KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Struktur ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim) dalam lima tahun terakhir (2020-2024) menunjukkan pola yang cukup seragam di berbagai kabupaten/kota.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat, tiga komponen utama pengeluaran yang mendominasi adalah net ekspor (selisih ekspor luar wilayah dan impor luar wilayah), pembentukan modal tetap btuto (PMTB) atau investasi fisik, serta konsumsi rumah tangga.
Kondisi itu mengindikasikan bahwa aktivitas perdagangan antarwilayah dan investasi memegang peranan penting dalam menggerakkan roda perekonomian di Bumi Etam.
Terungkap dari analisis struktur ekonomi menurut pengeluaran, menggambarkan bagaimana output barang dan jasa dibelanjakan berbagai pelaku ekonomi di masing-masing wilayah.
“Net ekspor menggambarkan selisih ekspor luar wilayah dan impor luar wilayah. Net ekspor yang positif mencerminkan keunggulan wilayah dalam menghasilkan barang dan jasa yang diperdagangkan keluar wilayah,” beber Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana.
Net ekspor yang positif menjadi ciri khas sejumlah kabupaten yang kaya akan sumber daya alam. Kutai Timur, Berau, Kutai Kartanegara, Paser, dan Kutai Barat menunjukkan kontribusi net ekspor yang tinggi.
“Sektor pertambangan (migas dan batu bara) serta perkebunan (kelapa sawit yang diolah menjadi CPO) menjadi andalan utama yang produknya banyak dipasarkan ke luar Kaltim,” lanjutnya.
Tak hanya itu, dominasi industri pengolahan di Balikpapan dan Bontang, terutama pengolahan migas, bahan kimia, dan pupuk, juga turut menyumbang angka net ekspor yang signifikan.
Namun, sorotan utama tertuju pada pergeseran dinamika di Penajam Paser Utara (PPU). Sejak dimulainya proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), PPU mencatatkan pertumbuhan PMTB yang sangat fantastis.
Investasi masif dalam pembangunan berbagai infrastruktur dan sarana prasarana IKN menjadikan PMTB sebagai komponen pengeluaran paling dominan di wilayah tersebut, mencapai angka 90,80 persen pada 2024.
Geliat pembangunan infrastruktur dan fasilitas publik juga turut mendongkrak peranan PMTB di kabupaten/kota lainnya di Kaltim.
“Selain itu, perkembangan berbagai industri juga menjadi pendorong peningkatan investasi, terutama dalam penyediaan dan peremajaan alat berat serta sarana produksi,” sambung Yusniar.
Kutai Kartanegara, Kutai Timur, dan Balikpapan menjadi lokasi strategis bagi aktivitas investasi tersebut seiring dengan tumbuhnya industri-industri baru.
Kekayaan sumber daya alam masih menjadi tulang punggung ekonomi di sebagian besar wilayah Kaltim melalui kontribusi net ekspor.
Namun, kehadiran IKN telah memberikan warna baru, terutama di PPU, di mana investasi menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi.
Peran konsumsi rumah tangga juga tetap signifikan sebagai penopang permintaan domestik di berbagai wilayah.
Tren akan terus berlanjut seiring dengan perkembangan pembangunan IKN dan upaya diversifikasi ekonomi di berbagai kabupaten/kota di Kaltim.
Editor : Dwi Restu A