KALTIMPOST.ID, JAKARTA–Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat makin mengkhawatirkan. Berdasarkan data pasar NDF (Non-Deliverable Forward), rupiah tembus Rp17.000 per 1 dolar AS pada Senin, 7 April 2025.
Meskipun data real-time di platform seperti Wise.com menunjukkan angka sedikit di bawahnya — sekitar Rp16.979,30 pada pukul 11.00 WIB — tren pelemahan rupiah tampak belum terbendung.
Di platform media sosial X (Twitter), netizen ramai-ramai menyuarakan kecemasan akan melemahnya rupiah. Banyak yang menilai pemerintah terlihat pasif dan tidak tanggap terhadap situasi ini.
“Sumpah, ini dari kemarin rupiah udah lemah, terus makin lemah, tapi kok kayak pemerintah nggak mikirin penyelesaian, kayak cuma diem aja,” tulis akun @mentalitasalay.
Netizen lain menambahkan, “Dolar naik, apa-apa jadi naik. Jangan sampai potongan pajak juga ikut naik.”
Tak sedikit pula yang menyindir pernyataan beberapa pihak yang menyebut masyarakat Indonesia tidak memakai dolar, padahal dampaknya sangat nyata di kehidupan sehari-hari — mulai dari kenaikan harga BBM, bahan pokok, hingga gadget impor.
Bursa Asia Juga “Hancur”, Rupiah Terancam Terus Melemah
Kondisi rupiah yang melemah ini juga terjadi di tengah jatuhnya pasar saham Asia. Data terbaru menunjukkan indeks bursa utama mengalami penurunan drastis:
Nikkei Jepang: -6%
Shanghai China: -6,2%
Shenzhen China: -7,5%
Hang Seng Hong Kong: -9,4%
Kospi Korea Selatan: -4%
Data ini dibagikan oleh akun X @logos_id dan memperlihatkan bahwa tekanan ekonomi bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan secara regional. Namun, masyarakat Indonesia jelas akan merasakan efek nyata, terutama karena nilai tukar yang melemah langsung memukul daya beli.
Dampak Melemahnya Rupiah: Apa yang Akan Terjadi?
Jika tren ini berlanjut, berikut potensi dampak yang bakal dirasakan masyarakat:
Harga BBM Naik: Karena sebagian besar bahan bakar masih diimpor.
Harga Barang Impor Melonjak: Termasuk gadget, bahan makanan, dan obat-obatan.
Biaya Produksi Domestik Ikut Naik: Akibat bahan baku impor yang makin mahal.
Inflasi Meningkat: Harga kebutuhan pokok bisa meroket dalam waktu dekat.
Daya Beli Masyarakat Melemah: Upah tetap, harga naik.
Rupiah menyentuh level psikologis Rp17.000 per dolar adalah peringatan keras akan kondisi ekonomi global dan domestik yang tidak sedang baik-baik saja. Kekhawatiran publik semakin besar saat belum terlihat langkah konkret dari pemerintah untuk meredam gejolak ini.
Masyarakat mulai bersiap — dari membentuk dana darurat hingga menunda pembelian barang-barang mahal. Yang jadi pertanyaan besar sekarang: apa langkah nyata yang akan diambil pemerintah?
Editor : Thomas Dwi Priyandoko