Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi merinci, sebanyak 357 orang diamankan pada 25 Agustus, lalu 814 orang pada 28–29 Agustus, serta 69 orang pada 31 Agustus.
“Dari total itu, 1.113 orang sudah dipulangkan. Sementara 10 orang ditetapkan sebagai tersangka, sembilan di antaranya sudah ditahan, satu lagi masih buron,” kata Ade Ary, Senin (1/9).
Selain itu, polisi juga menemukan 22 orang positif narkoba. Mereka terdiri dari 14 orang pengguna sabu, tiga orang ganja, dan lima orang positif benzoat.
Kerusuhan sendiri bermula dari aksi damai pelajar dan masyarakat yang menyuarakan isu nasional. Namun, situasi berubah ricuh setelah diduga disusupi provokator.
“Akibatnya, sejumlah fasilitas umum rusak, mulai dari halte TransJakarta, pagar pembatas jalan, hingga kendaraan dinas Polri. Belasan anggota kami juga terluka akibat lemparan batu dan bom molotov,” terang Ade Ary.
Polisi menegaskan akan terus melakukan patroli dan penyelidikan untuk memastikan situasi di Jakarta tetap kondusif usai rangkaian aksi tersebut.
Kerugian Infrastruktur Capai Rp55 Miliar
Gelombang aksi unjuk rasa di Jakarta pekan lalu menyisakan kerusakan parah pada sejumlah fasilitas publik. Gubernur Jakarta Pramono Anung Wibowo menyebut total kerugian mencapai lebih dari Rp55 miliar.
“Kerusakan terbesar ada di halte TransJakarta dengan nilai Rp41,6 miliar. Untuk MRT sebesar Rp3,3 miliar, serta CCTV dan infrastruktur lainnya Rp5,5 miliar. Totalnya Rp55 miliar,” kata Pramono usai rapat Forkopimda di Balai Kota, Senin (1/9).
Ia merinci, sebanyak 22 halte TransJakarta mengalami kerusakan, dengan enam di antaranya dibakar dan dijarah, sementara 16 lainnya dirusak. Selain itu, satu gerbang tol juga tak luput dari amukan massa. Pemerintah Provinsi Jakarta bakal menggunakan dana kontijensi untuk perbaikan segera.
Kericuhan demonstrasi bermula dari aksi mahasiswa dan buruh di depan Gedung MPR/DPR, Senayan, pada 28 Agustus. Awalnya berlangsung tertib, namun berujung bentrok.
Seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, tewas setelah ditabrak mobil Brimob. Insiden itu memicu kemarahan publik dan meluas hingga ke berbagai wilayah.
Kantor polisi, halte, hingga fasilitas umum di Jakarta Timur dan Jakarta Pusat jadi sasaran amukan. Kerusuhan juga menyebar ke daerah lain, termasuk Bandung, Semarang, Solo, NTB, hingga Makassar. Di Makassar, gedung DPRD kota dibakar massa, menewaskan tiga staf yang terjebak di dalam.
Presiden Prabowo Subianto menyebut aksi anarkistis itu tak sekadar demonstrasi. “Ada gejala tindakan melawan hukum, bahkan mengarah pada makar dan terorisme,” ujarnya di Istana, Minggu (31/8).
Meski begitu, ia menegaskan pemerintah tetap menghormati kebebasan berpendapat sepanjang dilakukan secara damai dan sesuai hukum.
Editor : Uways Alqadrie