Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Profil Pemimpin Tertinggi Hamas Yahya Sinwar: Musuh Bebuyutan Israel yang Tewas Dalam Serangan di Gaza

Hernawati • Jumat, 18 Oktober 2024 | 15:30 WIB
Pemimpin Tertinggi Hamas Yahya Sinwar.
Pemimpin Tertinggi Hamas Yahya Sinwar.

KALTIMPOST.ID, Israel telah mengumumkan Pemimpin Hamas tertinggi Yahya Sinwar tewas dalam serangan di Rafah, wilayah di bagian Selatan Jalur Gaza, Rabu (16/10).

Dalam serangan tersebut, ada tiga anggota Hamas yang tewas, salah satunya Yahya Sinwar.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Yahya Sinwar merupakan aktor di balik serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 lalu.

Ia juga menyebut walaupun Yahya Sinwar telah terbunuh, itu bukan berarti perang di Gaza sudah berakhir. Terkecuali Hamas mau menyerah dan membebaskan seluruh sandera.

Dilansir dari Middle East Monitor, Netanyahu mengatakan tewasnya Yahya Sinwar menjadi pukulan berat bagi Hamas.

“Setelah pengejaran selama satu tahun, para pasukan saya yang berani akhirnya bisa menghabisi Yahya Sinwar. Dalang dari serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023,” ucapnya, Jumat (18/10).

Namun, sejauh ini Hamas belum mengeluarkan pernyataan mengenai tewasnya Yahya Sinwar.

Berikut profil Pemimpin Hamas Yahya Sinwar yang terbunuh oleh Israel.

Profil Yahya Sinwar

Yahya Sinwar lahir pada 29 Oktober 1962 di kamp pengungsi Khan Younis di Selatan Jalur Gaza.

Ia merupakan lulusan Universitas Islam di Gaza dengan jurusan Studi Arab, tempat dia pertama kali menyukai politik dan aktivitas mahasiswa.

Kemudian di tahun 1982 Yahya Sinwar ditangkap untuk pertama kalinya oleh Israel karena terlibat dalam aktivisme anti-pendudukan.

Lalu pada 1987 Yahya Sinwar bertemu Sheikh Ahmed Yassin yang kemudian mendirikan Hamas sekitar waktu intifada Palestina pertama dimulai.

Di Hamas Yahya Sinwar bertugas untuk memimpin Munazzamat al-Jihad w’al-Dawa atau Majd, yang didedikasikan untuk mengusir dan membunuh tanpa ampun—terkadang membunuh—warga Palestina yang memberikan informasi kepada Israel.

Lalu pada 1988 Yahya Sinwar kembali ditangkap pasukan Israel dan dijatuhi hukuman seumur hidup. Dia dituduh terlibat dalam penangkapan dan tewasnya dua tentara Israel dan empat tersangka mata-mata Palestina.

Selama dipenjara Yahya Sinwar mempelajari bahasa Ibrani, sering membaca surat kabar Israel, dan mendalami politik budaya Israel.

“Menjadi seorang pemimpin di dalam penjara memberinya pengalaman dalam negosiasi dan dialog. Dia memahami mentalitas musuh dan cara mengatasinya,” ucap rekan Yahya Sinwar selama mendekam di penjara, seperti dilansir Associated Press, Jumat.

Yahya Sinwar juga menulis buku The Thorn and The Carnation. Ia menulis buku terinspirasi oleh hidupnya sendiri selama tumbuh di Jalur Gaza.

Kemudian pada 2011 Netanyahu menyetujui kesepakatan untuk membebaskan sekitar 1.047 tahanan, termasuk Yahya Sinwar, ia menjadi paling senior dari ribuan tahanan tersebut, dengan imbalan Gilad Shalit, tentara Israel yang ditahan Hamas.

Usai bebas dari penjara, Yahya Sinwar terpilih menjadi Kepala Biro Politik Hamas. Secara khusus Yahya Sinwar ditugaskan untuk berkoordinasi dengan Brigade Qassam, sayap bersenjata Hamas.

Yahya Sinwar bekerja sama dengan Ismail Haniyeh untuk menyelaraskan Hamas dengan Iran dan Hizbullah.

Saat menjadi pemimpin Hamas, Yahya Sinwar terlibat dalam politik maupun pembangunan kekuatan militer.

Amerika Serikat (AS) kemudian melabeli Yahya Sinwar sebagai teroris global. Yahya Sinwar terpilih sebagai kepala Hamas menggantikan pendahulunya Ismail Haniyeh.

Yahya Sinwar dapat julukan “dead man walking atau orang mati berjalan”.

Tanggapan AS dan Iran atas Tewasnya Yahya Sinwar

Dilansir dari laman resmi Gedung Putih, Joe Biden menyebut telah mendapat informasi bila Yahya Sinwar tewas.

Menurut Joe Biden, Yahya Sinwar bertanggung jawab atas meninggalnya ribuan warga Israel, Palestina, AS, dan warga lebih dari 30 negara.

Usai konflik Hamas dengan Israel pecah pada 7 Oktober, Joe Biden memang menugaskan personel khusus dan professional intelijen untuk membantu menemukan Yahya Sinwar yang bersembunyi di Gaza.

“IDF tanpa berhenti mengejar pemimpin Hamas,” ucap Joe Biden.

Di sisi lain, Iran lewat perwakilannya di PBB mengatakan tewasnya Yahya Sinwar jadi semangat perlawanan para pemuda dan anak-anak. Mereka yang akan meneruskan perjuangan untuk membebaskan Palestina.

“Selama pendudukan dan agresi masih ada, perlawanan akan terus berlanjut,” ucap Iran dilansir Al-Arabiya.

Editor : Hernawati
#benjamin netanyahu #yahya sinwar tewas #Israel #pemimpin hamas #Yahya Sinwar