KALTIMPOST.ID-Israel kembali melancarkan seranganya di Kota Gaza pada Kamis (26/6/2025). Sebanyak 21 orang dilaporkan tewas dalam aksi ini.
Kantor berita AFP melaporkan militer Israel melakukan serangan udara yang menghantam sebuah sekolah yang menampung keluarga pengungsi. Di lokasi ini 18 orang meninggal.
Selain itu, serangan juga mengenai sebuah kamp tenda di Khan Younis.
Sementara itu, tiga orang lainnya dilaporkan tewas akibat tembakan tentara Israel saat para pengungsi sedang menunggu truk bantuan PBB di jalan utama di wilayah tengah Gaza.
Peristiwa ini menjadi bagian dari rangkaian insiden berdarah yang terjadi di titik-titik distribusi bantuan.
Serangan Israel tersebut dikecam karena terjadi di tengah upaya Mesir dan Qatar dengan bantuan Amerika Serikat untuk menjembatani kembali pembicaraan gencatan senjata antara Israel dan Hamas guna mengakhiri konflik yang masih berlangsung.
Hingga Kamis sore, militer Israel belum memberikan pernyataan resmi atas serangan-serangan tersebut.
Namun Israel sebelumnya menyatakan bahwa target operasi militernya adalah mengeliminasi militan Hamas yang melancarkan serangan dari Gaza ke Israel selatan pada 2023, serta membebaskan para sandera yang masih ditahan kelompok tersebut.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang memimpin koalisi sayap kanan, tetap bersikeras bahwa Hamas harus membebaskan seluruh sandera, melepaskan peran pemerintahannya, dan melucuti senjata jika ingin mengakhiri perang.
Di sisi lain, Hamas menyatakan bersedia membebaskan para sandera jika Israel menyetujui gencatan senjata permanen dan menarik pasukannya dari Gaza.
Meskipun telah menyatakan tidak akan lagi memerintah Gaza, Hamas tetap menolak untuk membahas pelucutan senjata.
Hingga jelang akhir Juni ini, perang balasan Israel telah menewaskan lebih dari 56.000 warga Palestina dan menghancurkan sebagian besar wilayah pesisir Gaza, menurut data otoritas kesehatan lokal.
Sebagian besar sandera yang telah dibebaskan sejauh ini dilepaskan melalui jalur negosiasi tidak langsung antara Hamas dan Israel.(*)
Editor : Thomas Dwi Priyandoko