Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Pesona Wisata Kubar: Batu Bura Tawarkan Camping Keluarga dengan Pemandangan Hutan Khas Kalimantan dan Arum Jeram

Sunardi Kaltim Post • Senin, 23 September 2024 | 07:10 WIB

WISATA: Bumi Perkemahan Batu Bura Kampung Lakan Bilem dipadati pengunjung. (FOTO: SUNARDI/KP)
WISATA: Bumi Perkemahan Batu Bura Kampung Lakan Bilem dipadati pengunjung. (FOTO: SUNARDI/KP)
KALTIMPOST.ID, Kabupaten Kutai Barat negeri berjuluk 'Tana Purai Ngeriman' kaya akan sumber daya alam. Tidak hanya itu kabupaten yang dimekarkan pada tahun 1999 menyimpan kekayaan berupa destinasi wisata alam dengan keindahan  khas daerah masing- masing.

Salah satu destinasi wisata alam bernama Bumi Perkemahan Batuq Bura yang terletak di kampung Lakan Bilem, Kecamatan Nyuatan, Kutai Barat. Di obyek wisata yang dibuka pada 2020, pengunjung dimanjakan dengan keindahan air sungai Lakaatn yang mengalir di jadikan pengunjung untuk mandi dan main air. Suasana alam menawarkan hutan khas kalimantan.

Destinasi wisata ini juga menawarkan permainan yang menantang nyali yakni kegiatan arung jeram menggunakan perahu karet dari hulu ke hilir mengikuti arus sungai yang mengalir.

Saat kemarau debet air turun, batuan sungai akan nampak sebaliknya saat musim hujan batuan akan tertutup seiring debet air yang naik, meski terdapat banyak bebatuan di dalam sungai, namun lokasi wisata ini terbilang cukup aman

Destinasi wisata Bumi Perkemahan Batu Bura pengunjung juga di suguhkan budaya kearifan lokal, yakni permainan Nuncunt batuq atau menyusun batu. Budaya masyarakat terdahulu yang hingga saat ini dilestarikan.

Tujuan dan manfaat Nuncunt batuq secara filosofi adalah melatih konsentrasi, kesabaran, kebersamaan, saling toleransi dan saling menghargai. Tidak ada perbedaan antara yang besar dan yang kecil, sama saling membutuhkan dan menguntungkan.

Hal itu bermakna kebersamaan adalah kesuksesan dalam menggapai cita-cita dan dalam segala hal. Permainan nuncunt batuq adalah salah satu permainan dan tradisi masyarakat Kampung Lakan Bilem setiap mereka akan mandi di Sungai Lakatn.

Akses masuk menuju kawasan wisata Batuq Bura juga cukup bagus dengan medan jalan raya yang sudah dicor.

Jarak tempuh dari pusat Kabupaten Kutai Barat, Sendawar kurang lebih 20 Km dan memakan waktu kurang lebih satu jam jika menggunakan sepeda motor.

Lokasi wisata ini juga sering dijadikan tempat camping oleh pengunjung maupun warga setempat. Lokasi wisata ini 

didukung fasilitas penunjang sudah cukup lengkap seperti gazebo, toilet umum dan penjualan makanan ringan.

Tempat wisata ini telah dikelola oleh Kampung Lakan Bilem melalui Badan Usaha Milik Kampung ( BUMK). Pengunjung masuk dengan membayar karcis masuk dan uang parkir kendaraan.

Bagi pengunjung yang mau menyewa tenda, perahu arum jeram maupun itu bayar mulai Rp 15 ribu sampai Rp 30 ribu.

Obyek wisata ini biasanya cukup ramai dikunjungi terutama saat akhir pekan dan hari libur.

Lalu kenapa destinasi wisata ini disebut dengan Bumi Perkemahan Batuq Bura. Ini sejarahnya Batuq Bura berasal dari bahasa Dayak Benuaq yang artinya Batu Putih. Berdasarkan cerita masyarakat sekitar, Batu Putih atau Batuq Bura terjadi akibat hujan deras hampir satu malam. Hujan deras mengakibatkan gunung longsor ke sungai, demikian juga gunung batu di Sungai Lakan hingga terlihat putih bebatuan yang pecah akibat longsor tersebut.

Peristiwa itu terjadi pada 1986 yang berdampak luas dan berimbas terhadap kawasan Kampung Lakan Bilem. Tempat warga mencari emas ikut terendam. Ruas jalan terputus. Akses keluar masuk kendaraan terhenti total. Tanah terkikis. Sebagian kawasan hutan yang berada di sekitar terdampak banjir bandang. Sejauh mata memandang, sungai terlihat putih karena melebarnya banjir di kawasan tersebut.

Berdasarkan peristiwa tersebut muncullah ide menamakan Batu Bura. Di kawasan ini juga berkembang kegiatan masyarakat Kampung Lakan Bilem maupun masyarakat luar kampung yang senang berkunjung ke Sungai Lakatn.

Baik hanya untuk menikmati keindahan alam dengan air sungai yang jernih, juga menangkap ikan bersama keluarga. Dari kegiatan ini tidak sedikit yang menginap dengan membuat tenda-tenda di pinggir sungai.

Dari sinilah berawal ide Pemerintah Kampung  Lakan Bilem yang saat itu dipimpin Petinggi Yosianus Moja. Dia berusaha mengembangkan kearifan lokal dengan membangun kawasan Batu Bura menjadi Bumi Perkemahan Batu Bura.

 

 

 

Editor : Uways Alqadrie
#Pemkab Kutai Barat #Bumi Perkemahan Batuq Bura di Kutai Barat