Museum Etnografi Sendawar adalah museum pertama yang Kabupaten Kutai Barat. Didirikan berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 06 Tahun 2010. Posisinya di area perkantoran Pemkab Kutai Barat, tepatnya di Kompleks Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora).
Pada 2016, pengelolaan Museum Etnografi Sendawar dipindah alih oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah ( UPTD). Plt Kepala UPT Museum Etnografi Sendawar Herold Lasky melalui Kasubag TU Akhmad Bey Noorliansyah mengatakan, museum ini menyimpan ratusan jenis koleksi berupa peninggalan etnografi dari enam sub-etnis dayak di Kutai Barat. Mulai dari Etnis Tunjung, Benuaq, Bahau, Aoheng, Kenyah, dan Melayu.
"Sebelum pemekaran Kabupaten Mahakam Ulu, enam etnis masuk Kutai Barat. Namun hingga sekarang masih tersimpan koleksi enam etnis di museum," ungkapnya, Sabtu (12/10).
Ditambahkannya, museum ini banyak menyimpan berbagai benda bersejarah dan benda yang bernilai kearifan lokal turun temurun, serta peninggalan leluhur suku Dayak. Seperti senjata tradisional, alat menangkap ikan, alat musik, alat pertanian, alat ritual bersejarah, ornamen-ornamen buatan suku dayak, pakaian adat, guci, miniatur lamin, lungun, dan tempelaaq (wadah peti mati khas dayak), serta banyak lagi koleksi lain yang tertata rapi di dalamnya.
"Sampai sejauh ini, pengunjung museum masih didominasi oleh kalangan pelajar, mahasiswa, yang menyelesaikan tugas akhir, di samping pengunjung dari luar daerah dan mancanegara," ungkapnya.
Terkait jam pelayanan, saat ini dibuka dari Senin hingga Jumat. Sementara Sabtu dan Minggu tutup. "Namun apabila ada masyarakat yang ingin mengunjungi museum pada Sabtu dan Minggu, kami siap melayani. Namun pengunjung wajib menyampaikan terlebih dahulu ke UPT agar kami bisa siapkan petugas untuk membantu," terangnya.
Sejauh ini dalam pengelolaan Museum Etnografi diakuinya ada beberapa kendala. Khususnya terkait koleksi yang bahan utama banyak terbuat dari kayu. Setelah beberapa tahun, mesti direvitalisasi. Dan ini cukup sulit mencari perajinnya.
Pada kesempatan ini juga pihak museum berharap kehadiran pelajar untuk berkunjung agar mengenal beberapa koleksi-koleksi peninggalan etnografi yang pernah dimiliki masyarakat zaman dulu dengan peralatan yang sangat tradisional.
"Agar pelajar sekarang ini tidak lupa dengan peralatan yang pernah digunakan oleh nenek moyangnya dulu, karena kita harus meningkatkan dan melestarikan adat istiadat kita di Kutai Barat," pungkasnya.( dwi)
Editor : Duito Susanto