KALTIMPOST.ID, WASHINGTON DC – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, disebut makin condong pada opsi militer dalam menangani krisis antara Israel dan Iran, dengan mempertimbangkan pengerahan langsung kekuatan militer AS untuk membantu serangan terhadap instalasi nuklir Iran.
Langkah ini menandai menandai perubahan pendekatan dari sebelumnya yang mengedepankan diplomasi.
Menurut laporan CNN yang mengutip dua pejabat pemerintah AS tanpa menyebut nama, Trump mulai menunjukkan ketidaksabaran terhadap proses diplomatik. Meski masih membuka kemungkinan negosiasi, kini disebut lebih serius menimbang dukungan militer langsung ke Israel.
Diskusi internal Gedung Putih yang berlangsung sejak akhir pekan hingga awal pekan ini masih menekan diplomasi sebagai jalur penyelesaian. Namun, pada Selasa pagi waktu setempat, nada Trump berubah lebih keras.
“Saya sudah terlalu tertarik untuk berbicara dengan Iran,” ucap Trump kepada awak media saat tiba dari pertemuan G7 di Kanada. Ia menambahkan, “Saya ingin hasil yang final, bukan sekedar jeda.”
Melalui akun Truth Social, Trump menyuarakan tuntutan agar Iran menyerah tanpa syarat. Ia bahkan menyebut AS mengetahui lokasi Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran.
Baca Juga: Ibu Kandung Ronald Tannur Divonis 3 Tahun Penjara dalam Kasus Suap Hakim
Di sisi lain, Pentagon melaporkan sedang bersiap jika presiden memutuskan untuk mengerahkan dukungan logistik, seperti pengisian bahan bakar di udara bagi pesawat tempur Israel.
Sumber menyebutkan, lebih dari 30 pesawat tanker udara AS telah dikerahkan ke kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir untuk kemungkinan skenario ini.
Sementara itu, Israel telah melancarkan serangan udara terhadap sejumlah sasaran strategi di Iran, termasuk fasilitas nuklir dan militer. Serangan tersebut memakan korban jiwa lebih dari 200 orang, termasuk tokoh penting dari Garda Revolusi Iran (IRGC).
Menangapi agresi ini, Ayatollah Khamenei menyatakan bahwa Iran tidak akan tinggal diam. Ia diperingatkan bahwa musuh-musuh negaranya akan menanggung akibat yang buruk.
“Kami harus memberikan balasan keras terhadap negara Zionis. Tak ada ruang untuk belas kasihan,” tegasnya.
Editor : Uways Alqadrie