KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Sepuluh negara baru anggota Persemuran Negara-negara Merdeka (CIS) sepakat mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan beralih ke mata uang lokal dalam transaksi internasional.
Langkah tersebut merupakan bagian dari tren dedolarisasi yang kian menguat akibat ketidakstabilan kebijakan ekonomi AS dan ketegangan geopolitik global.
Dolar AS belakangan mengalami tekanan signifikan, nilainya terus melemah didorong oleh kebijakan tarif tinggi era Donald Trump dan kritik terhadap penggunaan dolar sebagai alat sanksi ekonomi.
Dalam laporan terbaru, Deutsche Bank diberitahu bahwa dolar AS berpotensi kehilangan status sebagai mata uang cadangan utama dunia.
“Kami melihat risiko pergeseran besar dalam alokasi modal global. Prasyarat untuk tren penurunan dolar yang lebih dalam sudah terbentuk,” ujar George Saravelos, ekonom Deutsche Bank, seperti dikutip dari Watcher Guru, Senin (5/5).
Pandangan serupa yang disampaikan Goldman Sachs. Bank investasi tersebut memperkirakan dolar AS akan menghadapi tekanan lebih lanjut, terutama jika tren dedolarisasi terus mendapatkan momentum.
Dalam pertemuan terbaru, sepuluh negara CIS menyepakati penggunaan mata uang lokal untuk transaksi bilateral, mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Negara-negara tersebut di antaranya:
Baca Juga: Pembunuhan Dedy Indrajid Putra Direncanakan Secara Matang, Polisi Ungkap Sembilan Pelaku
1. Armenia
2. Azerbaijan
3. Belarusia
4. Kazakstan
5. Kirgistan
6. Moldova
7. Rusia
8. Republik Rakyat Tajikistan
9. Turkimenistan
10. Uzbekistan
Keputusan ini sejalan dengan upaya negara-negara ASEAN yang sebelumnya lebih mengutamakan mata uang lokal dalam perdagangan regional. Para analis memperingatkan, jika tren ini berlanjut, dominasi dolar AS dalam sistem keuangan global bisa terus melemah. Namun, transisi penuh ke mata uang lokal membutuhkan waktu dan stabilitas ekonomi yang memadai.
Baca Juga: Feri KMP Muchlisa Tenggelam Diduga karena Patah As: Bawa 10 Kendaraan, 2 ABK Masih Hilang
"Meski prediksi nilai tukar sulit, kami melihat potensi pelemahan dolar lebih jauh dalam beberapa tahun ke depan," kata ekonom Goldman Sachs, Jan Hatzius.(*)
Editor : Uways Alqadrie