Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Menjaga Ekologi lewat Tambak Silvofishery, Upaya Memulihkan Hutan Mangrove

Nasya Rahaya • Minggu, 19 Januari 2025 | 09:52 WIB
TERUS MEMBINA: Lahan tambak demoplot silvofishery binaan dari YPUI dan Pokja Pesisir, milik Were, di Babulu Laut. (FOTO: NASYA/KP)
TERUS MEMBINA: Lahan tambak demoplot silvofishery binaan dari YPUI dan Pokja Pesisir, milik Were, di Babulu Laut. (FOTO: NASYA/KP)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kepulauan Kalimantan dianugerahi hutan mangrove yang luas. Dari total 1,58 juta hektare kawasan mangrove yang mengelilingi Kalimantan, 950 ribu hektare di antaranya terdapat di Bumi Etam. 

Sayangnya kebanyakan masyarakat yang memiliki lahan-lahan mangrove itu menyulap hutan mangrove yang rimbun menjadi tambak, mengesampingkan keberlangsungan lingkungan.

Pada 2024, Yayasan Planet Urgensi Indonesia (YPUI) bersama Pokja Pesisir 30 menyosialisasikan tambak demoplot silvofishery, yang mengintegrasikan budidaya tambak dengan penanaman mangrove di Desa Babulu Laut, Penajam Paser Utara.

Ini bukan sekadar eksperimen, melainkan langkah strategis untuk memulihkan lingkungan pesisir sembari meningkatkan hasil tambak. Upaya itu terwujud, tambak tradisional seluas 4 hektare dimodifikasi menjadi tambak demoplot silvofishery. Di dalam tambak tersebut, tertanam 1000 pohon mangrove yang berfungsi sebagai filter alami bagi air serta tempat pemijahan bagi berbagai spesies ikan tambak dan udang. 

Lahan yang digunakan itu milik Were, warga Desa Babulu Laut. Ketika diyakinkan sebagian tambaknya akan ditanami mangrove Were mangut saja. Sebab kualitas tambaknya sudah sangat menurun. Tawaran yang diberikan YPUI terdengar menarik untuknya.  

“Saya buka tambak ini dari tahun 90-an. Dulu, setahun bisa panen sampai berton-ton udang, alami tanpa pakan. Kadang panennya lebih cepat 4-5 bulan saja. Satu dekade setelahnya, pada tahun 2000-an itu sudah mulai pakai pupuk karena kualitas tambak menurun,” kenang pria paruh baya berusia kepala 5 tersebut.

Terakhir sebelum tambaknya dijadikan demoplot, dia sempat merugi besar kerena membeli pakan berupa sisaan dari pabrik roti, yang merogoh kocek sampai Rp 11 juta. “Sudah dikasih pakan roti pun saya masih merugi. Dari 10 ribu bibit yang ditabur penennya hanya satu ton, harusnya bisa panen tiga ton,” ungkapnya.

Prof Esti Handayani Hardi, akademisi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan yang juga terlibat langsung dalam pengembangan silvofishery ini, membenarkan jika masalah utama yang dihadapi oleh tambak-tambak tradisional di Kaltim ialah penurunan produktivitas tambak rata-rata hanya bertahan 13 tahun sejak dibuka. 

Kondisi ini disebabkan oleh penumpukan bahan organik, lumpur dan sisa-sisa pakan yang tidak terkelola dengan baik, ditambah lagi dengan dampak perubahan iklim yang menyebabkan penurunan kadar oksigen dan meningkatnya suhu perairan.

Prof Esti Handayani Hardi, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unmul. (FOTO: NASYA/KP)
Prof Esti Handayani Hardi, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unmul. (FOTO: NASYA/KP)

“Tambak yang sudah beroperasi selama bertahun-tahun biasanya tidak dibersihkan secara rutin. Akibatnya, kualitas air menurun yang mengurangi produktivitas ikan dan udang yang dibudidayakan. Ini semakin diperburuk dengan fluktuasi suhu dan peningkatan patogen akibat perubahan iklim,” ujarnya.

Namun, silvofishery menawarkan solusi. Tanaman mangrove yang ditanam di dalam tambak berfungsi sebagai penyaring alami yang mengurangi tumpukan bahan organik dan mengatur kualitas air. 

Akarnya yang rapat tidak hanya menahan abrasi, di sisi lain juga menyaring kotoran yang terbawa air laut. Mangrove juga menyediakan pakan alami bagi spesies tambak, sehingga kebutuhan pakan tambahan dapat diminimalkan.

Model tambak silvofishery yang paling ideal terbukti dapat meningkatkan produksi secara signifikan. Dari pengalaman dan pembimbingan selama beberapa tahun oleh Prof Esti, model tambak tradisional diubah menjadi tambak silvofishery dengan menggunakan model komplangan, produksi yang sebelumnya hanya 40 kg per hektare bisa meningkat hingga 400 kg per hektare, terutama untuk udang windu. 

