Minyak goreng yang dia produksi dengan cara sederhana ternyata tidak bertahan lama. Sebab hanya berbekal pengetahuan dari orangtua secara turun temurun. Setelah satu bulan, aromanya berubah menjadi tengik. Maka ketika ada pelatihan terkait, Ramlah antusias sebagai peserta.
"Awal mula itu kami jadi binaan perusahaan minyak. Sasarannya memang petani kelapa, pelatihan membuat minyak kelapa yang bagus atau standar untuk dijual. Itu sekitar tahun 2017. Kalau saya sendiri, punya kebun kelapa seluas lima hektare," ungkap Ramlah.
Dia juga menjual kelapa muda. Nah, kelapa tua atau yang kering itulah yang diolah. "Ceritanya kelapa sisa tapi ya masih bagus, cuma memang sudah kering. Itu awal mula buat minyak kelapa, jadi dibentuklah kelompok usaha," lanjutnya.
Terbentuklah Kelompok Tani Bunga Lestari, Kelurahan Tanjung Tengah, Penajam. Jumlah anggotanya 20 orang. Perusahaan minyak yang dimaksud juga membantu proses administrasi usaha. Perizinan dan segala macamnya. Sehingga benar-benar siap untuk beredar di pasaran.
Jika kelapa dari kebun sendiri tak banyak, Ramlah juga membeli dari masyarakat setempat. Utamanya tentu kelapa kering yang memang kebanyakan tak dilirik. Pasarnya masih seputaran lokal. Perlahan, permintaan juga mulai naik seiring dengan banyaknya orang yang mulai mengenal produk olahan Ramlah.
"Nama mereknya Minyak Kelapa Tanjong. Kemudian pas zaman Covid-19, saya cari tahu sendiri cara buat minyak kelapa murni (VCO). Belajar mandiri, karena kan masih satu proses dan satu turunan. Bedanya ada proses fermentasi sehingga hasil akhirnya berbeda," jelas perempuan kelahiran 1976 itu.
Selain minyak goreng dan VCO, inovasi lain juga dilakukan. Hingga lahirkan produk kue kering dari kelapa hingga kelapa sangrai. Semuanya memiliki segmentasi pasar masing-masing. Namun diakui Ramlah, VCO yang paling tinggi permintaannya, apalagi luar daerah.
"Bisa dibilang memenuhi permintaan lokal saja kuotanya belum mampu. Masuk lagi permintaan dari Jawa untuk kerjasamanya. Minta suplai seribu pcs VCO ukuran 100 mililiter (ml) setiap bulan. Masih belum mampu, karena dari segi mesin dan bahan baku," paparnya.
Dia juga tak mau menyia-nyiakan hal itu. Sehingga perlahan, dari segi kapasitas produksi pun dibenahi. Dia juga menampung hasil minyak kelapa goreng masyarakat setempat. Yang kemudian dia olah kembali hingga dari segi kualitas naik kelas.
"Produksi pasti seminggu sekali, kalau permintaan tinggi bisa lebih. Sekali prdouksi itu bisa 10-20 liter dari 100-200 biji kelapa. Di Samarinda juga kerjasama dengan Dinas Perkebunan untuk di Toko Kebun," sambung Ramlah.
Kendala lain juga datang dari segi harga. "Untuk hasilkan satu liter minyak goreng kelapa itu butuh 10 kelapa, satu bijinya orang jual Rp 4.500. Sedangkan satu liter minyak kelapa goreng itu Rp 40 ribu. Makanya untuk nilai ekonomi lebih, bagusnya dijadikan VCO," pungkasnya.
Editor : Uways Alqadrie