Dek lantai tiga baru saja dicor pagi itu. Sekejap, lebih dari seratus orang menjadi korban.
Musibah ini menyeret perhatian publik, tak hanya pada proses evakuasi, tapi juga pada sosok pemilik dan pengasuh pesantren berusia hampir seabad tersebut.
Ponpes Al Khoziny berdiri pada 1920-an, didirikan KH Raden Khozin Khoiruddin. Setelah beliau wafat, kepemimpinan berpindah kepada putranya, Moh Abbas, lalu kepada KH Abdul Mujib.
Dari jalur ibunya, Nyai Khodijah, Abdul Mujib masih berkerabat dengan KH Wahab Hasbullah, tokoh besar pendiri Nahdlatul Ulama.
Sejak muda, Abdul Mujib dikenal gemar menuntut ilmu dan berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain. Kesederhanaan menjadi prinsip hidupnya. Tawaran menikah dengan putri saudagar kaya sempat datang, namun ditolak.
Ia akhirnya berumah tangga dengan Nyai Mudawwamah, seorang penghafal Alquran asal Pasuruan. Dari pernikahan itu lahir 12 anak, termasuk KH Abdus Salam Mujib yang kini memimpin pesantren.
Di masa tuanya, Abdul Mujib tetap aktif meski mengidap diabetes. Ia wafat pada Selasa, 5 Oktober 2010, bertepatan dengan 26 Syawal 1431 H, di usia 77 tahun.
Kepergiannya meninggalkan warisan ilmu dan pengabdian yang kini diteruskan putranya, KH R. Abdus Salam Mujib.
Selain menjadi pengasuh Ponpes Al Khoziny, Abdus Salam Mujib juga menjabat Rais Syuriyah PCNU Sidoarjo, posisi tertinggi dalam pengambilan keputusan keagamaan NU di tingkat kabupaten.
Kini, reruntuhan musala Al Khoziny tak hanya menyisakan duka, tapi juga mengingatkan publik pada panjangnya jejak keluarga besar pesantren yang telah membina ribuan santri selama hampir satu abad.
Editor : Uways Alqadrie