Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Misteri Sumur Tujuh dan Temuan Cagar Budaya di IKN

Ari Arief • Sabtu, 3 Mei 2025 | 09:31 WIB
SUMUR TUJUH: Diduga kuat cagar budaya Sumur Tujuh di Kelurahan Gunung Seteleng, Kecamatan Penajam, PPU kini jadi sorotan.
SUMUR TUJUH: Diduga kuat cagar budaya Sumur Tujuh di Kelurahan Gunung Seteleng, Kecamatan Penajam, PPU kini jadi sorotan.

KALTIMPOST.ID, Tim Kegiatan Eksplorasi Penyelamatan Cagar Budaya yang diterjunkan di wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), bagian dari Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, telah menemukan sejumlah objek yang diduga kuat merupakan cagar budaya.

Kegiatan melibatkan tenaga teknis dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Kaltim serta didampingi oleh staf dinas kebudayaan Kabupaten PPU, tahun lalu.

Berdasarkan dokumen laporan kegiatan eksplorasi penyelamatan cagar budaha di IKN, PPU, yang diperoleh media ini bersumber dari Direktorat Jenderal Kebudayaan, Balai Pelestarian Cagar Budaya Kaltim Wilayah Kerja Kalimantan, Samarinda, Jumat (2/5), tim ini diketuai oleh Vinsensius Ngesti Wahyuono berhasil mengidentifikasi beberapa jenis dugaan cagar budaya yang meliputi benda, struktur, dan situs.

 

Menariknya, temuan-temuan ini tersebar di tiga kecamatan berbeda di Kabupaten PPU.

Salah satu temuan menarik adalah Sumur Tujuh, yang berlokasi di tepi Jalan Kapas, Kelurahan Gunung Seteleng, Kecamatan Penajam, PPU.

Sumur dengan dinding persegi berukuran 2,4 meter x 2,4 meter dan tinggi 75 sentimeter ini diperkirakan berasal dari masa kolonial akhir, sekitar Perang Dunia II.

Meskipun airnya keruh dan kini hanya dimanfaatkan untuk keperluan non-konsumsi seperti mencuci kendaraan, keberadaan sumur ini menjadi saksi bisu sejarah kawasan tersebut.

Nama "Sumur Tujuh" sendiri mengindikasikan bahwa dulunya terdapat beberapa sumur serupa di area tersebut.

 

Namun, perkembangan pembangunan dan pemukiman telah menghilangkan jejak sumur-sumur lainnya.

Informasi dari masyarakat sekitar menyebutkan bahwa dulunya sumur ini hanyalah sumur tanah biasa sebelum akhirnya dibangun dinding beton pada sekitar tahun 1980-an.

Berdasarkan dokumen, kaitan Sumur Tujuh dengan kompleks militer pada masa lalu semakin kuat dengan nama Kelurahan Gunung Seteleng yang mengisyaratkan hal tersebut.

Diduga, keberadaan sumur ini tidak terlepas dari fungsi pertahanan udara berupa meriam Jepang tipe 10 120 MM/AA Gun yang ditempatkan di wilayah ini selama Perang Dunia II.

Selain itu, muncul pula informasi dari masyarakat mengenai keberadaan sumur-sumur lain yang sengaja ditutup terkait peristiwa G30S/PKI.

 

Namun, terkait hal ini, diluruskan oleh tokoh pemuda Gunung Seteleng, Kecamatan Penajam, PPU, Edward.

Ia mengatakan, bahwa sumur tersebut semula hanya sumur tanah biasa yang sehari-harinya dimanfaatkan oleh warga.

“Itu bukan masuk kategori cagar budaya. Hanya sumur biasa yang kemudian diperbaiki oleh mahasiswa yang melakukan kuliah kerja nyata (KKN) dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda sekira 1980-an,” kata Edward, Jumat (2/5). 

“Sejarah dari sumur tersebut awalnya hanya sumur biasa saja, tidak ada siringnya. Jadi yang membangun siring dan dipugar oleh mahasiswa KKN Unmul berjumlah 7  orang,” tambahnya.

Tujuh orang itu, lanjutnya, yang kemungkinan menjadi cikal-bakal diberinya nama Sumur Tujuh.

 

Dia mengatakan mengetahui persis sejarah pembuatan sumur tersebut kala itu orangtuanya menjabat sebagai pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Gunung Seteleng, Kecamatan Penajam, PPU, tepat saat sumur tersebut dibuat oleh salah satu warga masyarakat.

Nama Sumur Tujuh, kata dia, karena yang memperbaiki sumur tersebut adalah tujuh orang mahasiswa Unmul.

Tim eksplorasi selama melakukan pendataan juga menemukan sejumlah objek yang diduga sebagai cagar budaya di PPU.

Yaitu, di Kecamatan Penajam, tim menemukan Komplek Makam Tua Kademangan yang terletak di tepi Jalan Poros Kelurahan Penajam–Kelurahan Buluminung Pantai.

Situs pemakaman Islam kuno ini, yang baru ditemukan kembali sekitar tahun 2000-an pasca kebakaran hutan, masih digunakan hingga kini.

 

Kemudian, penemuan Batu Lesung terletak di lingkungan RT 05/ Dusun 02 Kelurahan Sesulu, Kecamatan Waru pada koordinat UTM 50M X 455001 dan Y 9843580.

Berikutnya, Sumur Jepang terletak di daerah Muara Simpak, Kelurahan Pantai Lango, Kecamatan Penajam pada koordinat UTM 50M X 470826 dan Y 9871078; Makam Tua Mentawir terletak di RT 01/ RW 02 Kelurahan Mentawir, Kecamatan Sepaku pada koordinat UTM 50M X 474206 dan Y 9886973; Gua Besiang Putri dan Putra yang  merupakan sebuah gua alam horizontal, yang dimanfaatkan sebagai objek wisata dengan adanya bekas taman di depan pintu masuk gua.

Kondisi dalam gua berada dalam zona gelap, basah dan lembap. Tidak terdapat indikasi adanya pemanfaatan oleh manusia pada masa lalu; Makam Habaib Muhammad Sholeh Al Idrus; Sumur Jepang Penajam yang diperkirakan merupakan sumur yang dibangun pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) di wilayah Teluk Balikpapan (termasuk Penajam), dan beberapa temuan lain yang diduga masuk kategori cagar budaya. ***

Editor : Dwi Puspitarini
#situs sejarah Kalimantan Timur #penajam paser utara #Sumur Tujuh #sejarah Penajam Paser Utara #IKN #warisan budaya #cagar budaya #kalimantan timur