Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Mengenal Hubungan Kwik Kian Gie dan Megawati Soekarnoputri: Seperti Keluarga, Bisa Kunjungi Tanpa Janji

Dwi Puspitarini • Selasa, 29 Juli 2025 | 08:05 WIB

 

 

Kolase Megawati Soekarnoputri dan Kwik Kian Gie.
Kolase Megawati Soekarnoputri dan Kwik Kian Gie.
 

KALTIMPOST.ID, Kwik Kian Gie dikenal luas sebagai salah satu ekonom senior dan politikus terkemuka Indonesia.

Selama puluhan tahun, ia menjadi tokoh penting di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), terutama di masa-masa penting era reformasi.

Namanya tak lepas dari sejarah politik nasional, khususnya ketika menjabat di kabinet Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Selain dikenal sebagai pendiri sejumlah lembaga pendidikan bergengsi, seperti Prasetiya Mulya dan IBII (yang kini menjadi Kwik Kian Gie School of Business), Kwik juga dipercaya menempati posisi strategis di pemerintahan.

Ia menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Ekonomi di era Gus Dur (1999–2000) dan menjadi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas di masa pemerintahan Megawati (2001–2004).

 Baca Juga: Profil Kwik Kian Gie Wafat di Usia 90 Tahun, Pemikir Bebas yang Hidup untuk Rakyat

Kedekatan yang Tak Biasa, Antara Politik dan Personal

Hubungan Kwik Kian Gie dengan Megawati Soekarnoputri tergolong unik—dekat secara politik, namun juga sangat personal.

Dalam buku catatan Dahlan Iskan (2025), Kwik menyebut bahwa ia bisa mengunjungi rumah Megawati kapan saja tanpa harus membuat janji, layaknya anggota keluarga sendiri.

Namun, kedekatan itu tak serta-merta menjadikannya yes man. Justru sebaliknya, Kwik kerap mengkritik Megawati secara terbuka, terutama dalam hal kebijakan ekonomi yang dianggapnya tidak berpihak pada rakyat.

Salah satu momen paling mencolok adalah ketika ia menolak Instruksi Presiden yang dikeluarkan Megawati terkait penyelesaian utang BLBI.

Meski menyuarakan perbedaan pendapat secara terbuka, ia tetap menjaga hubungan profesional dan pribadi yang baik dengan sang Ketua Umum.

 Baca Juga: Kiprah Kwik Kian Gie, Ekonom Tionghoa yang Memutuskan Pulang dari Belanda untuk Membangun Indonesia

Konsistensi Ideologi dan Keteguhan Sikap

Kwik bergabung dengan PDI pada 1987 dan kemudian menjabat sebagai Ketua DPP serta Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang).

Saat Megawati dijatuhkan oleh rezim Orde Baru, Kwik tetap setia mendukungnya dan menolak bergabung dengan faksi lain.

Ia terus mendukung saat PDI berubah menjadi PDIP-Perjuangan, memperlihatkan loyalitas politik yang langka dan solid.

Dalam wawancara dengan sejumlah media nasional, termasuk Kompas dan Tempo, Kwik mengaku pernah kecewa karena sarannya tidak diindahkan oleh Megawati maupun Presiden Joko Widodo.

Namun, ia tidak mundur atau keluar dari partai. Bahkan ketika bergabung sebagai penasihat ekonomi untuk pasangan Prabowo-Sandiaga Uno di Pilpres 2019, ia tetap diakui sebagai kader PDIP—tanpa teguran atau pencoretan.

 Baca Juga: Logo dan Tema Resmi Hari Bakti TNI AU 2025 yang Bikin Bangga Bangsa

Kini, tokoh ekonom senior atau mantan menteri di era Presiden Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri, Kwik Kian Gie wafat. Ia wafat pada Senin, 28 Juli 2025 pukul 22.00 WIB di usia 90 tahun.

Sikap Kwik mencerminkan kedewasaan dalam berpolitik. Ia tidak segan berbeda pendapat dengan tokoh sentral partainya, namun tetap menjunjung tinggi etika, loyalitas, dan komunikasi yang baik. ***

Editor : Dwi Puspitarini
#tokoh ekonomi #kabinet megawati #Kwik Kian Gie wafat #Hubungan Kwik Kian Gie dan Megawati Soekarnoputri #keluarga #pdip