Sejak Jumat (25/7/2025), serangkaian bentrokan dilaporkan terjadi di sedikitnya 12 titik, menewaskan sedikitnya 16 orang dan menyebabkan lebih dari 100 ribu warga sipil mengungsi.
Menurut data Kementerian Dalam Negeri Thailand, evakuasi massal dilakukan di wilayah Provinsi Surin, Sisaket, Buriram, dan Ubon Ratchathani yang berbatasan langsung dengan Kamboja.
Jumlah korban jiwa terdiri dari 14 warga sipil Thailand, satu personel militer, serta puluhan orang yang mengalami luka-luka, termasuk 15 tentara.
Pusat ketegangan berada di sekitar Candi Preah Vihear, kompleks kuil Hindu kuno dari abad ke-11 yang dibangun di tebing curam Pegunungan Dangrek.
Meski Mahkamah Internasional pada 1962 telah memutuskan bahwa kuil itu berada di wilayah Kamboja, kawasan di sekelilingnya, termasuk jalur akses menuju kuil, masih menjadi sumber perselisihan.
Persoalan ini dipicu oleh perbedaan interpretasi batas wilayah yang ditinggalkan kolonial Prancis. Sengketa semakin rumit karena kawasan candi tidak hanya memiliki nilai sejarah dan arsitektur tinggi, tetapi juga menjadi simbol nasionalisme dan identitas budaya bagi kedua negara.
Tak heran jika setiap aktivitas militer, pembangunan infrastruktur, hingga pemasangan bendera di kawasan sekitar kerap memicu reaksi keras.
Dalam eskalasi terbaru, militer Kamboja disebut mengerahkan artileri berat untuk memperkuat posisi di sekitar garis sengketa, sementara Thailand menurunkan kendaraan lapis baja dan mengerahkan drone militer ke wilayah perbatasan. Saling tembak artileri menyebabkan kerusakan pada sejumlah infrastruktur sipil serta meningkatkan risiko bagi warga sekitar.
Pemerintah Thailand telah menyampaikan nota diplomatik protes ke Phnom Penh dan menolak usulan mediasi internasional sebelum Kamboja menarik mundur pasukannya dari wilayah yang diklaim Bangkok sebagai zona netral.
Sebaliknya, Kamboja menyatakan bahwa keberadaan militernya sah di wilayah kedaulatannya berdasarkan keputusan hukum internasional.
Para pengamat regional menilai konflik ini mencerminkan lemahnya mekanisme penyelesaian sengketa di kawasan Asia Tenggara. Meskipun kedua negara sama-sama anggota ASEAN, belum ada inisiatif konkret dari organisasi regional tersebut untuk menengahi konflik.
Baca Juga: Kalender Agustus 2025 Berdasarkan SKB 3 Menteri: Libur Cuma Sekali, tapi Banjir Hari Penting
Sementara itu, masyarakat sipil di kedua sisi perbatasan kini menghadapi ancaman serius terhadap keselamatan dan mata pencaharian mereka.
Ribuan anak-anak dan perempuan mengungsi ke tenda-tenda darurat, dengan akses terbatas ke air bersih, makanan, dan layanan kesehatan.
Daftar Titik Bentrokan dan Pemicu Konflik Terbaru
Bentrokan bersenjata tercatat terjadi di wilayah-wilayah berikut:
1. Ban Ta Muen, Provinsi Surin
2. Chong Sa-Ngam, Provinsi Sisaket
3. Phu Ma Khua, perbatasan Preah Vihear-Sisaket
4. Pasar O Smach, wilayah lintas batas Oddar Meanchey
5. Sekitar jalur utama menuju Preah Vihear (akses dari Thailand)
6. Daerah penyangga kawasan wisata Phanom Rung
7. Kamp militer non-resmi di wilayah klaim Thailand
8. Zona netral di barat daya kompleks candi
Pemicu konflik terkini:
Thailand membangun pos pengawasan militer permanen di zona yang diklaim netral.
Aktivitas pembangunan jalan oleh Kamboja yang dinilai melanggar perjanjian sementara.
Kegiatan wisata yang melibatkan pasukan keamanan masing-masing pihak.
Penolakan Thailand terhadap peta baru yang diajukan Kamboja pada forum UNESCO.
Penembakan peringatan terhadap drone pengintai oleh kedua negara.
Apa yang Diperebutkan?
Wilayah yang diperebutkan meliputi:
Zona sekitar Candi Preah Vihear (4,6 km²), yang belum memiliki demarkasi teknis.
Akses utama dari sisi Thailand yang dianggap vital untuk pariwisata dan pengiriman logistik.
Sumber air, hutan lindung, dan jalur perdagangan lokal yang bernilai ekonomi tinggi.
Jumlah Penduduk dan Potensi Ekonomi Wilayah Konflik
Wilayah perbatasan yang terdampak dihuni oleh lebih dari 1 juta jiwa, tersebar di:
Thailand: Provinsi Surin, Sisaket, Buriram, dan Ubon Ratchathani
Kamboja: Provinsi Preah Vihear dan Oddar Meanchey
Baca Juga: Viral Video Asusila Guru PPPK di Bima, Komite Sekolah dan Warga Minta Dicopot
Sebagian besar masyarakat bekerja di sektor:
Pertanian: padi, singkong, jagung, kacang tanah
Perdagangan perbatasan: hasil tani, kayu, tekstil, produk olahan
Pariwisata: situs sejarah seperti Preah Vihear, Phanom Rung, dan O Smach
Namun potensi tersebut belum maksimal akibat konflik berkepanjangan, terbatasnya akses infrastruktur, dan ketidakpastian keamanan. Wilayah yang semestinya menjadi koridor wisata budaya ASEAN kini menjadi zona militer aktif.
Kronologi Singkat Konflik Preah Vihear
1907: Peta kolonial Prancis menunjukkan Preah Vihear masuk wilayah Kamboja.
1954: Thailand menguasai kawasan setelah Prancis angkat kaki dari Indochina.
1962: Mahkamah Internasional menyatakan candi milik Kamboja, tetapi akses utama tetap dari Thailand.
2008–2011: Konflik bersenjata besar pecah; puluhan tewas, ratusan luka.
2013: Mahkamah Internasional kembali menegaskan wilayah sekitar candi milik Kamboja, tapi tak kunjung diterapkan di lapangan.
2025: Bentrokan kembali terjadi akibat aktivitas militer dan infrastruktur baru dari kedua pihak.
Editor : Uways Alqadrie