KALTIMPOST.ID, Pagi kemarin warga Jatiasih, Bekasi, dikejutkan oleh penemuan tujuh mayat yang mengambang di Kali Bekasi. Diduga kuat, ketujuh korban adalah remaja yang terlibat dalam kelompok yang ingin tawuran.
Penemuan ketujut mayat ini bermula ketika ada seorang ibu yang juga anggota komunitas pencinta kucing mencari peliharaannya yang hilang. Priadi Santoso, kepala pelaksana (kalak) BPBD Kota Bekasi, menuturkan pada pukul 07.00 warga melaporkan adanya penemuan jenazah.
Lokasi penemuan berada di Kali Bekasi, di belakang Masjid Al Ikhlas, kawasan perumahan di Jatirasa, Jatiasih. Saksi yang saat itu tengah mencari kucing anggoranya miliknya tak sengaja melihat beberapa tubuh mengambang di air.
“Saksi 2 mengecek di kali tersebut dan mendapati benar telah ditemukan lima mayat, yang selanjutnya saksi 2 memberitahukan info kepada saksi 1. Saksi 1 melapor ke Polsek Jatiasih, Koramil, dan BNPB,” ucap Priadi.
Usai penemuan lima mayat, kembali ditemukan dua mayat tambahan di lokasi yang sama. Kondisi kedua mayat ini mirip dengan yang sebelumnya, yaitu tubuh mengambang bercampur lumpur, dengan wajah membengkak.
Hingga kini masih ditelusuri asal usul para korban yang tewas di lokasi. Priadi menyebut, pihaknya mendapat informasi tentang ada tawuran pada Sabtu (21/9) dini hari dan ini terkait dengan penemuan mayat tersebut.
“Informasi itu di pukul 03.00 WIB pada Sabtu (21/9) dini hari ya itu memang di malamnya ada kejadian tawuran. Di jam 03.00 itu ada katanya beberapa. Mungkin ada pengejaran, lompat ke Kali Bekasi,” terangnya, Minggu (22/9).
Dia menuturkan, pihaknya belum mengetahui tempat terjadinya tawuran tersebut. Namun, di Kawasan Pondok Gede, Bekasi, beberapa anak telah ditangkap terkait insiden tawuran tersebut.
“Titik pasnya kejadian tawuran tidak tersampaikan tapi warga menyatakan di sekitaran RW Pondok Gede ada juga penangkapan anak-anak (tawuran),” ucapnya.
Adapun pihak kepolisian belum dapat simpulkan soal dugaan terkait tawuran. Polisi masih menunggu penyelidikan lebih lanjut.
“Kami masih proses pendalaman, masih kita lakukan penyelidikan. Kami belum bisa menyimpulkan, masih mendalami,” ucap Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Audy Joize Oroh, Minggu (22/9).
Lanjut Audy, hingga kini pihaknya masih memeriksa beberapa saksi untuk ungkap identitas korban.
“Kita sudah lakukan pemeriksaan saksi, estafet, untuk cepat identifikasi penemuan jenazah itu siapa. Ketujuh jenazah sudah di RS Polri untuk diidentifikasi,” ucapnya.
Kapolda Metro Jaya Irjen Karyoto mengungkap ketujuh orang yang ditemukan tewas di Kali Bekasi diduga menceburkan diri ke sungai karena ketakutan saat polisi melakukan patroli pada Sabtu (21/9) dini hari. Dalam kasus ini akan dilibatkan Propam Polri dan Kompolnas.
“Menurut informasi sekilas adalah bahwa ini adalah salah satu yang menjadi kemarin malam itu yang sudah bisa diambil keterangan memang mereka menceburkan diri ke sungai karena adanya ketakutan, ketakutan adanya patroli yang lewat atau yang menegur, menegurnya sejauh mana ini sedang kami dalami oleh Propam," ujarnya, Minggu (22/9).
Karyoto menegaskan bahwa patroli tersebut sudah dilakukan dengan tepat, mengingat situasi tawuran di wilayah hukum Polda Metro Jaya cukup serius.
"Karena yang rekan-rekan pahami kejadian tawuran di seluruh wilayah hukum Polda Metro itu cukup serius, banyak sekali adik-adik kita, generasi muda, dalam artian masih sangat muda yang jadi korban. Jakarta, Bekasi, Depok itu banyak," tuturnya.
