busuk kakao (PBK) akibat perawatan yang tidak optimal,” lanjut Muslim.
Pelatihan pasca panen pun digalakkan. Fokus pertama yakni bagaimana hasilkan kakao terbaik. Bagaimana memilih buah yang pas, tidak sekadar panen. Tidak terlalu muda pun sebaliknya.
“Kalau tradisional kan buahnya dipuntir saja, seharusnya dipotong pakai alat. Diajarin juga cara fermentasi, pelatihan awal itu sekitar September 2022,” bebernya.
Masuk ke tahap selanjutnya, pengolahan produk hingga siap saji. sampailah ke Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember.
Bagaimana membuat alat produksi skala kecil agar pemberdayaan masyarakat Dayak Kenyah Lepoq Jalan di Lung Anai bisa maksimal.
Lanjut pelatihan membuat cokelat skala rumahan pada 2023. Pelatih dari Palu, Sulawesi Tengah yang memang sudah berpengalaman di bidang terkait.
“Hebatnya, ibu-ibu di Lung Anai itu bisa langsung jadi. Bahkan pelatihnya juga surprise, karena memang lumayan sulit. Cukup bangga, karena binaan kita bisa hasilkan cokelat satu-satunya di dunia yang diolah oleh suku Dayak Kenyah,” ujar Muslim.
Berlanjut hingga berdirinya Rumah Cokelat Lung Anai sebagai tempat produksi. Diakui jika target mereka memang pada 2024 sudah harus ada produk. Dan itu terbukti. Namun memang dari segi pemberdayaan meski harus lebih banyak bersabar.
“Namanya pemberdayaan, butuh 3-5 tahun untuk mengubah pola pikir masyarakat. Dalam waktu setahun sudah punya produk. Dan bisa dibilang kelasnya premium, kalau mau dibanding dengan merk terkenal, konsentrasi cokelat Lung Anai ini paling rendah 56 persen. Sedangkan cokelat di pasaran hanya 40 persen ke bawah. Makanya itu yang buat agak mahal harganya, Rp 40 ribu per batang. Makanya ini sedang dalam proses untuk membuat formula supaya bisa hadirkan harga yang lebih ekonomis,” paparnya.
A-Z juga disiapkan, termasuk bagaimana dari sisi pengelolaan. Muslim ingin potensi itu benar-benar bisa dimaksimalkan dan dinikmati seluruh masyarakat desa. Sehingga pengelolaanya masuk ke dalam badan usaha milik desa (BUMDes).
Muslim meyakini jika olahan cokelat itu nantinya akan hasilkan omzet luar biasa. Dia juga menekankan bahwa Rumah Cokelat adalah milik masyarakat desa, bukan perusahaan pun yayasan.
“Bahasanya ini sedang membuat inkubasi bisnisnya. Supaya link-link itu terbuka. Setiap kami pameran, itu orang pada terheran-heran dan cukup laris. Setengah jam saja pameran, 100 pcs habis. Meski harga tinggi, tapi ada nilai kearifan lokal,” kata dia.
Pengenalan atau branding terus dilakukan. Prinsipnya adalah tak kenal maka tak sayang. Terdekat, juga dsiapkan untuk kerjasama business to business (B2B). Kerjasama dengan beberapa outlet di Tenggarong.
“Harapan kami bisa terus produksi. Desa menjadi mandiri sebagai penghasil cokelat satu-satunya di Kukar. Sebab jika nanti tambang sudah tidak beroperasi, masyarakat di sekitar ring 1 tambang ini bisa mandri. Pelan tapi pasti. Kami ingin jadi contoh keberhasilan masyarakat di sekitar tambang yang berdaya secara ekonomi,” pungkasnya. (*)
Editor : Almasrifah