KALTIMPOST.ID-Di sebuah petak, di tengah kesibukannya melayani pembeli, Rusi, pedagang beras di Pasar Klandasan Balikpapan menunjukkan tumpukan beras. Ada dua kemasan. Ukuran 3 kilogram (kg) dan 5 kg.
Sementara yang ukuran 25 kg dijual secara eceran. Namun satu kesamaan. Semuanya jenis premium.
“Enggak jual (beras medium). Soalnya pembeli saya kebanyakan lebih suka yang premium. Kalau yang medium seperti SPHP (beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) itu yang ada pasarnya sendiri. Penjual makanan banyak yang pakai,” ucap perempuan berjilbab itu kepada Kaltim Post, Jumat (12/9) siang.
Meski menjual beras jenis premium, Rusi mengakui secara stok terbatas. Itu terjadi setelah terbongkarnya kasus beras oplosan medio Juli-Agustus lalu. Dampaknya masih terasa hingga kini.
Disebutnya, pemasok membatasi pengambilan beras dari pedagang. Misal untuk pengambilan saat ini hanya boleh 10 karung untuk berat 5 kg. Selanjutnya tidak bisa mengambil item yang sama.
“Contoh hari ini kami ambil yang kemasan 5 kg, tapi enggak boleh ambil yang karungan (25 kg) dulu. Di pengambilan berikutnya baru boleh. Tapi enggak boleh ambil yang 5 kg. Begitu dari pemasok saya,” sebut Rusi.
Soal harga disebutnya standar. Meski stok dibatasi, namun tidak ada kenaikan atau penurunan signifikan. Rerata untuk beras premium dijual di harga Rp 18 ribu/kg.
Kalaupun ada kenaikan atau penurunan harga disebutnya maksimal Rp 1.000/kg. “Saya kurang tahu ini (pembatasan stok) sampai kapan,” ujarnya.
Di retail modern, Kaltim Post menemukan adanya perkembangan positif soal ketersediaan beras premium.
Dalam pantauan Senin (8/9) lalu saat awak media berkunjung ke Yova Supermart di Gunung Malang, Balikpapan hanya ada dua merek beras yang dijual. Yakni SPHP (medium) dan Cap Kura Kura (premium).
Namun saat kunjungan terakhir pada Jumat (12/9), beragam merek beras premium sudah tersedia.
“Memang sempat terkendala soal ketersediaan beras premium ini pada dua bulan terakhir. Namun minggu ini (pekan kedua September) sudah mulai menunjukkan kelancaran distribusi dari distributor kami ya. Variannya untuk beras premium sudah banyak meski belum sebanyak sebelumnya (ada kasus beras oplosan),” ungkap Store Manager Yova Supermart, Nani Rosana.
Untuk harga, Nani menyebut juga ada penurunan. Meski diakui pihaknya belum bisa menjual harga beras premium sesuai harga eceran tertinggi (HET).
Alasannya, harga jual dari distributor pun sudah melebihi HET yang ditetapkan pemerintah. “Ada yang sudah, ada yang belum. Karena dari modal distributor sudah di atas HET,” imbuh Nani.
Dari sisi penjualan, Nani menyebut tidak ada pengaruh signifikan. Namun pihaknya sempat memberlakukan pembatasan jumlah pembelian.
Pembeli hanya boleh membeli beras premium satu kemasan dan untuk SPHP maksimal dua kemasan.
Namun mulai pekan ini pembatasan tersebut tidak diberlakukan untuk jenis beras premium merek tertentu.
“Mulai kemarin untuk beberapa merek beras premium tertentu yang stoknya cukup sudah tidak dibatasi pembeliannya. Kalau yang SPHP tetap ya karena ini sudah diatur pemerintah,” ujarnya. (rd)
Editor : Romdani.