KALTIMPOST.ID-Tim investigasi independen Badan Gizi Nasional (BGN) telah melakukan penyelidikan terhadap kasus keracunan menu makan bergizi gratis (MBG) di salah satu SMK negeri di Bandung Barat.
Mereka menyimpulkan adanya senyawa nitrit yang menjadi pemicu utama keracunan tersebut.
Ketua Tim Investigasi Independen BGN Karimah Muhammad menyampaikan, pihaknya telah menelusuri korban, mewawancarai dokter di Puskesmas Cipongkor dan RSUD Cililin, mempelajari gejala dan obat yang diberikan, serta mengantongi hasil uji mikrobiologi dan toksikologi dari Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jabar.
“Hasilnya, ditemukan kadar nitrit yang tinggi pada melon dan lotek pada sisa makanan di sekolah,” ungkapnya.
Di dua sampel yang diuji itu, kadar nitrit masing-masing tercatat 3,91 mg/L dan 3,54 mg/L. Berdasar standar EPA (Environmental Protection Agency), kadar nitrit tersebut hampir 4 kali lipat dari batas maksimum.
Menurut Karimah, persentase korban yang mengalami diare yang hanya 3 persen justru menguatkan bahwa temuan itu bukan keracunan makanan biasa.
“Keracunan nitrit memang tidak memicu diare. Sebab, sebagai zat toksik, nitrit perlu didetoksifikasi di hati lebih dahulu,” tambah dia.
Gejala lain seperti lemas dan sesak napas timbul karena nitrit mengganggu fungsi hemoglobin dalam mengangkut oksigen dalam darah.
Dia menambahkan, tim investigasi tidak menemukan bakteri patogen seperti E.coli, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus maupun racun berbahaya lain seperti sianida, arsen, logam berat, atau pestisida. ’’Hanya nitrit yang terdeteksi sebagai penyebab,’’ tegasnya. (rd)
Editor : Romdani.