Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kisah Tati Sumiyati, Istri Perwira yang Berani Mengungkap Aktivitas PKI di Tengah G30S

Dwi Puspitarini • Senin, 30 September 2024 | 11:20 WIB

 

Tati Sumiyati Darsoyo, istri Letkol Darsoyo, memainkan peran penting dalam membantu mengungkap markas kelompok yang berafiliasi dengan PKI.
Tati Sumiyati Darsoyo, istri Letkol Darsoyo, memainkan peran penting dalam membantu mengungkap markas kelompok yang berafiliasi dengan PKI.

 

KALTIMPOST.ID, Peristiwa G30S PKI pada 30 September 1965 menjadi salah satu momen paling kelam dalam sejarah Indonesia.

Di tengah gejolak politik dan militer, seorang perempuan bernama Tati Sumiyati Darsoyo, istri Letkol Darsoyo, memainkan peran penting dalam membantu mengungkap markas kelompok yang berafiliasi dengan PKI.

Sehari setelah peristiwa G30S terjadi, Tati dipanggil ke kediaman Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Mayjen Soeharto di Jalan Agus Salim, Menteng, Jakarta Pusat.

Pada saat itu, suaminya yang menjabat sebagai Komandan Batalyon Kostrad Zeni Tempur VII sedang bertugas di Medan, Sumatera Utara. Tati pun tinggal di rumah bersama anak-anaknya.

 Baca Juga: Peristiwa G30S PKI: Percobaan Kudeta yang Mengakhiri Partai Komunis di Indonesia

Dalam bukunya Pak Harto: The Untold Stories, Tati mengungkapkan bahwa Mayjen Soeharto memberikan perintah agar ia tidak keluar rumah dan bersiap untuk diungsikan jika situasi semakin memburuk.

"Pak Harto meminta saya untuk tidak keluar rumah dan menyiapkan pakaian secukupnya," kata Tati dalam kesaksiannya.

Suasana Jakarta kala itu sangat genting setelah pembunuhan sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat.

Mayjen Soeharto segera bergerak untuk memulihkan situasi keamanan. Sementara itu, rumah Tati yang terletak di Jalan Waringin, Menteng, berdekatan dengan markas Sabutri (Serikat Buruh dan Tani), sebuah organisasi yang berafiliasi dengan PKI.

 Baca Juga: MPR Cabut Nama Soeharto dari TAP MPR 11/1998 dan Pulihkan Nama Baik Gus Dur: Upaya Rekonsiliasi Nasional

Tati mulai curiga ketika ia melihat aktivitas mencurigakan di markas Sabutri. Para pemuda berseragam Pemuda Rakyat, organisasi sayap PKI, keluar masuk tanpa henti, baik sebelum maupun setelah peristiwa G30S.

“Bendera-bendera Sabutri berkibar, dan markas mereka tetap ramai meski situasi mencekam,” kenang Tati.

Melihat aktivitas yang tidak wajar itu, Tati berani melapor kepada Garnisun Ibu Kota, meskipun pada saat itu tidak ada pengawasan dari pihak keamanan di sekitar markas.

Laporannya langsung ditindaklanjuti, dan rumah Tati pun dijadikan pos pengintaian oleh aparat keamanan.

Tak lama setelah laporan Tati diterima, aparat keamanan mulai memantau aktivitas di sekitar markas Sabutri.

Beberapa hari kemudian, mereka melakukan penggerebekan di markas tersebut. Hasilnya, sekitar 40 pemuda bersenjata tajam dan api berhasil diamankan.

Selain menangkap para pemuda tersebut, aparat juga menemukan lubang besar di dalam markas yang diduga akan digunakan untuk aktivitas politik gelap PKI.

Tati mengungkapkan bahwa lubang tersebut mungkin akan digunakan untuk menimbun lawan-lawan politik mereka.

“Suatu hari pengurus Sabutri meminta izin memperbaiki saluran air. Mungkin lubang itu akan digunakan untuk kepentingan politik mereka,” ungkap Tati.

Penggerebekan markas Sabutri ini menjadi salah satu langkah penting dalam menekan gerakan PKI pasca meletusnya G30S.

Tindakan berani Tati melaporkan aktivitas mencurigakan di lingkungan sekitar rumahnya turut membantu memutus jaringan PKI di wilayah tersebut.

Keberhasilan TNI Angkatan Darat dalam mengatasi situasi ini diakui oleh banyak pihak. Menurut Mayjen (Purn) Soetoyo NK, yang saat itu masih menjadi taruna Akademi Militer Nasional, Soeharto berhasil mengendalikan keadaan pasca G30S hanya dalam waktu kurang dari 12 jam.

“Pak Harto mampu membalikkan keadaan, menguasainya, dan menjadikan TNI AD sebagai pihak yang menekan,” ungkap Soetoyo dalam buku yang sama.

Keberhasilan ini memperkuat posisi Soeharto di kalangan militer dan politik Indonesia pada saat itu.

Kisah Tati Sumiyati bukan hanya sekadar peran istri seorang perwira militer, tetapi juga menunjukkan keberaniannya dalam situasi yang penuh ketegangan.

Tindakan cepatnya berkontribusi besar dalam mengungkap aktivitas PKI di tengah kekacauan.(*)

 

Dapatkan info dan berita update lain dari Kaltim Post. Gabung/join dengan klik >> Whatsapp Channel Kaltim Post

Editor : Dwi Puspitarini
#istri Letkol Darsoyo #Peristiwa G30S PKI #Berani Mengungkap Aktivitas PKI di Tengah G30S #pangkostrad #Kisah Tati Sumiyati #Istri Perwira #Serikat Buruh dan Tani