KALTIMPOST.ID, Bagaimana Jepang memanfaatkan produk hutan dengan cermat dan tetap menjaga kelestarian alamnya, menginspirasi 12 mahasiswa Fahutan Unmul. Terlebih hutan Indonesia, apalagi Kalimantan, punya kekayaan alam yang belum tergarap maksimal.
Perjalanan 12 mahasiswa beruntung dari Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, dalam program International Student Exchange Program (ISEP) Forest Study Tour in Japan 2025, berakhir. Selama sepuluh hari di Negeri Sakura, para mahasiswa tak hanya belajar soal teknologi dan pengelolaan hutan, tapi juga mendapat pelajaran penting tentang budaya, komitmen, dan arah masa depan mereka.
Perjalanan hari ketujuh membawa peserta ke Kota Nara, wilayah yang berbeda nuansa dari Kyoto. Di sini, mahasiswa berkunjung ke Hannyaji Temple dan belajar tentang kepercayaan lokal bahwa rusa adalah tunggangan dewa penjaga kuil. Karena itulah, rusa dibiarkan bebas berkeliaran dan menjadi bagian dari atraksi utama.
"Kami bisa memberi makan rusa dengan biskuit khusus. Nah, setelah dikasih biskuit itu, kalau kita membungkuk khas orang Jepang, rusanya juga ikut bungkuk. Kayak terima kasih gitu. Seru banget,” beber Rezky Ramandha Christiansyah atau Mandha.
Kunjungan berlanjut ke Todaiji Temple, kuil ikonik yang menyimpan patung Buddha raksasa, menambah wawasan peserta mengenai sejarah spiritual Jepang yang terjaga hingga kini. Setelah hari-hari padat dengan kuliah dan kunjungan lapangan, hari kedelapan digunakan untuk mengunjungi destinasi wisata populer Fushimi Inari Taisha.
Kuil seribu gerbang torii yang mendunia dengan warna merah nan ikonik. Mandha dan kawan-kawannya juga menghabiskan waktu di sekitar Kyoto Station. Menikmati suasana kota, berbelanja, dan memperdalam interaksi budaya dengan masyarakat sekitar.
Di hari kesembilan, peserta kembali ke Kyoto Prefectural University untuk melakukan presentasi akhir dari seluruh pengalaman yang mereka dapatkan selama program. Empat perwakilan mahasiswa mempresentasikan beragam tema, mulai dari komparasi vegetasi, pemanfaatan nanoselulosa, pengalaman budaya, hingga atmosfer pembelajaran yang berbeda dari Indonesia.
“Presentasi itu jadi menjadi ajang refleksi bersama. Kami tak hanya belajar, tapi juga menyampaikan apa yang bisa kami bawa pulang untuk diterapkan di Indonesia,” sebutnya. Tanggal 24 Juni 2025 menjadi momen penutupan program. Sebelum kembali ke Tanah Air, peserta diajak menjelajah Osaka, menikmati suasana kota modern Jepang.
Sore harinya, seluruh rangkaian ditutup dengan closing ceremony yang berlangsung hangat dan penuh kesan. Selama sepuluh hari, Mandha mengaku terinspirasi oleh bagaimana Jepang memanfaatkan produk hutan dengan cermat dan tetap menjaga kelestarian alamnya. “Kami jadi termotivasi untuk melanjutkan pendidikan, mengembangkan penelitian, dan membawa ide-ide dari Jepang agar bisa diadaptasi di Indonesia,” serunya.
Yang menarik, dikatakan Mandha bahwa teman-temannya mengaku mendapat perspektif baru tentang masa depan mereka. Utamanya ingin melanjutkan pendidikan di sana.
“Sebelum ikut program ini, jujur saya belum terlalu yakin mau jadi apa. Intinya kerja lah. Tapi setelah melihat bagaimana mahasiswa Jepang serius kuliah dan fokus pada riset, pengin jadi peneliti juga. Terlebih hutan Indonesia, apalagi Kalimantan, punya kekayaan alam yang belum tergarap maksimal,” tambahnya.
Hutan Indonesia khas dengan ciri polikultur, keanekaragaman hayati. Di sana-lah tersimpan banyak potensi luas dan terbuka. Apalagi, Unmul memiliki visi untuk menjadi center of excellence in tropical studies.
Program ISEP 2025 bukan hanya soal pertukaran pelajar, tapi pertukaran semangat, visi, dan cara pandang terhadap hutan dan masa depan. Bagi Mandha, pulang dari Jepang bukan akhir perjalanan, tapi awal dari peran baru sebagai agen perubahan di bidang kehutanan dan lingkungan Indonesia. (*)
Editor : Muhammad Rizki