Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Financial Freedom Prosesnya Bertahap, Bukan Ditentukan Usia atau Modal

Ulil Mu'Awanah • Sabtu, 9 Agustus 2025 | 16:18 WIB
Dosen dan peneliti dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Balikpapan Bambang Saputra.
Dosen dan peneliti dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Balikpapan Bambang Saputra.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Dosen dan peneliti dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Balikpapan Bambang Saputra memberikan pandangan mendalam mengenai konsep kebebasan finansial atau financial freedom dan pentingnya investasi dalam mencapai tujuan tersebut.

Menurut Bambang, kebebasan finansial adalah kondisi di mana aset bekerja untuk kita, bukan sebaliknya. Sehingga kebutuhan hidup dapat terpenuhi dari penghasilan yang dihasilkan oleh aset yang diinvestasikan. “Penting untuk membedakan antara uang dan aset. Aset bersifat produktif dan menghasilkan, sementara uang belum tentu,” jelas Bambang.

Ia menegaskan bahwa yang benar-benar bekerja adalah aset, karena aset bersifat produktif dan dapat menghasilkan keuntungan. Dalam hal investasi, Bambang menyatakan pilihan sangat beragam, mulai dari sektor keuangan hingga sektor riil. Namun, keputusan investasi sebaiknya didasari pada prinsip trade-off antara risiko dan imbal hasil.

“Semakin tinggi risikonya, semakin tinggi untungnya. Sebaliknya, semakin rendah risikonya, maka keuntungan yang diperoleh juga lebih rendah. Semua tergantung pada psikologi investor ingin ke arah mana,” ujarnya.

Bagi mereka yang menghadapi tantangan finansial, seperti generasi sandwich atau pekerja dengan penghasilan di bawah upah minimum regional (UMR), Bambang menyarankan pendekatan investasi yang berbeda.

“Jika penghasilan masih di bawah UMR, sebenarnya belum perlu bicara investasi dalam arti aset materi. Prioritas awal adalah investasi pada diri sendiri, seperti meningkatkan kemampuan dan keahlian di bidangnya, sebelum menjadi investor,” katanya.

Bambang menekankan bahwa pencapaian kebebasan finansial merupakan proses bertahap dan bukan sekadar ditentukan oleh usia atau modal awal. Modal material, seperti warisan, bisa menjadi keuntungan awal tetapi tidak menjamin kesuksesan finansial jika tidak dikelola secara baik.

Ia mengingatkan kasus perusahaan besar yang gagal mengelola aset warisan sebagai contoh pentingnya kemampuan mengelola aset. “Contohnya, perusahaan besar tekstil seperti Sritex kan diwariskan, tetapi kemudian mengalami kehancuran karena pengelolaan utang yang buruk dan PHK (pemutusan hubungan kerja) besar-besaran. Ini menunjukkan bahwa modal material itu hanya kekuatan jika dikelola dengan benar dan melalui proses pembelajaran yang tepat,” tuturnya.

Menurut Bambang, pola pikir pertumbuhan (growth mindset) menjadi kunci terpenting dalam mencapai kebebasan finansial. Dengan mindset yang terus berkembang, seseorang dapat mengelola dan mengembangkan asetnya secara efektif hingga akhirnya mencapai kestabilan finansial yang diimpikan. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#modal #investasi #umr #aset #pendapatan #Penghasilan #Usia #financial #Financial Freedom