Bermula dari gabung di Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI). Enam tahun lalu, Ali masih membawa berbagai macam komoditas potensi ekspor saat ikut TEI. “Jadi masih mencari apa yang cocok. Setelah dari TEI itu saya putuskan bisnis yang cocok adalah kemiri,” jelasnya.
Kemudian memutuskan membuka pabrik kemiri di Pinrang, Sulawesi Selatan. Alasannya karena lebih dekat dengan lokasi bahan baku. Hasilnya dikirim ke Makassar dan Balikpapan untuk dipasarkan kembali.
“Jadi saat TEI 2019, saya sudah bawa kemiri. Nah dapat buyer dari Hongkong, setelah itu rutin ekspor tapi kemudian stop. Karena pecah kongsi sama yang handle di Pinrang, namanya dagang kan pasti ada hal-hal di luar yang enggak bisa kita kendalikan. Akhirnya sekitar 2021 saya tarik semua mesin dan alat ke Balikpapan. Jadi buat pabrik di daerah Manggar,” lanjut dia.
Meski begitu, komunikasi masih dia jaga dengan baik dengan buyer Hongkong. Kini, dia siap kembali ekspor, sebab sudah mulai di tahap diskusi untuk negosiasi kembali. Sejauh ini pasarnya masih lokal Balikpapan. Suplai rutin di tiga pasar yakni Pandan Sari, Manggar dan Sepinggan. Dalam seminggu, permintaan mulai 600 kilogram hingga satu ton.
“Ini saya baru aja suplai 100 kiloan. Jadi permintaannya memang tinggi. Di sisi lain, pemainnya masih sedikit. Jadi memang suplai bisa banyak. Ini belum pasar Samarinda, kalau sampai sana tentu lebih banyak lagi,” katanya Rabu (25/9).
Potensi ekspor semakin terbuka lebar imbas keikutsertaannya pada ajang pameran halal terbesar di dunia, Malaysia International Halal Showcase (MIHAS) 17-20 September. Diakui jika tahun lalu, Ali sudah riset dan datang sebagai visitor di acara serupa.
“Kemudian ketika Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (DP2KUKM) ikut serta, saya juga pengin diajak join. Coba daftar dan setelah dikurasi alhamdulillah lolos. Saya bawa produk kemiri dan turunannya minyak kemiri dan gula aren dengan turunannya gula aren cair dan gula semut,” beber pria kelahiran 1988 itu.
Ternyata, potensinya begitu besar. Utamanya adalah gula aren. Pengunjung yang datang tertarik dengan gula aren milik Ali. Padahal yang dia bawa hanya dua bonggol sebagai sampel. Setelah mendapat info, ternyata pemanis dari pohon nira itu cukup langka di Malaysia. Sehingga tak heran menjadi primadona.
“Di kita kualitas itu juga oke. Mau cari yang original juga cukup mudah di pasaran. Ternyata di sana (Malaysia) itu susah. Jadi rebutan ibu-ibu pengunjung di sana. Ada potensi buyer juga, tapi harga masih belum sepakat. Karena saya tawarkan per kilogram itu RM 20 atau RP 72 ribu, mereka maunya di harga Rp 23 ribu. Jauh sekali. Padahal harga edar di sana RM 60 atau Rp 219 ribuan. Ya namanya bisnis kan tawar-menawar dan pengin margin gede. Makanya masih belum deal karena harga belum cocok,” kata dia.
Pasca kepulangannya ke Indonesia, mulai banyak buyer yang menghubungi untuk kerjasama. Ada pula yang ingin memesan dalam jumlah banyak, bukan hitungan per kemasan satu kilogram tapi satu karung 25 kilogram. Untuk campuran kopi. Masih tahap negosiasi pula.
“Kalau yang kemiri, ada yang tertarik dengan minyaknya. Perusahaan farmasi, mau dijadikan untuk bahan campuran sampo. Masih diskusi juga, jadi ini sibuk follow up alhamdulillah,” sebutnya lalu terkekeh.
Bicara hilirisasi produk, Ali mengaku masih fokus pada produk yang ada sekarang. Utamanya juga agar tak ada limbah dengan memanfaatkan seluruh proses pengolahan. Contoh, untuk kemiri yang disuplai ke pasar adalah jenis bulat utuh dan pecahan. Sedangkan yang menir atau remahan dia olah menjadi minyak.
“Ini lagi riset, rencana ampas dari pembuatan minyak kemiri itu mau dijadikan bahan tambahan pangan. Tapi ini masih proses. Jadi memang supaya tidak ada yang jadi limbah,” tutupnya.
Editor : Uways Alqadrie