Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Di Balik Sukses Telegram, Ada Upaya Diam-Diam Apple dan Google yang Mengejutkan

Dwi Puspitarini • Minggu, 20 April 2025 | 10:05 WIB

 

Ilustrasi aplikasi Telegram.
Ilustrasi aplikasi Telegram.

KALTIMPOST.ID, Telegram resmi menginjak angka 1 miliar pengguna aktif pada Maret 2025. Angka ini bukan hanya menjadi tonggak penting dalam sejarah perusahaan, tapi juga bukti bahwa aplikasi pesan buatan Pavel Durov ini berhasil tumbuh di tengah tekanan dari berbagai arah bahkan dari nama-nama besar seperti WhatsApp, FBI, Apple, hingga Google.

“WhatsApp adalah layanan murah yang meniru Telegram. Mereka membakar miliaran dolar hanya untuk memperlambat kami dan tetap gagal,” tegas Durov dalam wawancaranya yang dikutip TechCrunch, Minggu (16/4/2025).

Namun kesuksesan Telegram bukan tanpa harga. Durov mengaku bahwa sejak Telegram mulai menguasai pasar, tekanan datang silih berganti.

 Baca Juga: Kasus Gaji Dipotong karena Salat Jumat di Surabaya, Menag Nasaruddin Angkat Bicara

Mulai dari pemerintah yang mencoba mengontrol informasi, hingga raksasa teknologi yang ingin mengelabui enkripsi Telegram.

“FBI bahkan mencoba merekrut engineer kami untuk membobol sistem Telegram. Tapi kami tak pernah tunduk,” ungkap Durov. Tuduhan itu sendiri tak pernah ditanggapi langsung oleh pihak FBI.

Keteguhan Durov terhadap prinsip kebebasan berekspresi dan privasi pengguna membuatnya sempat ditahan di Prancis pada Agustus 2024 atas tuduhan keterlibatan dalam mendistribusikan pornografi anak, obat-obatan terlarang, dan perangkat lunak peretasan pada aplikasi pesan singkat Telegram.

Namun, ia dibebaskan bersyarat tak lama setelahnya dan membayar uang jaminan senilai 5 juta euro.

 Baca Juga: Tak Hanya untuk Diri Sendiri, Ini Doa yang Diminta Menag saat Haji Akbar

“Saya lebih baik bebas ketimbang tunduk pada perintah siapa pun,” katanya waktu itu. Ucapan yang kini kembali viral setelah Telegram terbukti mampu bertahan, bahkan tumbuh lebih kuat.

Meski masih di bawah WhatsApp dalam hal total pengguna dengan angka lebih dari 2 miliar, Telegram mencetak keuntungan USD 547 juta sepanjang 2024, dan punya basis pengguna berbayar hingga 10 juta orang lewat Telegram Premium.

India jadi negara pengguna terbesar, menyumbang 45 persen dari total. Sedangkan dari Amerika Serikat, hanya sekitar 9 persen pengguna berasal dari sana.

Yang menarik, pengguna Telegram paling banyak datang dari kelompok usia produktif 25–44 tahun.

 Baca Juga: Ternyata Ini Alasan Arab Saudi Mengagumi Jemaah Haji dari Indonesia

Durasi penggunaannya pun rata-rata mencapai hampir 4 jam per bulan. Memang masih di bawah WhatsApp, tapi dengan potensi yang terus meningkat.

Durov menambahkan, ancaman yang paling mengkhawatirkan justru datang dari Apple dan Alphabet (induk Google).

Ia menyebut dua perusahaan ini bisa menyensor apa saja dan punya akses penuh ke perangkat penggunanya.

“Mereka bisa menyaring semua yang Anda baca dan menyusup ke dalam ponsel Anda. Itu sebabnya, kami bertahan dengan prinsip enkripsi dan independensi,” katanya. ***

Editor : Dwi Puspitarini
#pavel durov #apple #telegram #google #Privasi digital