Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Catatan Perjalanan KPG ke Jepang dan Amerika: Tanpa Antre Panjang di Walmart dengan Self-Checkout (11)

Romdani. • Jumat, 12 September 2025 | 07:35 WIB
Erwin D Nugroho yang mencoba fasilitas self-checkout saat membayar belanjaan di Walmart. (FOTO SUPRIYONO/KP)
Erwin D Nugroho yang mencoba fasilitas self-checkout saat membayar belanjaan di Walmart. (FOTO SUPRIYONO/KP)

Tinggal di Cheverly, Maryland membuat kami lebih banyak memasak. Belanja di Walmart, yang lokasinya tidak jauh dari rumah. Lebih cepat dengan teknologi kasir mandiri.

ROMDANI, Maryland

PERJALANAN kerja bagi rombongan Kaltim Post Group (KPG) bukan sekadar memenuhi jadwal dan menghadiri undangan resmi.

Ada ruang lain yang tak kalah penting. Membuka wawasan, merasakan budaya baru, dan menemukan kenyamanan di tengah ritme kerja yang padat.

Dalam lawatan ke Amerika Serikat (AS), rombongan dipimpin Direktur Kaltim Post Erwin D Nugroho.

Kami mendapat pengalaman berkesan ketika memilih bermukim di Cheverly, Maryland. Sebuah kota kecil yang tak jauh dari pusat Washington DC.

Selain saya dan Erwin, terdapat empat jajaran KPG. Seperti Wakil Direktur Kaltim Post Supriyono, Direktur Radar Banjarmasin Suriansyah Achmad, Direktur Balikpapan Pos Ajid Kurniawan, dan Direktur Balikpapan TV Wiji Winarko.

Setelah lima hari padat agenda di New York, kami melanjutkan perjalanan ke ibu kota AS. Lalu menetap di sebuah rumah sewaan di Cheverly pada 20 Agustus 2023.

Alih-alih menginap di hotel yang kaku dan terbatas ruangnya, kami memilih rumah dua lantai dengan basement, tiga kamar tidur, dan dua kamar mandi.

Cukup untuk menampung enam orang dengan nyaman. Basement luas menjadi area santai sekaligus tempat tidur tambahan.

“Rasanya seperti tinggal di rumah sendiri,” ujar Supriyono sambil tertawa, mengenang sore hari ketika mereka berkumpul di ruang keluarga basement. “Kami bisa bebas ngobrol tanpa takut mengganggu tamu lain seperti di hotel,” ucapnya.

Di belakang rumah, terbentang taman seluas sekitar 100 meter persegi dengan pepohonan rindang.

Ada teras semi-indoor yang cocok untuk menyeruput kopi di pagi hari. Sementara cahaya matahari menyelinap di sela dedaunan.

Setiap pagi, saya suka duduk di situ. Dengar suara burung dan hiruk pikuk kecil warga berangkat kerja.

Meski mereka datang di musim panas, perapian di ruang tengah --lengkap dengan cerobong-- tetap menjadi daya tarik.

“Bayangkan kalau musim dingin, duduk di sini sambil minum cokelat panas,” celetuk Supriyono sambil memandangi tungku kayu yang rapi.

Selama di Cheverly, rombongan sepakat memasak sendiri untuk sarapan dan makan malam. Alasan utamanya sederhana: hemat biaya dan menjaga selera Nusantara.

“Kalau makan di luar terus, kantong bisa tipis. Lagipula lidah kita tetap mencari rasa rumah,” kata Supriyono.

Dapur rumah sewaan itu cukup lengkap. Dengan kompor listrik, microwave, hingga mesin pencuci piring.

Setiap pagi, aroma nasi goreng atau mi instan bercampur wangi kopi hitam memenuhi ruangan. “Indomie tetap jadi penyelamat,” sambung Ajid.

Untuk belanja bahan makanan, Walmart menjadi tujuan utama. Supermarket raksasa itu tidak hanya menawarkan harga bersahabat.

