KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Di balik proses evakuasi kendaraan yang karam bersama KMP Muchlisa di perairan Penajam, terdapat kisah perjuangan para penyelam yang bekerja dalam kondisi penuh risiko di bawah laut. Mereka bertaruh nyawa demi mengangkat satu per satu kendaraan dari dasar laut yang dalam dan arusnya kuat.
Zainuddin, salah satu penyelam senior asal Situbondo, Jawa Timur menjadi koordinator lapangan dalam proses evakuasi kendaraan penumpang KMP Muchlisa. Pria berusia 47 tahun ini telah lebih dari dua dekade mengabdi di dunia bawah laut, mulai dari proyek migas hingga evakuasi bangkai kapal.
“Saya sudah biasa dengan pekerjaan seperti ini, tapi tetap saja setiap kali menyelam, tantangannya berbeda,” ujarnya, Kamis (26/6/2025).
Sudah lebih dari sebulan sejak KMP Muchlisa tenggelam pada 5 Mei 2025, namun proses evakuasi kendaraan baru bisa dilakukan beberapa hari terakhir karena menunggu cuaca dan kesiapan alat.
Tim yang terdiri dari enam penyelam profesional ini bekerja dari pagi hingga sore, mengangkat kendaraan satu per satu dengan bantuan pelampung dan klotok sewaan warga lokal.
“Mobil pertama yang kami angkat adalah Brio hitam. Lalu disusul tiga motor, N-Max, Scoopy dan Jupiter MX. Semuanya dalam kondisi rusak parah, penuh tiram, karena sudah lama terendam,” jelas Zainuddin.
Untuk mengangkat kontainer, tim menggantungkan pelampung khusus, sekitar 20 unit per kontainer yang kemudian diseret ke darat menggunakan perahu tradisional menuju Pelabuhan Batu. Menurut Zainuddin, faktor alam tetap menjadi tantangan.
“Arus laut di sini sangat kuat, karena daerahnya memang jalur keluar masuk arus. Jadi itu yang paling kami waspadai,” katanya.
Kendaraan-kendaraan yang berhasil diangkat kini diletakkan sementara di kawasan Pelabuhan Batu, Kecamatan Penajam, dengan kondisi yang memprihatinkan. Semua kendaraan mengalami rusak berat dan sudah ditumbuhi tiram.
Zainuddin menuturkan, seluruh pekerjaan ini ditargetkan rampung dalam waktu tiga bulan. Dengan arus laut yang tak menentu dan posisi kendaraan yang sebagian terbalik, pekerjaan ini tidak hanya menuntut keahlian, tapi juga ketekunan dan kesabaran.
“Yang penting hati-hati dan kerja sama tim. Karena begitu kita di bawah air, kita benar-benar bergantung satu sama lain,” imbuhnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo