Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Catatan Perjalanan KPG ke Jepang dan Amerika: Ground Zero, dari Luka Mendalam Menjadi Doa yang Mengalir (10)

Wiji Winarko • Kamis, 11 September 2025 | 08:47 WIB
Ground Zero di sini dulu lokasi gedung World Trade Center yang runtuh dalam serangan 11 September 2001. Terlihat mawar putih tepat di nama korban yang berulang tahun hari itu. (FOTO WIJI WINARKO/BTV)
Ground Zero di sini dulu lokasi gedung World Trade Center yang runtuh dalam serangan 11 September 2001. Terlihat mawar putih tepat di nama korban yang berulang tahun hari itu. (FOTO WIJI WINARKO/BTV)

Kunjungan ke Ground Zero mengingatkan pada duka 9/11. Juga simbol keberanian dan harapan yang tetap hidup di tengah luka Manhattan.

WIJI WINARKO, New York

TEPAT setelah mengikuti upacara peringatan Kemerdekaan RI ke-80 di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di New York, saya beserta lima rekan pimpinan Kaltim Post Group (KPG) “berziarah” ke salah satu tempat bersejarah kelam di era modern Amerika.

Ground Zero, New York, lokasi di mana tragedi runtuhnya menara kembar World Trade Center (WTC) yang kemudian dikenal dengan peristiwa 9/11.

Dua puluh empat tahun sudah berlalu sejak serangan 11 September 2001 meruntuhkan Menara Kembar World Trade Center.

Tetapi getaran tragedi itu masih terasa di udara Manhattan. Saat itu, hampir sebulan jelang peringatan 24 tahun tragedi tersebut, ingatan tentang momen saya berdiri di sana terasa kembali begitu hidup.

Di hadapan saya terbentang 9/11 Memorial, sebuah plaza luas yang rapi, teduh, dan sunyi meski berada di jantung kota yang tidak pernah tidur.

Di tengah plaza, dua kolam raksasa --disebut North Pool dan South Pool-- dibangun tepat di jejak kaki dua menara kembar yang runtuh. Kolam ini bukan sekadar instalasi seni; mereka adalah simbol kehilangan dan penghormatan.

Air di kolam itu mengalir dari setiap sisi ke arah tengah, lalu jatuh ke lubang persegi yang lebih kecil di dasar kolam.

Dari atas, alirannya terlihat tenang, tetapi ketika menatap ke bawah, kita disadarkan oleh simbolnya: air itu jatuh ke dalam ruang yang gelap, dalam, dan tak berujung. Melambangkan duka yang begitu dalam --kehilangan yang tidak bisa diisi kembali.

Sekitar bibir kolam, terdapat panel perunggu tempat 2.983 nama korban terukir satu demi satu. Nama-nama itu bukan hanya dari tragedi 11 September, tetapi juga mereka yang meninggal dalam serangan bom pertama di WTC tahun 1993.

Setiap huruf yang diukir di sana adalah sebuah kehidupan, sebuah cerita, dan sebuah kehilangan.

Baca Juga: Balikpapan Loloskan 12 Atlet Panjat Tebing ke Porprov Kaltim VIII/2026

Beberapa nama terasa hangat di bawah tangan karena di bawahnya ada sistem pemanas --bukan untuk gaya, tetapi agar keluarga korban bisa menyentuh nama orang yang mereka cintai bahkan saat musim dingin bersalju.

“Waktu peristiwa itu, ada enggak warga Indonesia yang jadi korban,” tanya Wakil Direktur Kaltim Post Supriyono, saat melihat ukiran nama-nama korban di dinding kolam.

Di antara ribuan nama itu, saya melihat setangkai mawar putih yang diletakkan di salah satu panel. Bunga itu bukan hiasan acak.

Ternyata, staf memorial setiap hari menaruh bunga putih di nama korban yang berulang tahun hari itu.

Sebuah isyarat kecil namun menyentuh --pengingat bahwa meski mereka telah tiada, setiap tahun, setiap nama, tetap dirayakan, tetap diingat, tetap dicintai.

Bukan hanya memorial yang mengisi kawasan itu. Tepat di sebelahnya, One World Trade Center menjulang gagah.

“Itu gedung baru pengganti WTC,” terang Direktur Kaltim Post Erwin Dede Nugroho yang jadi tour leader kami, sambil menunjuk gedung tinggi yang menjulang di belakang kolam.

Diresmikan tahun 2014, gedung setinggi 1.776 kaki itu dibangun dengan angka simbolis --tahun 1776 adalah tahun kemerdekaan Amerika Serikat.

Dengan fasad kaca yang memantulkan langit, gedung itu seakan menjadi pernyataan diam namun tegas: Kami mungkin runtuh, tetapi kami tidak pernah kalah.

Bangunan itu bukan sekadar kantor. Ia adalah lambang keberanian dan ketahanan, bagian dari rencana besar untuk memulihkan kawasan yang dulu porak-poranda.

Di bawahnya, transportasi modern seperti Oculus, pusat perbelanjaan, dan jalur kereta bawah tanah baru menjadi bagian dari denyut hidup baru kawasan yang dulu dilanda kehancuran.

Siang itu, masih dalam suasana liburan musim panas, meski Ground Zero berada di tengah hiruk-pikuk Manhattan. Suasana di dalam plaza terasa seperti memasuki ruang sakral.

Orang-orang berbicara pelan. Banyak yang hanya berdiri memandang air, beberapa menunduk berdoa, beberapa memegang tangan keluarga mereka lebih erat dari biasanya.

Baca Juga: KPK Siap Fasilitasi Dialog Pusat dan Daerah Soal Pemangkasan Dana TKD Kaltim

Di salah satu sudut plaza, berdiri sebuah pohon istimewa: Survivor Tree, pohon pir Callery yang ditemukan rusak parah di reruntuhan WTC.

Pohon itu dirawat, diselamatkan, dan akhirnya kembali ditanam di sana --hidup, hijau, dan kokoh. Simbol bahwa di ten

gah kehancuran, masih ada kehidupan yang bertahan.

Saat peringatan tragedi 9/11 berlangsung keluarga korban, petugas penyelamat, dan masyarakat biasanya akan berkumpul.

Nama-nama akan dibacakan satu demi satu, lonceng akan dibunyikan, dan kota akan kembali mengheningkan cipta.

Ground Zero bukan sekadar tempat untuk mengenang. Ia adalah ruang untuk belajar --tentang rapuhnya damai, tentang harga sebuah keberanian, tentang kekuatan untuk bangkit dari kehancuran.

Berdiri di sana, saya menyadari bahwa tempat itu bukan hanya tentang tragedi; ia juga tentang pengingat akan kemanusiaan. Bahwa di balik teror dan duka, selalu ada cinta, solidaritas, dan harapan yang terus hidup.

Dan saat saya melangkah pergi bulan lalu. Saya sempat menoleh sekali lagi. One World Trade Center memantulkan langit Manhattan yang cerah.

Dalam diam, seolah berbisik: Kami mungkin pernah diruntuhkan, tetapi kami tidak pernah kalah. Kami mungkin pernah dilukai, tetapi kami tak pernah berhenti berharap. (rd)

Editor : Romdani.
#penajam paser utara #New York 2025 #kaltim post #Kutai Barat #amerika serikat (AS)