“Bahkan, jika diterapkan dengan sistem polikultur, hasil panen dapat mencakup lebih banyak jenis biota, seperti bandeng, rumput laut, dan organisme lainnya. Sementara itu, dengan model Empang Parit, produksi bisa meningkat menjadi 200 hingga 250 kg per hektare, yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan produksi sebelumnya yang hanya sekitar 20 kg,” ungkapnya.

Mengapa hasil produksi bisa meningkat begitu signifikan? Salah satu kuncinya terletak pada serasah mangrove dan kualitas hidrologi yang terjaga. Dengan pengairan yang baik, serasah mangrove dapat dikonversi oleh mikroba di dalam tambak menjadi unsur hara penting seperti nitrogen, fosfor, dan kalium (NPK). 

Unsur hara ini sangat dibutuhkan oleh plankton, mikroplankton, dan mikrobentos, yang berfungsi sebagai pakan alami bagi ikan dan udang. “Hal ini berarti, tambak yang menggunakan sistem silvofishery tidak perlu lagi menambah pakan buatan, karena pakan alami sudah tercukupi dari konversi serasah mangrove,” paparnya.

Selain itu, pohon mangrove juga memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan suhu tambak. Mangrove yang rindang dapat melindungi area sekitar tambak dari fluktuasi suhu yang drastis. Perubahan suhu yang tajam, misalnya, dapat menurunkan kadar oksigen dalam air, yang berisiko menyebabkan ikan dan udang stres dan menurunkan hasil produksi. 

Lebih jauh lagi, mangrove memiliki manfaat ekologis yang tak ternilai. Selain meningkatkan produktivitas, tanaman ini juga membantu dalam pemulihan ekosistem yang terdegradasi. 

“Tanaman ini memiliki kemampuan untuk menyerap karbon hingga tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan tambak konvensional. Ini sangat penting dalam menghadapi perubahan iklim,” sebutnya.

Namun, pengembangan tambak silvofishery ini bukan tanpa kendala. Terutama kurangnya pengetahuan teknis di kalangan masyarakat, sosialisasi dan transfer ilmu mengenai tambak ini perlu disebarluaskan. Untuk itu, YPUI dan Pokja 30 Pesisir memberikan pelatihan berkelanjutan kepada petani tambak dan penyuluh agar mereka memahami cara mengelola tambak secara berkelanjutan. 

Prof Esti juga mengembangkan program sekolah lapang, yang melibatkan mahasiswa dan alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman untuk diajarkan menjadi penyuluh diajarkan kembali mengenai teknik budidaya dan ilmu-ilmu penting mengenai tambak.

“Masyarakat perlu dipahami bahwa silvofishery bukan sekadar model baru, melainkan sebuah perubahan paradigma dalam cara kita mengelola tambak. Ini membutuhkan keterampilan baru dan pendekatan yang lebih holistik,” sebutnya. Untuk itu dia juga bekerja sama dengan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove untuk memperkenalkan konsep ini sejak 2018.

Meski demikian, problem lain yang dihadapi yakni kesulitan dalam meremajakan tambak-tambak yang sudah tidak produktif. “Di Kaltim ada lebih dari 10.000 hektare lahan mangrove telah terkonversi menjadi tambak. 40 persen di antaranya masih aktif sisanya sudah terbengkalai, jadi tambak-tambak mangkrak. Solusi terbaik adalah mengembalikannya menjadi tambak silvofishery,” tandasnya.

Tambak yang terbengkalai ini, menurutnya bisa punya efek yang sama seperti gas rumah kaca karena memantulkan karbondioksida ke lapisan ozon. Sedangkan tambak silvofishery justru dapat menyerap karbon. 

Baca Juga: Hasil Akhir Madura United vs Barito Putera 2-4: Laskar Antasari Keluar dari Zona Degradasi

Terakhir, Prof Esti menyampaikan rekomendasinya kepada Pemerintah, khususnya Kaltim untuk membedakan harga jual dari hasil tambak silvofishery dengan tambak tradisional. 

“Jelas hasil tambak silvofishery lebih sehat dan berkualitas, karena pembiakan dan pemeliharaanya alami, hasilnya lebih bagus. Ini sama seperti ayam kampung dan ayam boiler. Ayam kampung lebih mahal dan sehat karena pemeliharaannya alami, beda dengan boiler. Kalau pemerintah bisa concern ke sini pasti banyak petambak lain yang bakal mengadopsi sistem tambak silvofishery,” tutupnya. 

Editor : Uways Alqadrie
#Kabupaten ppu #Kecamatan Babulu #bekantan #hutan mangrove