Tapi juga pengalaman berbelanja yang berbeda. “Salmon setengah kilogram cuma Rp 155 ribu. Lebih murah dari di Balikpapan,” ujar Supriyono.

Wiji Winarko menambahkan, sistem self-checkout di Walmart membuat mereka terkesan. “Kita bisa scan sendiri, bayar sendiri, dan langsung keluar tanpa antre panjang. Praktis banget,” ujarnya.

Namun, jika belanja banyak, mereka tetap memilih kasir biasa untuk memastikan semua barang terdata dengan benar.

***

Berbelanja di Walmart memang membawa pengalaman yang berbeda dari supermarket konvensional yang biasa kami temui di Balikpapan.

Salah satu fitur yang paling menarik perhatian rombongan KPG adalah sistem pembayaran mandiri atau self-checkout yang memungkinkan mereka membayar sendiri tanpa antre panjang dan tanpa harus berinteraksi langsung dengan kasir.

Ketika tiba di Walmart, langkah pertama adalah mengambil troli belanja dan mulai memasukkan barang kebutuhan.

Setelah selesai memilih, rombongan langsung menuju ke area self-checkout yang dipenuhi oleh sejumlah mesin kasir mandiri.

Mesin itu dilengkapi layar sentuh besar, scanner barcode, dan tempat penempatan barang yang juga berfungsi sebagai timbangan elektronik untuk memastikan kesesuaian barang yang di-scan.

Cara menggunakan self-checkout sebenarnya sederhana dan cukup intuitif. Pengguna diajak menyentuh layar untuk memulai proses.

Kemudian dengan memindai barcode satu demi satu menggunakan scanner genggam atau scanner datar yang terpasang.

Setelah barang dipindai, mereka harus menaruh barang tersebut di area pengemasan yang akan menimbang dan memastikan tidak ada barang yang tidak tercatat.

Setelah seluruh barang di-scan dan disimpan di tas belanja, layar akan menampilkan total harga. Selanjutnya, pelanggan bisa memilih metode pembayaran yang diinginkan. Kartu debit, kartu kredit, uang tunai, atau menggunakan aplikasi pembayaran digital Walmart Pay.

Jika memilih membayar dengan uang tunai, mesin akan menerima uang dan mengeluarkan kembalian secara otomatis.

Dengan fitur itu, proses pembayaran menjadi cepat, mengurangi antrean panjang di kasir konvensional, dan memberikan kemudahan terutama bagi mereka yang terburu-buru.

Meski teknologi self-checkout memberikan kemudahan, biasanya tetap ada petugas kasir yang berjaga di dekat mesin.

Tugas mereka bukan hanya membantu ketika mesin mengalami kendala. Tetapi juga memastikan tidak ada pelanggaran, khususnya untuk barang-barang yang dijual dengan pembatasan usia, seperti alkohol atau produk obat-obatan.

Salah satu anggota rombongan Kaltim Post, Supriyono, mengungkapkan, awalnya agak ragu dan bingung. Tapi setelah dicoba ternyata sangat mudah.

"Sistemnya membantu kami mempercepat proses belanja. Yang paling menyenangkan, kita bisa membayar sendiri tanpa antre lama,” bebernya.

Selain efisien, self-checkout itu juga memberikan nilai tambah bagi para pelanggan yang ingin privasi lebih saat bertransaksi dan bagi mereka yang kurang nyaman berinteraksi langsung dengan kasir, terutama dalam bahasa asing.

Sistem self-checkout di supermarket besar, teknologi itu berkembang pesat sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi toko dan kenyamanan pelanggan.

Dengan mengalihkan sebagian proses pembayaran ke tangan konsumen, toko bisa mengurangi keperluan tenaga kerja di kasir dan mempercepat laju pengeluaran barang.

Sistem itu juga dilengkapi dengan berbagai fitur keamanan seperti sensor berat dan kamera pengawas guna mencegah kecurangan.

