KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Perubahan tren mewarnai persiapan Iduladha di Kaltim. Stok hewan kurban, terutama sapi, memang melimpah ruah. Namun, jangan heran jika kambing dan domba kini justru jadi incaran utama masyarakat. Ada pergeseran preferensi kurban yang cukup signifikan.
Pasalnya, stok hewan kurban, terutama sapi, kambing, dan domba dipastikan aman di Bumi Etam. Hal itu terungkap lewat data dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kaltim. Menunjukkan surplus yang cukup signifikan, siap memenuhi kebutuhan masyarakat yang ingin berkurban.
Untuk sapi, meskipun kebutuhan tahun ini diprediksi sedikit menurun menjadi 16.890 ekor dari angka 17.104 ekor tahun lalu, ketersediaannya justru melonjak drastis hingga mencapai 24.834 ekor.
Baca Juga: Kaltim Makin Bergantung Sektor Primer, Tambang dan Kebun Jadi Penyelamat Serapan Tenaga Kerja
Artinya, Kaltim kini memiliki surplus sapi kurban sebanyak 7.944 ekor. Samarinda menjadi gudang sapi terbesar dengan stok mencapai 6.957 ekor, disusul Kutai Kartanegara yakni 4.240 ekor dan Balikpapan 4.000 ekor.
Kondisi serupa juga terjadi pada kambing. Kebutuhan diperkirakan 6.689 ekor, namun stok yang tersedia mencapai 11.373 ekor, menghasilkan surplus 4.684 ekor. Lagi-lagi, Samarinda memimpin dengan stok kambing terbanyak, yakni 5.191 ekor.
Menariknya, tren berbeda justru terjadi pada domba. Jika tahun lalu kurang diminati, tahun ini proyeksi kebutuhan domba justru meningkat menjadi 173 ekor. Kabar baiknya, stok domba di Kaltim juga sangat mencukupi, mencapai 744 ekor, sehingga terdapat surplus 571 ekor. Samarinda lagi-lagi menjadi penyumbang stok domba terbesar dengan 650 ekor.
Baca Juga: Jumlah Usia Kerja Kaltim Naik, Capai 3,2 Juta Orang
“Melimpahnya stok sapi di Samarinda disebabkan karena Samarinda menjadi pintu utama masuknya sapi dari luar daerah, terutama dari Nusa Tenggara Timur (NTT),” beber Kepala Dinas Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kaltim Fahmi Himawan.
Namun, Fahmi juga menyoroti adanya indikasi penurunan minat masyarakat terhadap sapi kurban. "Kemungkinan memang diindikasikan akan terjadi penurunan sapi karena beralih ke komoditas yang lain," ujarnya.
Salah satu faktor utama pergeseran adalah meningkatnya preferensi masyarakat terhadap hewan kurban alternatif seperti kambing dan domba. Selain itu, dicabutnya larangan masuk domba ke Kaltim juga memberikan lebih banyak pilihan bagi masyarakat.
Lebih lanjut, Fahmi menjelaskan bahwa perubahan tren juga dipengaruhi oleh pandangan keagamaan yang semakin berkembang di masyarakat. "Jadi beberapa masyarakat kita sekarang lebih memilih berkurban nama keluarga dengan satu ekor kambing," jelasnya.
Baca Juga: Harga TBS Lagi Sakit, Kemitraan Jadi Tumpuan Harapan
Pandangan yang mulai menguat adalah berkurban satu ekor kambing atas nama keluarga dinilai lebih utama dibandingkan kurban kolektif satu ekor sapi oleh beberapa orang yang tidak memiliki ikatan keluarga.
Selama ini, praktik kurban kolektif memang lazim dilakukan di lingkungan perkantoran atau komunitas non-keluarga. Namun, kini kecenderungan tersebut mulai bergeser seiring dengan pertimbangan nilai ibadah yang dianggap lebih tinggi jika dilakukan secara individual atau keluarga.
Dengan melimpahnya stok hewan kurban, masyarakat Kaltim kini memiliki banyak pilihan untuk melaksanakan ibadah kurban sesuai dengan kemampuan dan preferensi masing-masing.
Meskipun sapi terlihat sedikit kurang diminati, ketersediaan kambing dan domba yang melimpah diharapkan dapat menjadi alternatif yang menarik bagi masyarakat. Pemerintah daerah pun memastikan seluruh hewan kurban yang ada dalam kondisi sehat dan layak untuk dikurbankan. (*)
Editor : Muhammad Rizki