KALTIMPOST.ID-Meninggalnya Paus Fransiskus secara mendadak pada 21 April 2025 memicu gelombang spekulasi mengenai siapa yang akan menjadi penggantinya.
Di tengah berbagai nama yang mencuat, Kardinal Robert Sarah dari Guinea, Afrika muncul sebagai salah satu kandidat terdepan.
Sebagai seorang tokoh tradisionalis, Sarah mendapat dukungan kuat dari kalangan konservatif dalam Gereja Katolik yang merindukan arah kepemimpinan yang lebih setia pada akar-akar ortodoksi Gereja.
Lahir pada tahun 1945, Kardinal Sarah telah mengabdikan hidupnya dalam berbagai posisi penting di Vatikan. Ia pernah menjabat sebagai Prefek Kongregasi Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen hingga pensiun pada tahun 2021.
Baca Juga: Viral Perempuan Tega Banting Bayi 6 Bulan, Ternyata Ada Motif Sakit Hati di Baliknya
Pandangan teologisnya yang berakar kuat pada tradisi menjadikannya sosok panutan bagi mereka yang menginginkan pemulihan praktik dan doktrin Katolik yang konservatif.
Pasca pengumuman meninggalnya Paus Fransiskus, media sosial dipenuhi dukungan bagi Sarah. Banyak warganet menyebutnya sebagai "harapan Gereja," bahkan ada yang menulis, “Penebusan dan keselamatan Gereja memiliki satu nama: Kardinal Robert Sarah.”
Seperti dikutip dari Newsweek, sentimen ini mencerminkan keinginan sebagian umat Katolik akan pemimpin yang teguh pada nilai-nilai tradisional, terutama setelah era Paus Fransiskus yang dianggap liberal oleh sebagian pihak.
Sarah dikenal karena penolakannya terhadap pembatasan Misa Latin tradisional serta keberatannya atas pemberkatan pasangan sesama jenis. Ia secara terbuka membela Misa Latin yang telah dirayakan selama lebih dari 1.600 tahun, menjadikannya simbol perlawanan terhadap modernisasi berlebih dalam liturgi.
Sarah juga memperingatkan bahaya dari apa yang ia sebut sebagai "diktator relativisme" dan menyerukan agar Gereja tetap teguh pada kebenaran absolut.
Selain Sarah, beberapa kandidat lain juga diperbincangkan untuk menggantikan Paus Fransiskus. Di antaranya Kardinal Matteo Zuppi, Uskup Agung Bologna, Italia, yang berusia 69 tahun dan dikenal sebagai tokoh penting dalam Gereja Katolik Italia.
Baca Juga: Artis FA Diamankan Terkait Narkoba, Sering Bintangi Film dan Sinetron
Ada pula Kardinal Luis Tagle dari Manila, Filipina, yang menjabat sebagai pro-prefek Dikasteri Evangelisasi dan dikenal sebagai suara pembaruan dalam Gereja. Kardinal Malcolm Ranjith, Uskup Agung Kolombo, Sri Lanka, yang berusia 77 tahun, juga termasuk kandidat yang dihormati di kawasan Asia.
Nama lain yang mencuat adalah Pietro Parolin, Sekretaris Negara Vatikan saat ini, serta Kardinal Juan José Omella dari Barcelona, Spanyol, yang berusia 78 tahun. Meskipun peluang mereka dianggap lebih kecil, kehadiran mereka tetap menjadi bagian dari dinamika yang menarik menjelang konklaf.
Konklaf kepausan untuk memilih Paus ke-267 akan menjadi momen penting yang dinantikan dunia. Para pengamat memperkirakan Gereja mungkin memilih sosok moderat demi menjaga keseimbangan, namun meningkatnya popularitas Sarah serta semangat dari kalangan konservatif bisa menjadikannya pesaing yang serius.
Jika terpilih, Sarah akan menjadi Paus Afrika pertama dalam lebih dari 1.500 tahun dan menandai pergeseran ideologis besar dalam kepemimpinan Gereja.
Pandangan Sarah yang tegas terhadap tren modern seperti “ideologi gender” telah menuai pujian sekaligus kritik.
Ia menolak keras pernikahan sesama jenis dan menjadi pembela vokal keluarga alami, menegaskan dirinya sebagai penjaga ajaran Katolik tradisional.
Baca Juga: Wakil Kepala BIN Cek Kesiapan Kantor di IKN, Ternyata Sudah Memasuki Tahap Ini
Gaya kepemimpinannya sangat disambut oleh mereka yang merasa terpinggirkan oleh reformasi-reformasi dalam beberapa tahun terakhir.
Menjelang konklaf, dunia Katolik menyimak dengan cermat bagaimana arah masa depan Gereja akan ditentukan. Warisan Paus Fransiskus—yang dikenal progresif dalam isu seperti perubahan iklim, imigrasi, dan inklusi LGBTQ+—akan mewarnai diskusi di antara para kardinal.
Meski reformasi Paus Fransiskus telah menginspirasi banyak pihak, ia juga menghadapi penolakan dari kalangan konservatif, menciptakan latar belakang yang kompleks untuk pemilihan Paus berikutnya.
Dalam masa berkabung ini, arah kepemimpinan Gereja menjadi pertanyaan mendesak. Paus selanjutnya akan menghadapi tantangan besar: menyeimbangkan antara tradisi dan modernitas, serta merangkul berbagai pandangan dalam komunitas Katolik global.
Apakah Kardinal Robert Sarah akan menjadi pilihan, masih harus ditunggu. Namun, pencalonannya mencerminkan titik balik penting dalam sejarah Gereja Katolik.(*)
Editor : Thomas Dwi Priyandoko