Ia mengingatkan agar mobil Badan Gizi Nasional (BGN) yang membawa makanan ke sekolah jangan sampai beralih fungsi menjadi ambulans yang justru mengantar murid ke ruang gawat darurat.
Hal itu disampaikan Rocky ketika mendampingi Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan meninjau dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Brimob Polda Riau, Rabu (1/10). Ia menekankan bahwa fondasi keberhasilan program gizi bukan terletak pada jumlah anggaran, melainkan di titik awal distribusi: dapur.
“Pencernaan anak-anak kita tidak dimulai di mulut, melainkan di pintu dapur SPPG,” ucap Rocky.
Menurutnya, standar higienis di dapur Brimob Riau patut menjadi contoh. Ia merujuk pada penjelasan Kabid Dokkes Polda Riau, Kombes Wahono, yang memastikan setiap bahan pangan melalui pemeriksaan medis sebelum didistribusikan. Dengan begitu, risiko keracunan massal bisa ditekan.
“Kita ingin mobil BGN ini berhenti di sekolah dengan aman, bukan berakhir di IGD rumah sakit,” katanya.
Rocky juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran Bhayangkari Riau, khususnya Ketua Bhayangkari Daerah, Tina Agustina Heryawan, yang dianggap telaten mengawasi detail pengelolaan dapur. “Racun bukan produk bumi, melainkan akibat kelalaian di dapur,” ujar Rocky menegaskan.
Ia menambahkan, Polda lain sebaiknya meniru pola kerja di Riau. Baginya, keamanan pangan dalam program MBG tidak sekadar soal prosedur teknis, tetapi juga menyangkut etika dan kepedulian mereka yang bertugas mengurus gizi anak bangsa.
Editor : Uways Alqadrie