Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Sebelum Meninggal, Paus Fransiskus Tinggalkan Warisan Penting saat Mengunjungi Indonesia

Thomas Dwi Priyandoko • Senin, 21 April 2025 | 15:58 WIB

Paus Fransiskus saat berbicara di Gereja Katedral Jakarta pada 4 September 2024.
Paus Fransiskus saat berbicara di Gereja Katedral Jakarta pada 4 September 2024.

KALTIMPOST.IDVATIKAN – Kepergian Paus Fransiskus pada Minggu (21/4) waktu Vatikan meninggalkan duka mendalam bagi umat Katolik di seluruh dunia. Namun di Indonesia, kenangan akan kunjungan Paus pada September 2024 justru kembali menggema kuat sebagai bagian dari warisan spiritual yang dikenangnya.

Dalam kunjungannya ke Tanah Air, Paus Fransiskus sempat bertemu dengan para uskup Indonesia di Gereja Katedral Jakarta pada Kamis, 4 September 2024. Dalam khotbah yang disampaikannya saat itu, Paus mengangkat tema yang menyentuh banyak hati: bela rasa.

“Bela rasa bukan hanya soal memberi kepada yang membutuhkan, tetapi juga keberanian menghapus batasan sosial demi kasih yang lebih besar,” kata Paus Fransiskus kala itu.

Ia memperingatkan bahaya hidup tanpa empati—sebuah pesan yang sangat relatable dengan situasi kehidupan sosial di Indonesia. Paus menyindir gaya hidup yang terjebak dalam ketamakan, dengan menyebut bahwa orang yang terlalu sibuk mengumpulkan kekayaan cenderung kehilangan jiwanya.

Baca Juga: Paus Fransiskus Meninggal Dunia di Usia 88 Tahun, Akhiri Masa Kepausan Penuh Gejolak

“Mereka pikir mereka cerdas dan bebas, padahal sesungguhnya mereka menjauh dari kebenaran hidup,” tegasnya.

Dalam khotbah yang kini kembali viral di media sosial setelah kabar wafatnya diumumkan Vatikan, Paus juga menceritakan kisah nyata dari tanah kelahirannya di Buenos Aires. Ia mengenang seorang pria kaya raya yang wafat dalam kesepian, karena sepanjang hidupnya hanya sibuk mengambil dari orang lain—hingga tak ada yang bersedia menutup peti matinya.

“Dia begitu sibuk menimbun, tapi saat wafat tak ada yang peduli,” kata Paus, lirih.

Paus Fransiskus juga menegaskan bahwa dunia tidak akan bergerak maju dengan logika kepentingan pribadi yang sempit, tetapi lewat kasih terhadap sesama.

“Bela rasa membuat kita melihat dunia dengan mata hati,” ujar Paus Fransiskus—sebuah kalimat yang kini banyak dibagikan ulang sebagai kutipan penuh makna setelah kepergiannya.

Dalam kunjungan tersebut, Paus juga sempat memuji Indonesia sebagai negara yang penuh harapan karena banyaknya anak-anak. “Negara lain memilih pelihara kucing dan anjing, Indonesia memilih masa depan,” katanya, disambut gelak tawa hangat umat.

Kini, dengan kepergian sang pemimpin, pesan-pesan moral dan kasih dari Paus Fransiskus kembali menjadi perenungan. Bagi umat Katolik di Indonesia, pidatonya di Jakarta seakan menjadi salam perpisahan terakhir yang menyentuh jiwa. Sebuah warisan kebijaksanaan yang abadi.(*)

 

 

Editor : Thomas Priyandoko
#vatikan #roma #indonesia #meninggal dunia #paus fransiskus #Paus Fransiskus wafat