Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Fakta Mengerikan! Pesawat Air India Jatuh setelah Pilot Kebingungan Posisi Saklar Mesin, Pakar Beri Jawaban

Thomas Dwi Priyandoko • Sabtu, 12 Juli 2025 | 08:14 WIB
Bangkai pesawat Air India yang jatuh dievakuasi petugas.
Bangkai pesawat Air India yang jatuh dievakuasi petugas.

KALTIMPOST.ID, NEW DELHI – Sebuah fakta terungkap dari hasil investigasi jatuhnya pesawat Air India pada Juni 2025 yang menewaskan 260 orang.

Kecelakaan tersebut terjadi setelah saklar pemutus bahan bakar mesin tiba-tiba berpindah posisi secara hampir bersamaan, yang memutus pasokan bahan bakar ke mesin.

Akibatnya, pesawat Boeing 787 Dreamliner yang berangkat dari Ahmedabad menuju London kehilangan daya dorong segera setelah lepas landas.

Demikian laporan awal yang dirilis pada 12 Juli oleh Biro Investigasi Kecelakaan Pesawat India (AAIB).

Kecelakaan ini pun menjadi insiden penerbangan paling mematikan dalam satu dekade terakhir.

Laporan tersebut menimbulkan pertanyaan baru mengenai posisi saklar pemutus bahan bakar yang krusial, meski tidak menemukan indikasi kesalahan pada pihak Boeing maupun General Electric (GE) selaku pembuat mesin.

Kecelakaan ini menjadi tantangan besar bagi Tata Group yang sejak 2022 mengambil alih Air India dari pemerintah dan berupaya mengembalikan reputasi maskapai tersebut.

Rekaman CCTV juga menunjukkan bahwa sesaat setelah pesawat tinggal landas, sumber daya cadangan bernama ram air turbine aktif—menandakan hilangnya daya dari mesin utama.

Dalam detik-detik terakhir penerbangan, rekaman suara kokpit merekam seorang pilot bertanya kepada rekannya, “Kenapa kamu matikan bahan bakarnya?”

Rekan pilot itu menjawab bahwa ia tidak melakukannya.

Laporan tidak menyebut siapa yang mengucapkan kalimat tersebut—kapten atau kopilot—maupun siapa yang mengirimkan sinyal darurat “Mayday, Mayday, Mayday” sebelum pesawat jatuh.

Kapten penerbangan adalah Sumeet Sabharwal (56), dengan pengalaman terbang 15.638 jam dan dikenal sebagai instruktur Air India. Sedangkan kopilotnya adalah Clive Kunder (32), yang telah memiliki 3.403 jam terbang.

Saklar bahan bakar dilaporkan berpindah dari posisi “run” ke “cutoff” secara hampir bersamaan tak lama setelah lepas landas. Laporan awal tidak menjelaskan bagaimana hal itu bisa terjadi.

Para ahli menyatakan bahwa seorang pilot tidak bisa secara tidak sengaja memindahkan saklar bahan bakar. Anthony Brickhouse, pakar keselamatan penerbangan AS, bertanya: “Kalau itu dilakukan pilot, mengapa?”

Menurut pakar lain, John Nance, jeda satu detik antara kedua saklar berpindah menunjukkan kemungkinan dipindahkan secara manual satu per satu.

Ia juga menegaskan bahwa mematikan saklar di awal penerbangan adalah tindakan tidak lazim dan hampir pasti akan langsung mematikan mesin.

Biasanya, saklar hanya dipindahkan ke “cutoff” saat pesawat telah sampai di gerbang bandara atau dalam situasi darurat seperti kebakaran mesin. Namun, laporan tidak menyebutkan adanya situasi darurat.

Di lokasi kecelakaan di Ahmedabad, saklar ditemukan kembali dalam posisi “run”. Laporan juga menyebut ada indikasi kedua mesin sempat mencoba menyala kembali sebelum jatuh dari ketinggian rendah.

Air India mengakui laporan tersebut dan menyatakan bekerja sama dengan otoritas India, namun menolak memberikan komentar lebih lanjut.

Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB) menyampaikan apresiasi atas kerja sama pihak India dan menyatakan tidak ada rekomendasi khusus bagi operator Boeing 787 maupun mesin GE dalam laporan ini.

Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) menyatakan akan mengikuti temuan dan segera menanggapi risiko yang mungkin ditemukan.

Boeing mengatakan akan terus mendukung proses investigasi dan kliennya, Air India. GE Aerospace belum memberikan tanggapan.

Investigasi Masih Berlanjut

AAIB, yang berada di bawah Kementerian Penerbangan Sipil India, memimpin penyelidikan atas kecelakaan yang menewaskan 241 dari 242 orang di dalam pesawat serta 19 orang di darat.

Black box (kotak hitam)—yang mencakup perekam suara kokpit dan data penerbangan—telah ditemukan beberapa hari setelah kecelakaan dan berhasil diunduh di India. Kotak ini berisi data penting seperti ketinggian, kecepatan udara, dan komunikasi akhir pilot yang dapat membantu menemukan penyebab pasti kecelakaan.

Baca Juga: Unmul Valuasi Kerugian Ekonomi dari Kerusakan KHDTK

Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa menyatakan akan menyelidiki maskapai hemat Air India Express setelah laporan Reuters menyebut maskapai itu tidak mengganti komponen mesin Airbus A320 sesuai tenggat dan memalsukan dokumen kepatuhan.

Otoritas penerbangan India juga telah memperingatkan Air India atas pelanggaran dalam pengoperasian tiga pesawat Airbus yang belum menjalani pemeriksaan keselamatan peluncuran darurat, serta pelanggaran serius terkait jam terbang pilot.(*)

 

Editor : Thomas Priyandoko
#pesawat jatuh #internasional #Kotak Hitam #air india #new delhi