KALTIMPOST.ID, Ketegangan kian memanas antara Israel dan Iran setelah Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke berbagai target strategis di wilayah Iran, termasuk fasilitas nuklir di Natanz dan beberapa pusat komando militer.
Akibat serangan ini, sejumlah tokoh penting militer Iran tewas. Di antaranya, perwira tinggi Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Hossein Salami dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Mohammad Bagheri.
Amirali Hajizadeh, komandan Kedirgantaraan Garda Revolusi yang bertanggung jawab atas pasukan rudal balistik Iran turut tewas dalam serangan. Sejumlah ilmuwan nuklir pun menjadi korban.
Iran pun tak tinggal diam. Atas serangan tersebut, Iran membalas dengan kekuatan penuh, dengan meluncurkan rudal balistik dan drone yang menargetkan beberapa titik di wilayah Israel.
Tak hanya itu, kelompok Houthi di Yaman yang merupakan sekutu Iran turut menembakkan rudal ke wilayah Israel.
Di tengah ketegangan yang meningkat, public dikejutkan oleh pergerakan mendadak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Ia dilaporkan melarikan diri dan terbang menuju Yunani. Netanyahu sempat berlindung di dalam bungker bersama para menteri senior.
Yang kemudian setelah itu, Netanyahu menaiki pesawat resmi kepresidenan Wing of Zion.
Mengutip dari media IRNA, stasiun televisi Israel, Channel 12 mengonfirmasi pesawat tersebut telah mendarat di ibu kota Yunani, Athena.
Kepergian Netanyahu di tengah kondisi perang, di mana rakyatnya sedang menghadapi ancaman besar pun menjadi pertanyaan.
Dalam narasi klasik perang, pemimpin biasanya menjadi simbol harapan dan keteguhan. Namun dalam kasus ini, absennya Netanyahu justru memberi sinyal kebingungan dan ketakutan.
Netanyahu bukan kali pertama meninggalkan Israel saat ketegangan meningkat. Pada April 2024, ia juga dikabarkan mengungsi ke luar negeri setelah menyerang fasilitas nuklir Iran.
Keputusannya untuk kabur dalam keadaan genting memunculkan kritik dari berbagai pihak, baik dalam negeri maupun internasional.
Sebagian analis menilai, keputusan untuk kabur justru memalukan dan menciptakan kesan bahwa rakyat dibiarkan bertahan sendiri.
Namun di sisi lain, para pendukung Netanyahu menyebut ini sebagai langkah perlindungan untuk menjaga stabilitas pemerintahan.
Jika pemimpin tewas, maka kekacauan bisa jauh lebih besar.
Editor : Hernawati