Sumarno masih ingat. Tahun 2013 lalu, untuk mendapatkan air bersih, warga RT 35 Gunung Sari Ulu (GSU), Balikpapan Tengah mengandalkan sebuah sumur di belakang kantor lurah. Untuk mengambilnya, warga menggunakan jeriken. Meski saat itu sudah banyak rumah tangga tersambung pipa PDAM, namun airnya kerap tidak mengalir.
“Warga selama delapan tahun kesulitan air dari PDAM. Akhirnya tahun 2022 atas usulan kami, masuklah program sumur air dalam dari Kota Kita. Yang kemudian diresmikan pada 11 September 2024. Sejak itu, warga kami sudah tidak lagi kesulitan air. Air kini mengalir 24 jam. Bisa menghasilkan 2-3 liter per detik,” ungkap pria yang menjabat ketua RT 35 GSU itu, Jumat (20/9).
Kata dia, air dari program sumur air dalam tersebut sudah menjangkau ke 68 kepala keluarga (KK) di RT-nya. Namun sebelum air bisa masuk ke rumah, masing-masing warga diminta membeli meteran air. Harganya Rp 125 ribu. Lalu menyediakan jaringan pipa. Yang disebut Sumarno jika ditotal, biayanya hanya sekitar Rp 400 ribuan.
“Soalnya, di lingkungan kami sudah ada bantuan pemerintah berupa pipa paralon. Dari pipa tersebut yang kemudian disambungkan ke pipa warga. Alhamdulillah, sumber air bersih sudah dekat. Kini semua warga kami sudah tersambung air bersih dari sumur dalam tersebut,” ujarnya.
Untuk tarif yang dibebankan, untuk setiap satu kubik air dikenakan Rp 8.500. Warga akan membayarnya sebulan sekali. Baik langsung kepada kelompok pemanfaat dan pemeliharaan (KPP) air yang dibentuk. Atau melalui rekening bank yang sudah disediakan. KPP ini, kata Sumarno, diawasi oleh ketua RT, Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) hingga lurah.
“Kesepakatan kami, kalau ada yang menunggak sampai dua bulan, airnya bakal diputus. Nanti bisa disambung lagi kalau sudah membayar tanpa harus menambah beban biaya lagi,” ujarnya.
Diketahui, program Kota Kita (Kolaborasi dan Sinergi Penataan Permukiman Berkelanjutan) Balikpapan merupakan inisiasi Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Balikpapan dengan menggandeng pentahelix. Terdiri dari pemerintah, masyarakat, akademisi, swasta atau pengusaha, sampai media. Berada di RT 35, program sumur bor itu juga melayani RT 29, RT 37, dan RT 40. Namun saat ini baru RT 35 yang menikmatinya. “Permintaan sudah datang dari RT lain. Namun harus menunggu mereka siap dulu,” ucap Sumarno.
Di RT 29 misalnya, Ketua RT 29 GSU Meliana menjelaskan, untuk warganya saat ini masih dalam tahap pengumpulan dana untuk pembelian meteran air dan pipa distribusi.
Di mana setiap rumah tangga dibebankan Rp 860 ribu. Sebenarnya di RT-nya pada 2010 lalu sudah punya sumur bor sendiri. Namun debit airnya masih minim. Ditambah kualitas air yang tergolong belum layak konsumsi. Hanya digunakan warga untuk MCK (mandi cuci kakus).
“Kondisi di tempat kami sejak awal tidak bisa disambung pipa PDAM karena disebut zona merah. Sejak itu, kami swadaya membuat sumur bor. Pengelolaannya juga melalui KPP. Warga membayar 25 ribu per jamnya. Yang rumah di atas bukit Rp 25 ribu per 1,5 jam. Itu pun giliran per kelompok. Jadi tidak bisa mengalir setiap hari,” ucapnya.
Ketua KPP Air RT 29 Marten Tampang menambahkan, ada lebih dari 100 KK yang mengandalkan air sumur bor. Karena digilir, warga juga biasa membeli air tandon. Sehingga dengan adanya sumur bor dalam dari Kota Kita Balikpapan, akan meringankan beban keuangan keluarga. Warga pun tak lagi kesulitan air. Apalagi air dari sumur bor dalam Kota Kita sudah diolah sehingga layak konsumsi. “Saya saja harus rutin beli air Rp 120 ribu per tandon. Itu habis sebentar saja karena kami ada anak dan cucu,” ungkap Marten.
Jika sudah tersambung semua, diperkirakan dari program sumur bor dalam berkapasitas 36 liter per detik itu, akan mampu melayani 400 - 700 KK di GSU. Dari pengamatan Kaltim Post di lokasi, sudah disediakan empat tandon masing-masing berukuran 5.500 liter sebagai tempat penampungan. Berada di atas bukit, dipastikan tidak akan ada kendala di sisi distribusi air termasuk penggiliran aliran.
Sebelumnya, Kepala Disperkim Balikpapan Rafiuddin menyebut, tidak hanya rumah tangga, air dari sumur bor dalam itu juga turut membantu suplai air untuk SD 025 Balikpapan Tengah. Mengingat selama ini, siswa dan guru kesulitan mendapatkan air bersih. Meski sekolah berlokasi dilalui jalan utama dan terdapat sambungan pipa PDAM. “Namun kawasan GSU sulit teraliri air. Apalagi yang berada di perbukitan,” ungkapnya.
Jika warga di empat RT di GSU sudah bisa bernapas lega tidak akan lagi terkendala air bersih, namun di wilayah lain di Balikpapan masih banyak masyarakat yang kesulitan. Di daerah yang sudah tersambung pipa PDAM pun, berdasarkan pengamatan koran ini seperti di Kampung Baru, Kelurahan Batu Ampar, dan Gunung Sari Ilir, warga masih kesulitan air. Mereka terpaksa harus sabar menunggu aliran air keluar dari keran.
“Bisa sehari sampai dua hari tidak mengalir. Kalaupun ada yang mengalir kecil sekali. Itu pun sering tengah malam. Itu sudah kami rasakan bertahun-tahun,” ungkap Sumarni, warga RT 13, Kelurahan Batu Ampar, Ba
likpapan Utara.
Editor : Uways Alqadrie