Tidak ingin hanya andalkan penghasilan dari suami, Nurul coba mencari keran pemasukan lain. Inspirasi usahanya datang dari bawang dayak. Dijelaskan jika keluarganya sudah lama mengonsumsinya. Dia beli dari petaninya dan diolah menjadi kapsul. Selain itu, Nurul juga memang terbiasa membuat jamu. Sehingga akrab dengan berbagai tanaman herbal.
Dari segi khasiat kesehatan juga sangat dirasakannya. “Kok bawang dayak ini begitu-begitu saja diolahnya. Apalagi kita ini orang Kalimantan. Seharusnya tanaman herbal khas ini tetapeksi. Jadi coba lah saya olah,” jelasnya.
Di sisi lain, petani bawang dayak juga tak banyak. “Ibaratnya buat apa mereka menanam kalau tidak ada yang membeli. Jadi makanya enggak banyak petaninya. Akhirnya coba tanam sendiri juga, berdayakan lahan kosong di dekat rumah. Kemudian juga ikut sekolah bisnis,” lanjutnya.
Dari sana, pemikirannya semakin terbuka. Mendapat arahan dan dukungan untuk bisa melangkah maju menjadi pengusaha. Diakui saat ikut sekolah bisnis itu dia memang belum memiliki produk. Dan berencana mengangkat bawang dayak. Ternyata diakui tak mudah.
“Saat itu belum banyak yang mengolah bawang dayak dengan berbagai campuran di akhir 2019. Coba cari tahu di internet juga belum banyak infonya. Nanti kalau saya campur-campur, bakal keracunan enggak ya. Keliling ke beberapa toko oleh-oleh, ada yang mengolah bawang dayak tapi dicampur krimer. Bukan sesama herbal. Jadi benar-benar coba bikin formulanya sendiri,” paparnya.
Memantapkan hati pada 2020, beberapa produk dia keluarkan. Olahan jamu dan teh celup. Perlahan aktif mengikuti bazaar dan expo. Namun tak berapa lama, pandemi melanda. Ajang pameran ditiadakan. Wadahanya untuk perkenalan hilang.
“Waktu itu belum klaim kesehatan, karena kan belum ada BPOM. Masih rumahan. Jadi klaimnya sebagai minuman khas Kalimantan. Karena pandemi, jualan lewat digital. Adaptasi dengan digitalisasi, eh alhamdulillah membuahkan hasil. Bahkan minuman saya cocok buat mereka yang isolasi mandiri (isoman) kala itu, karena ada jahenya kan,” kata dia.
Dijelaskan perlahan mulai rekrut karyawan. Dari omzet Rp 3,5 juta menjadi Rp 35 juta. Semakin berkembang dan terus inovasi. Kini ada berbagai macam produk. Tea bag dengan tiga varian rasa, original, madu dan lemon. Lalu serbuk original dan kopi, hingga ready to drink. Terbaru, dia sedang mengembangkan permen bawang dayak.
Aktif di media sosial mengantarkan usahanya Bungas Wedang Dayak dikenal oleh buyer asal Singapura. Sejak 2021 intens komunikasi, dan baru closing akhir Desember 2023 karena terkendala pandemi. Sehingga barang masuk cukup dibatasi di negara Singa kala itu.
Total sudah dua kali pengiriman. Walau Nurul menyebut, nilainya masih kecil. Namun dia bersyukur kerjasamanya dengan buyer Singapura itu berlanjut. Pada event Malaysia International Halal Showcase (MIHAS) baru-baru ini, berhasil menandatangani Letter of Intent (LoI) untuk 50 kilogram minuman herbal.
“Jadi pakcik itu berangkat dari Singapura ke Malaysia. Dan bersyukur, waktu itu beliau enggak ada minta sampel pas awal kirim akhir 2023. Jadi memang sudah percaya. Padahal belum ada bayangan, bagaimana sih rasanya wedang dayak ini. Ternyata alhamdulillah cocok. Jadi dia memang punya toko, dan suplai minuman herbal di sana,” jelasnya.
Ke depan, untuk kerjasama masih terus berlanjut. Disebutkan jika buyer Singapura ini yang akan memegang daerah Malaysia. Termasuk ketika ada permintaan dari Batam, buyer Singapura itu yang juga akan suplai.
“Jadi satu pintu. Saya cukup ke pakcik ini, dan beliau yang suplai. Ada potensi juga di Filipina, nah pakcik ini juga yang akan berangkat ke sana untuk penjajakan. Jadi satu buyer ini yang betul-betul saya pegang. Bangun hubungan dan jaga komunikasi. Sehingga sama-sama saling bantu. Kalau ada potensi di luar kontak ke saya, pakcik ini bisa suplai, ya jadi ke pakcik ini saja. Jadi ya bantu cari pasar juga,” kata perempuan kelahiran 1988 itu.
Untuk stok bahan baku, sejauh ini dia kerjasama dengan enam petani. Tersebar di Balikpapan, Samarinda dan Banjarmasin. Jika permintaan meningkat apalagi untuk pasar ekspor, Nurul juga sudah melirik petani di daerah Kutai Kartanegara.
“Harapannya bisa memberdayakan lebih banyak petani bawang dayak. Karena mereka ini mulanya bisa mengolah lahan seluas-luasnya dengan menanam di sawah. Tapi sudah enggak bisa, jadi menanam bawang dayak. Tapi kalau mereka panen enggak ada yang beli, gimana?” sebutnya.
Nurul juga turut memberi pelatihan untuk masyaralat di sekitar Taman Nasional Kutai (TNK). Mengajarkan mengolah jamu bawang dayak hingga amplang. Sehingga potensi ekonomi lebih besar dengan pengolahan pasca panen. Dia berharap bisa lebih banyak usaha yang memanfaatkan bawang dayak.
Editor : Uways Alqadrie