KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kondisi kesejahteraan petani di Kaltim pada Agustus 2025 menunjukkan dinamika yang berbeda di tiap subsektor. Nilai Tukar Petani (NTP) Tanaman Perkebunan Rakyat menjadi yang tertinggi dengan kenaikan signifikan, sementara subsektor hortikultura justru tertekan cukup dalam.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat jika NTPR Agustus 2025 sebesar 201,67, mengalami kenaikan 3,00 persen terhadap bulan sebelumnya. Kenaikan NTPR disebabkan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 3,52 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) hanya naik sebesar 0,51 persen.
Kenaikan tersebut menegaskan subsektor perkebunan rakyat masih menjadi penopang utama, mengungguli subsektor lainnya. Sementara itu, kondisi berbeda terjadi pada petani hortikultura.
Baca Juga: Harga Produksi Pertanian Naik, Petani Kaltim Masih Diuntungkan
“NTPH Agustus 2025 sebesar 116,33 atau mengalami penurunan sebesar 5,77 persen terhadap bulan sebelumnya. Penurunan NTPH disebabkan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun sebesar 5,48 persen, sebaliknya Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) naik sebesar 0,31 persen,” jelas Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana.
Jika dirinci, kelompok sayur-sayuran dan tanaman obat-obatan menjadi penekan utama dengan penurunan masing-masing 9,96 persen dan 2,24 persen. Hanya kelompok buah-buahan yang masih tumbuh 0,93 persen. Untuk subsektor tanaman pangan, petani masih menikmati kenaikan meski terbatas.
“NTPP Agustus 2025 sebesar 103,62 atau mengalami kenaikan sebesar 1,05 persen terhadap bulan sebelumnya. Kenaikan NTPP disebabkan karena Indeks Harga yang Diterima Petani naik sebesar 1,36 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani hanya naik sebesar 0,31 persen,” terang Yusniar.
Baca Juga: Piutang Pembiayaan Tembus Rp502 Triliun, OJK Pastikan Risiko Tetap Aman
Pergerakan positif juga dialami petani peternakan. “NTPT Agustus 2025 sebesar 105,56 atau mengalami kenaikan sebesar 0,49 persen terhadap bulan sebelumnya. Kenaikan NTPT pada bulan ini disebabkan Indeks Harga yang Diterima Petani naik sebesar 0,75 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani hanya naik sebesar 0,26 persen,” bebernya.
Dari sisi subsektor perikanan, tren justru melemah. “NTNP Agustus 2025 sebesar 101,46 atau mengalami penurunan sebesar 1,17 persen terhadap bulan sebelumnya. Penurunan NTNP disebabkan Indeks Harga yang Diterima Petani turun sebesar 0,93 persen, sebaliknya Indeks Harga yang Dibayar Petani naik sebesar 0,24 persen,” kata dia.
Data di atas menunjukkan, subsektor perkebunan rakyat masih mendominasi kesejahteraan petani, sementara hortikultura dan perikanan perlu mendapat perhatian khusus akibat tren penurunan yang cukup tajam. (*)
Editor : Muhammad Rizki