Bangunan yang dipadati lebih dari seratus santri itu roboh seketika. Seorang saksi, Wahid, santri kelas tujuh MTs, mengaku merasakan lantai bergetar sebelum terdengar suara gemuruh.
“Saat masuk rakaat kedua, bagian ujung musala jatuh, lalu merembet ke sisi lain,” katanya. Ia bergegas keluar sambil menarik beberapa temannya untuk menyelamatkan diri.
Dalam hitungan menit, kepanikan menyebar. Puluhan ambulans keluar masuk area pondok untuk mengevakuasi para korban. Santri yang terluka langsung dibawa ke rumah sakit terdekat. Beberapa di antaranya mengalami luka serius akibat tertimpa material bangunan.
Kapolresta Sidoarjo, Kombes Christian Tobing, bersama jajaran Polresta dan tim BPBD turun langsung ke lokasi. Petugas masih melakukan pencarian dan evakuasi hingga Senin malam.
“Prioritas kami menyelamatkan korban dan memastikan tidak ada lagi santri yang tertimbun,” ujar Tobing.
Hingga kini belum ada keterangan resmi soal jumlah pasti korban maupun penyebab runtuhnya bangunan.
Hingga pukul 18.00 WIB, proses evakuasi masih berlangsung. Tim SAR dan BPBD Sidoarjo dikerahkan untuk membantu pencarian korban. Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, mengatakan tim pertama segera melakukan asesmen di lokasi dan mendeteksi tanda dua korban selamat di balik puing.
“Tim kedua membawa peralatan ekstrikasi untuk membuka akses evakuasi,” ujarnya.
Seorang santri, Muhammad Wafiq, menuturkan bangunan ambruk tiba-tiba saat jemaah berada di lantai bawah. “Kami sedang rakaat kedua, tiba-tiba atap runtuh,” katanya.
Menurutnya, runtuhnya bangunan berlangsung sangat cepat sehingga membuat situasi panik. Beberapa santri terjepit reruntuhan. “Itu sudah tidak bisa dinalar dengan pikiran, sehingga kami tidak fokus membantu teman-teman yang ada di dalam,” ucapnya.
Editor : Uways Alqadrie