Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Tanaman Bisa Jadi Mobil dan Produk Ramah Lingkungan, Ini Cerita Inspiratif Mahasiwa Fahutan Unmul di Jepang (1)

Raden Roro Mira Budi Asih • Rabu, 2 Juli 2025 | 07:27 WIB

Teknologi berbasis kehutanan, yakni nanoselulosa yang mampu menciptakan kendaraan ramah lingkungan. (IST)
Teknologi berbasis kehutanan, yakni nanoselulosa yang mampu menciptakan kendaraan ramah lingkungan. (IST)

 

KALTIMPOST.ID, Langkah Rezky Ramandha Christiansyah begitu mantap saat menyusuri Heian Shrine di Kyoto, Jepang. Mengenakan kimono, ditemani mahasiswa Jepang yang dulu pernah dia sambut di Samarinda.

Seleksi International Student Exchange Program (ISEP) Forest Study Tour in Japan 2025 yang diikuti sejak November 2024 lalu, mengantarkannya jadi satu dari 12 mahasiswa beruntung yang bertolak ke Negeri Sakura pada akhir Juni kemarin.

Program kolaboratif itu melibatkan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Kyoto University, Mie University, dan Kyoto Prefectural University sebagai tuan rumah. Disponsori oleh Hayashida Junpei Shoten Co. Perusahaan importir kayu, terutama ulin yang memang khas dari Kalimantan.

Dari hampir 200 pendaftar, pria yang karib disapa Mandha itu berhasil lolos seleksi yang mencakup seleksi berkas, unjuk bakat budaya, dan wawancara dalam Bahasa Inggris.

“Ini sudah tahun ketiga, dan makin banyak mahasiswa kehutanan yang tertarik daftar. Mendaftar karena memang direkomendasikan sama dosen, di sisi lain saya juga punya kemampuan bahasa inggris dan bisa main wayang,” tuturnya.

Dia menceritakan, peserta wajib melewati tahapan panjang. Setelah seleksi berkas, dipilih 80 mahasiswa untuk masuk ke tahap wawancara dan unjuk budaya. Dari sana, tersaring 25 mahasiswa.

“Dipilih dan dilatih sebagai buddy (pendamping) mahasiswa Jepang dari tiga universitas tadi yang datang ke Samarinda pas Februari kemarin,” papar pria kelahiran 2001 itu.

Dari situ, dosen kembali melakukan seleksi hingga akhirnya hanya 12 mahasiswa terbaik yang diumumkan di awal Maret lalu untuk mengikuti kegiatan ke Jepang pada 13–25 Juni 2025.

Yang membuat Mandha menonjol adalah bakatnya dalam seni pewayangan, menjadi satu-satunya peserta yang menampilkan pertunjukan itu dalam sesi unjuk bakat. Dia juga dengan cukup tenang dan fasih menjawab pertanyaan saat sesi wawancara. Mulai dari alasannya ingin ke Jepang, hingga apa yang akan dilakukan usai kegiatan jika terpilih.

Pada 13 Juni, dia bertolak. Hari pertama petualangannya dimulai pada Senin 15 Juni. Mandha dan rekan-rekannya langsung disuguhi pengalaman budaya. Mereka mengenakan kimono dan berkeliling Heian dan Nanzenji Shrine di Kyoto, didampingi mahasiswa Jepang yang sebelumnya pernah berkunjung ke Samarinda.

“Jadi kami sudah saling kenal,” sebutnya lalu terkekeh. Hari kedua, mengunjungi Kyoto Prefectural University sekaligus mengikuti perkuliahan tentang teknologi berbasis kehutanan. Salah satu materi kuliah yang membekas adalah presentasi dari Asisten Profesor Tanaka di Research Institute for Sustainable Humanosphere (RISH) Kyoto University, bertema Driving Toward a Sustainable Society with Nanocellulose (NCV).

“Materi itu membuka wawasan kami. Bahwa dari tanaman, bahkan dari komponen sekecil nanoselulosa, bisa diciptakan berbagai produk ramah lingkungan seperti mobil, drone, hingga pendingin ruangan yang lebih efisien dan hemat energi,” kata Mandha kagum.

Selain itu, mereka juga mengunjungi Xylarium di Wood Research Institute (hutan pendidikan) Kyoto. Menyimpan lebih dari 15.000 sampel kayu dari 3.600 spesies. Di sana, mahasiswa mengikuti kuliah oleh Profesor Suyako Tazuro tentang hubungan antara manusia dan tumbuhan melalui studi identifikasi kayu. (bersambung/*)

 

 

Editor : Muhammad Rizki
#Kyoto University #fakultas kehutanan #jepang #UNMUL #fakultas kehutanan unmul