Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Ketika Emosi Meledak: Pelajaran Psikologi dari Insiden Tragis Polisi Tembak Polisi di Polres Solok Selatan

Erwin D. Nugroho • Minggu, 24 November 2024 | 14:33 WIB

 
Dadang Iskandar, pelaku penembakan sesama rekan polisi. Apa tinjauan psikologi dari tindakan ini?
Dadang Iskandar, pelaku penembakan sesama rekan polisi. Apa tinjauan psikologi dari tindakan ini?

KALTIMPOST.ID, Dunia kepolisian dikejutkan oleh peristiwa tragis di Polres Solok Selatan, Sumatera Barat. Pada 22 November 2024, AKP Dadang Iskandar, seorang perwira polisi, melepaskan tembakan yang merenggut nyawa rekannya sendiri, AKP Ulil Ryanto Anshari.

Insiden ini, yang diduga dipicu oleh konflik terkait kasus hukum, bukan hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga pertanyaan besar: bagaimana mungkin seorang profesional yang terlatih bisa kehilangan kendali hingga melakukan tindakan di luar nalar?

Kasus ini mengingatkan kita akan pentingnya memahami mekanisme emosi dan bagaimana ketidakseimbangan emosional dapat memicu perilaku agresif.

Dari sudut pandang psikologi dan ilmu saraf, ada banyak hal yang bisa dipelajari untuk mencegah insiden serupa di masa depan.

 

Baca Juga: Sudah Menyerahkan Diri, Profil Lengkap AKP Dadang Iskandar: Punya Hutang Rp 100 juta, Uang Tunai Rp 22 Juta

 

Otak dan Emosi: Pertarungan Antara Amygdala dan Prefrontal Cortex

Sebuah studi dari Harvard Health Publishing menyimpulkan bahwa di balik setiap emosi manusia, ada proses kompleks di dalam otak. Amygdala, bagian kecil berbentuk almond di dalam sistem limbik, bertanggung jawab atas respons emosional seperti kemarahan, ketakutan, atau kecemasan.

Ketika seseorang merasa terancam atau tertekan, amygdala bereaksi cepat, memicu respons "fight or flight" yang membuat tubuh siap untuk bertindak.

Namun, manusia juga memiliki mekanisme pengendalian diri, yaitu prefrontal cortex. Bagian otak ini berfungsi seperti "rem" yang membantu kita menganalisis situasi, menilai risiko, dan membuat keputusan rasional.

Masalah muncul ketika koneksi antara amygdala dan prefrontal cortex terganggu—seperti saat seseorang berada di bawah tekanan besar, menghadapi konflik, atau mengalami kemarahan yang meledak-ledak. Ketika prefrontal cortex "dimatikan" oleh emosi, tindakan impulsif yang merugikan, seperti kekerasan, menjadi lebih mungkin terjadi.

 

Mengapa Emosi Bisa Meledak?

Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama untuk mengendalikan emosi. Ada sejumlah faktor yang dapat memicu ledakan emosi hingga memengaruhi perilaku seseorang, antara lain:

  1. Stres yang Tidak Tertangani

    Stres kronis, terutama dalam lingkungan kerja yang penuh tekanan seperti kepolisian, dapat memperbesar reaksi amygdala sekaligus melemahkan pengendalian prefrontal cortex.

  2. Trauma Masa Lalu

    Pengalaman traumatis yang tidak terselesaikan sering kali menciptakan respons emosional berlebihan terhadap situasi tertentu, bahkan yang terlihat sepele.

  3. Lingkungan Konfliktual

    Interaksi sosial yang penuh konflik atau kurangnya dukungan emosional dapat memperburuk kestabilan mental seseorang.

  4. Masalah Kesehatan Mental

    Gangguan psikologis, seperti depresi atau gangguan kepribadian tertentu, dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap ledakan emosi.

 

Baca Juga: AKP Dadang Iskandar Diduga Gagal Membunuh AKBP Arief Mukti, Tujuh Selongsong Peluru Ditemukan di Rumah Dinas Kapolres

 

Belajar dari Kasus Polres Solok Selatan

Peristiwa yang melibatkan AKP Dadang Iskandar menjadi pelajaran pahit bahwa ketidakseimbangan emosional dapat berujung pada tindakan destruktif.

Insiden ini seharusnya menjadi alarm bagi individu maupun institusi untuk lebih memperhatikan pentingnya pengelolaan emosi, terutama di lingkungan kerja yang rentan terhadap tekanan.

 

Mencegah Tindakan Impulsif: Apa yang Bisa Dilakukan?

 

  1. Latihan Mindfulness untuk Menenangkan Pikiran

    Teknik seperti meditasi atau pernapasan dalam dapat membantu menurunkan aktivitas amygdala dan meningkatkan pengendalian emosi. Mindfulness terbukti efektif untuk mengurangi stres dan meningkatkan fokus.

  2. Manajemen Stres yang Efektif

    Kegiatan sederhana seperti olahraga, tidur cukup, atau berbicara dengan orang yang dipercaya dapat membantu mengelola tekanan emosional.

  3. Konsultasi dengan Profesional

    Bagi individu yang merasa sulit mengendalikan emosinya, bantuan psikolog atau terapis dapat memberikan solusi yang tepat.

  4. Pelatihan Khusus di Lingkungan Kerja

    Institusi dengan tingkat tekanan tinggi, seperti kepolisian, dapat menyediakan program pelatihan pengendalian emosi untuk mencegah konflik yang berujung pada tindakan berbahaya.

 

Baca Juga: AKP Dadang Iskandar Bakal Dihukum Mati? Polda Sumatera Barat Jerat dengan Pasal Pembunuhan Berencana

 

Jadikan Emosi Sebagai Sahabat, Bukan Musuh

Emosi adalah bagian alami dari kehidupan manusia. Namun, ketika emosi tidak dikelola dengan baik, ia dapat berubah menjadi kekuatan destruktif yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Peristiwa tragis di Polres Solok Selatan mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keseimbangan emosi, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional.

Dengan memahami apa yang terjadi di dalam otak kita, kita bisa belajar mengelola perasaan dengan lebih bijak dan mencegah tindakan impulsif yang merugikan. Jadikan emosi sebagai sahabat, bukan musuh—karena kontrol diri adalah kunci untuk hidup yang damai dan produktif. (*)

Editor : Erwin D. Nugroho
#polres solok selatan #polisi tembak polisi #psikologi #Dadang Iskandar