"Sehingga kami langkah patroli ini sudah betul, saya katakan patroli ini tidak salah dan kenapa patroli lewat sini karena memang patroli ini datangnya 03.00 WIB, tapi kalau orang normal, dalam keadaan jam-jam segitu tentunya istirahat dan ini juga anak-anak yang masih di bawah umur dan ada juga sudah di atas 18 tahun, memang tadi identifikasi belum kami temukan semua," imbuhnya.
Dia menyebut, korban yang meninggal bukanlah warga sekitar, melainkan dugaannya warga Bantargebang.
"Yang jelas anak-anak ini bukan warga sekitar sini, Bantargebang, saya nggak tahu jaraknya, sekitar 2 km, yang dipertanyakan kenapa pukul 03.00 adik-adik ini masih di sini. Secara pribadi saya prihatin," bebernya.
Dalam hasil patrol tersebut, polisi berhasil mengamankan 15 orang yang diduga hendak terlibat tawuran. Dari jumlah tersebut, tiga orang ditetapkan tersangka karena kedapatan membawa senjata tajam (sajam).
"15 orang (diamankan), yang ditetapkan tersangka 3 orang karena membawa sajam," ujarnya.
Pihaknya masih mendalami tujuan para pemuda yang berkumpul di lokasi hingga dini hari tersebut. Ia juga mengonfirmasi bahwa memang ada patroli polisi di kawasan Jatiasih pada waktu itu.
Adapun informasi awal, ada dugaan tujuh orang yang ditemukan tewas di Kali Bekasi ceburkan diri karena takut tertangkap patroli. Polisi juga tengah mendalami ketujuh korban ini terkait langsung dengan aksi tawuran.
"Berapa orang yang datang di sini kan akan diketahui. Datang ke sini naik motor ini, dengan ini nanti akan ketahuan," ungkapnya.
Karyoto belum bisa memastikan apakah ada pelajar yang terlibat dalam insiden tersebut. Namun, ujar dia, salah satu saksi yang ada saat kejadian turut ikut di TKP.
"Kalau kita tidak ada saksi, saya tidak akan yakin, tahu dari petugas saya cerita. Kalau ini saksi betul-betul real orang yang terlibat di dalam kejadian ini kita tanyakan," ujarnya.
Menurut keterangan saksi, ia sempat melihat konvoi motor yang membawa senjata tajam di sekitar lokasi. Aldo nama saksi itu menuturkan gerombolan bermotor itu diteriaki "begal" oleh warga sekitar. Jadi sebagian ada yang lompat ke kali.
Awal kejadiannya kebetulan saya lagi nyari makan, ngeliat banyak banget motor 25 motor, saya memang ngitung 25 motor, mereka konvoi bawa sajam," kata warga setempat, Aldo (19), Minggu (22/9).
"Itu kelompok yang sama dan mereka diteriaki oleh warga begal. Jadi sekitar, kalau nggak salah, enam motor datang ke sini, diteriaki begal langsung lompat ke situ," terangnya.
Aldo menduga bahwa orang-orang yang melompat ke Kali Bekasi bukanlah warga sekitar karena warga sekita sudah tahu pasti ada kali yang dalam di Lokasi tersebut.
"Karena kalau orang sini itu tau kalau kalinya itu dalam dan arusnya gede. Berarti kemungkinan itu bukan orang sini, itu orang kampung lain," ucapnya.
Kabid Yandokpol RS Polri Kombes Pol Herry Wijatmoko menyebut proses pembusukan sudah mulai terlihat di tubuh jenazah karena terendam air 24 jam.
"Jadi dari pemeriksaan awal ketujuh jenazah tersebut, memiliki ciri yang sama, hampir sama, satu terendam air, juga proses pembusukannya sudah muncul. Jadi air itu suhunya rendah, sehingga akan sudah diambil, dia akan proses pembusukan berjalan, jadi setidaknya 24 jam," kata Herry, Minggu (22/9).
Direskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Wira Satya Triputra, menyebut, berdasarkan pemeriksaan sementara kondisi jenazah tidak ditemukan luka terbuka.
"Dari hasil sementara tidak ditemukan luka terbuka kepada ketujuh jenazah dan tidak ada patah tulang pada alat gerak, cuma itu saja dari hasil diskusi hasil pemeriksaan sementara, terhadap tujuh jenazah," ucap Wira.
Walau demikian, Wira berharap seluruh pihak menunggu hasil pemeriksaan dari Pudokkes Polri. Dia menyebut proses identifikasi jenazah tengah diupayakan.
"Kalau identifikasi masih belum, ada beberapa yang belum teridentifikasi. Nanti detail sama Pusdokkes saja ya," ujarnya.