Selain itu, Walmart juga menyediakan opsi self-scanning. Sehingga pelanggan bisa memindai barang menggunakan scanner genggam saat berbelanja, dan hanya melakukan pembayaran di kasir tanpa harus memindai ulang. Itu semakin mempercepat proses belanja bagi konsumen yang terbiasa dengan teknologi.

Singkat kata, pengalaman berbelanja di Walmart dengan sistem pembayaran self-checkout tidak hanya sebuah kemudahan.

Namun contoh nyata bagaimana kemajuan teknologi dan inovasi dalam dunia ritel bisa mengubah cara kita berinteraksi dengan aktivitas sehari-hari. Menjadikannya lebih cepat, praktis, dan menyenangkan.

BERBURU DISKON

Selain belanja keperluan dapur, rombongan juga sempat mengunjungi Tanger Factory Outlet di kawasan Washington DC yang terkenal sebagai surganya barang bermerek dengan harga miring.

Factory outlet ini adalah pusat perbelanjaan yang menjual barang langsung dari pabrikan dengan diskon besar. Biasanya karena stok lama, kelebihan produksi, atau model yang bukan musim terbaru.

“Saya kaget menemukan sandal Crocs dijual hanya USD 25 atau sekitar Rp 411 ribu,” cerita Supriyono dengan wajah puas.

Baca Juga: Wabup Kutim Soroti PT Kobexindo Cement, TKA Diminta Wajib Bisa Bahasa Indonesia

Bahkan saya mendapat promo sandal Crocs beli dua gratis dua. Jadi saya pulang dengan empat pasang sandal Crocs hanya menghabiskan sekitar Rp 1,2 juta. Padahal di Indonesia harga Crocs rata-rata mulai Rp 800 ribu sampai jutaan rupiah.

Fenomena harga murah di Tanger Factory Outlet itu memang sudah tidak asing. Factory outlet menawarkan produk dengan harga diskon yang signifikan karena barang-barang tersebut memang berasal dari produksi yang tidak lagi masuk siklus penjualan reguler.

Dengan menghilangkan banyak rantai distribusi dan perantara, harga yang dijual bisa jauh lebih murah dari toko biasa.

“Selain kualitas produk yang tidak diragukan, strategi factory outlet adalah menjual produk lama atau stok berlebih. Jadi pelanggan tetap dapat barang berkualitas bermerek dengan harga lebih bersahabat,” kata Wiji.

RITME HIDUP

Cheverly menghadirkan suasana yang kontras dengan hiruk pikuk New York. Jalan-jalan di lingkungan perumahan terasa lengang, rumah-rumah terawat dengan halaman hijau, dan penduduknya ramah menyapa.

“Saya sempat jogging pagi. Rasanya tenang sekali, udara segar, dan semua orang tersenyum atau melambaikan tangan,” cerita Ajid.

Bagi KPG, tinggal di kawasan kecil seperti Cheverly menjadi pelajaran tentang bagaimana kualitas hidup komunitas bisa memengaruhi kebahagiaan warganya.

Disiplin warga dalam menjaga lingkungan, keteraturan lalu lintas, hingga kebiasaan mengelola waktu dengan baik menjadi poin yang mereka catat.

Meski agenda di Washington DC padat. Mulai pertemuan resmi hingga kunjungan lapangan, kami tetap meluangkan waktu menikmati suasana lokal. Pada suatu pagi, ada yang memutuskan berjalan kaki dari rumah ke lingkungan sekitar.

Pengalaman tinggal di Cheverly membuka perspektif baru bagi. Lingkungan yang rapi, teratur, dan berfokus pada kenyamanan warga menjadi inspirasi untuk membayangkan seperti apa idealnya sebuah kawasan tempat tinggal.

“Konsep lingkungan yang ramah warga seperti ini, pasti kualitas hidup akan meningkat,” ungkap Ajid. (rd)

Editor : Romdani.
#penajam paser utara #ibu kota nusantara #kaltim post #Kutai Barat #amerika serikat (AS)