Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Setia Sampai Akhir, Temon si Monyet Sekaligus Sahabat Sejati Mbok Yem di Puncak Gunung Lawu

Thomas Dwi Priyandoko • Kamis, 24 April 2025 | 10:50 WIB

 

 

Temon, sahabat Mbok Yem yang sejati selama di puncak Gunung Lawu.
Temon, sahabat Mbok Yem yang sejati selama di puncak Gunung Lawu.

KALTIMPOST.ID, LAWU-Selama tinggal dan berjualan di puncak Gunung Lawu, Wakiyem alias Mbok Yem selalu ditemani seorang sahabatnya.

Tetapi sahabatnya tersebut bukanlah seorang manusia, melainkan seekor monyet yang bernama Temon.

Temon, menjadi sahabat setia Mbok Yem, penjaga warung legendaris di ketinggian 3.150 meter selama beberapa tahun terakhir.

Temon bukanlah penghuni asli Lawu. Ia dibawa oleh seorang warga dari Nganjuk, Jawa Timur, ke warung Mbok Yem saat masih kecil.

Baca Juga: Legenda Gunung Lawu Mbok Yem Meninggal Dunia, Meninggalkan Warisan Warung Tertinggi di Indonesia

Niat awalnya mungkin hanya sekadar singgah. Namun, takdir berkata lain. Temon menolak pulang. Ia justru memilih tinggal bersama Mbok Yem, dan sejak saat itu, keduanya tak terpisahkan.

"Ya saya kasih makan, sampai saya kelonin si Temon," ujar Mbok Yem dalam sebuah wawancara bersama Jawa Pos TV beberapa waktu lalu.

Di puncak gunung yang sunyi, Temon menjadi teman sehari-hari Mbok Yem. Ia bukan sekadar hewan peliharaan, melainkan sahabat yang menemani hari-hari sepi, pelipur lara saat rindu keluarga, dan saksi bisu atas ribuan pendaki yang singgah.

Tak hanya Temon, Mbok Yem juga memelihara empat ekor ayam. Bagi beliau, setiap makhluk hidup layak mendapatkan kasih sayang dan perhatian. Prinsip hidup sederhana itu ia bawa hingga akhir hayatnya: mencintai tanpa pamrih, merawat tanpa syarat.

Tak hanya kepada binatang, sikap welas asih Mbok Yem juga tercermin dalam caranya memperlakukan manusia.

Baca Juga: Infrastruktur IKN Sudah Siap untuk Pemindahan Ribuan ASN, Perkantoran Selesai Juni

Ferry, salah satu kerabat, mengingat betul bagaimana Mbok Yem tak pernah memaksa siapa pun membayar jika tak punya uang. "Kalau sudah kehabisan uang saku ya sudah, nggak bayar gapapa," begitu katanya.

Kini, setelah Mbok Yem berpulang, Temon mungkin tidak tahu mengapa sosok perempuan yang menyayanginya tidak pernah kunjung datang lagi.

Warung itu mungkin masih berdiri, ayam-ayam masih berkeliaran, dan Temon mungkin masih duduk di sudut favoritnya. Tapi hangatnya tangan Mbok Yem, suara lembutnya memanggil nama, takkan lagi hadir di udara tipis Lawu.(*)

 

Editor : Thomas Dwi Priyandoko
#mbok yem #temon #gunung lawu