KALTIMPOST.ID, MAGETAN- Legenda Gunung Lawu, Wakiyem atau yang biasa dikenal dengan Mbok Yem sudah tak asing lagi dikalangan pendaki Indonesia. Bagaimana tidak, wanita lanjut usia ini sudah mendirikan warung ini sejak 1980-an silam atau hampir 45 tahun silam.
Mbok Yem atau Mbah Yem yang dikenal sebagai sosok penting di Gunung Lawu baru saja meninggal dunia pada siang hari, Rabu (23/42025).
Dulunya, pemilik nama asli Wakiyem seorang peracik jamu tradisional yang mencari bahan-bahan di puncak Lawu. Namun hatinya tersentuh setelah bertemu dan berinteraksi dengan pendaki.
Wanita berusia 60 tahun ini adalah pemilik warung yang berada di puncak Gunung Lawu yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Menjadi warung satu-satunya di Gunung Lawu tentu saja warung Mbok Yem tak pernah sepi pengunjung. Para pendaki harus sabar mengantre untuk mendapatkan sajian dari Mbok Yem. Lokasinya Warung Mbok Yem juga terbilang strategis, tepat berada di pertemuan tiga jalur pendakian via Cemoro Sewu, Comoro Kandang, dan Cetho. Para pendaki yang berbeda jalur pun bisa bertemu di warung berusia 3 dekade lebih ini.
Jika warung makan biasanya berada di pusat perbelanjaan atau tempat-tempat strategis, lain halnya dengan wanita asli Magetan ini.
Mbok Yem justru memilih membuka rumah makan di tempat dengan ketinggian 3.150 mdpl atau hanya selisih 115 mdpl dari puncak Gunung Lawu.
Jangan bayangkan rumah makan yang sudah ada di Gunung Lawu sejak tahun 1980-an ini memiliki dekorasi artistik.
Warung makan Mbok Yem hanya berdinding kayu tanpa hiasan atau cat dinding berwarna. "Selama saya masih kuat untuk bekerja disini, saya akan tetap bekerja," ucap Mbok Yem.
Mbok Yem mengaku memang sudah berniat mencari nafkah di Gunung Lawu meski bukan hal yang mudah untuk tinggal di gunung dengan ketinggian 3.265 mdpl ini.
Pasalnya, selain menyimpan mitos mistis, gunung ini juga memiliki cuaca yang ekstrem.
Selain angin kencang, pada malam hari suhu udara di puncak bisa mencapai minus 5 derajat.
Jalur ekstrem Untuk menempuh warung makan tertinggi ini, diperlukan waktu pendakian sekitar 6 sampai 7 jam via Candhi Cetho, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Bukan hal yang mudah untuk mencapai warung Mbok Yem mengingat curamnya lajur pendakian. Hanya mereka yang punya stamina tinggi yang bisa mencapainya.
Mbok Yem mengaku dirinya tidak sendirian saat berjualan di Gunung Lawu. Ia di bantu beberapa kerabat dekatnya.
Ketika melayani pendaki yang membeli makanan di warungnya, Mbok Yem dibantu oleh dua orang kerabat yang semuanya lelaki.
"Untuk stok dagangan saya juga dibantu orang lain. Jadi, ada orang yang antar barang ke sini tiga kali dalam seminggu," ungkapnya.
Mbok Yem mengaku hanya sekali dalam setahun turun gunung untuk pulang kampung, tepatnya ketika musim lebaran tiba.
"Yah, sekali setahun aja pulangnya. Waktu lebaran," paparnya, sembari menyiapkan makanan untuk para pendaki.
Dalam sehari, Mbok Yem bisa melayani 200 hingga 300 orang pendaki.
Momen 17 Agustus dan bulan Suro, kata Mbok Yem, adalah masa dimana Gunung Lawu akan dipadati oleh pendaki sehingga warungnya kebanjiran pembeli.
Makanan yang dijual di warung Mbok Yem ini terbilang cukup murah, hanya berkisar Rp 10.000 saja.
Para pendaki pun juga merasa terbantu dengan adanya warung Mbok Yem.
"Jadi enggak perlu bawa banyak bekal waktu mendaki. Bisa beli di warung ini," ucap Indra, salah satu pendaki dari Ngawi.
Warung makan Mbok Yem juga bisa menjadi tempat tidur alternatif para pendaki yang tak mau repot mendirikan tenda untuk bermalam di Gunung Lawu.
Bagi para pendaki, pecel masakan Mbok Yem adalah menu paling favorit dan fenomenal. Tak jarang, banyak pendaki yang menaklukkan Gunung Lawu hanya untuk mencicipi pecel masakan Mbok Yem.
"Saya sudah tiga kali ke Lawu. Yah, kangen pecel Mbok yem," ucap Iin Pendaki asal Yogyakarta.
Mbok Yem yang terkenal dengan sebutan 'Legenda Gunung Lawu' ini juga menyediakan makanan seperti soto, gorengan, mi instan dan berbagai minuman untuk para pendaki.
Dari hasil berjualan ini, Mbok Yem juga bisa membeli sebuah rumah yang berlokasi di Magetan, kampung halamannya.
Selain di Lawu, di beberapa gunung memang terdapat sejumlah warung yang menjajakan makanan untuk pendaki. Namun, lokasi warung tersebut tidak sampai berada di ketinggian lebih dari 3.000 mdpl.
Warung-warung tersebut tidak melayani para pendaki hingga 24 jam penuh atau hanya buka pada musim tertentu.
Selain itu, para penjual juga tidak menjadikan warung tersebut sebagai tempat tinggal.
Untuk menyediakan makanan bagi pendaki, Mbok Yem masih menggunakan kompor tungku dengan bahan bakar kayu. Pasokan listrik pun ia dapatkan dari tenaga genset.
Di kalangan pendaki, warung Mbok Yem ini telah dinobatkan sebagai warung tertinggi di Indonesia.
Selain nasi pecel, warung ini juga menyediakan berbagai menu lain seperti nasi goreng dan pecel lainnya dengan harga yang sama terjangkau, yaitu 15.000 per porsi.
Ini menjadi nilai plus bagi pengunjung yang ingin menikmati kuliner khas Gunung Lawu tanpa perlu khawatir tentang budget.
Ia memutuskan untuk tinggal di kawasan Argo Dalem tepat dibawah puncak Gunung Lawu. Membuka warung untuk membantu kebutuhan logistik pendaki yang kekurangan. Memilih menghabiskan sebagian besar hidupnya di gunung. Ia bahkan hanya turun gunung setahun sekali saja saat lebaran.
Meski berada di Gunung Lawu, namun fasilitas di warung ini terbilang lengkap. Tanpa ada jaringan listrik PLN yang sampai di puncak, warung Mbok Yem ada televisi, kulkas, penanak nasi, dan lampu yang menyala. Ya, panel surya lah yang panel surya membuat listrik ada di warung ini. Membantu Mbok Yem dalam kebutuhan sehari-hari.
Warung Mbok Yem lebih dari sekedar warung, kedai sederhana ini bak rumah bagi para pendaki di Gunung Lawu. Tempat para pendaki saling bertukar cerita. Bercengkrama dengan kawan pendaki lainnya.
Editor : Uways Alqadrie