Tim yang terdiri atas Basarnas, BNPB, TNI, dan tenaga ahli dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mulai memasang penyangga pada bangunan lama yang tampak miring.
Langkah ini dilakukan untuk mencegah runtuhan susulan yang dapat membahayakan petugas saat proses evakuasi berlangsung.
Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Mayjen TNI Budi Irawan, mengatakan langkah ini diambil untuk mencegah risiko baru saat proses evakuasi korban di area rawan runtuh.
“Pemotongan material yang menempel di struktur lama dilakukan hati-hati dan disangga agar tidak menimbulkan bahaya tambahan,” ujar Budi di Posko Kedaruratan, Senin, 6 Oktober 2025.
Menurut Budi, koordinasi teknis dilakukan langsung bersama ahli struktur dari ITS.
“Kami sudah diskusi dengan tim ITS dan Basarnas. Material yang menempel dipotong, lalu dipasang penyangga. Diharapkan aman saat sisa reruntuhan ditarik,” katanya.
Progres pembersihan material disebut telah mencapai 75 persen, dengan sisa puing berada di sisi kiri area musala yang ambruk. “Tinggal seperempat lagi di area bangunan miring itu. Kami berharap prosesnya rampung sebelum malam,” ujarnya.
BNPB menargetkan pencarian seluruh korban selesai paling lambat pukul 00.00 WIB. Hingga Senin pagi, Basarnas mencatat total korban ditemukan mencapai 158 orang, terdiri dari 104 selamat dan 54 meninggal dunia, lima di antaranya dalam kondisi tidak utuh.
Budi menambahkan, proses evakuasi kali ini menjadi yang paling transparan selama ia bertugas. “Untuk pertama kalinya, operasi darurat dilakukan dengan siaran langsung 24 jam penuh. Publik bisa memantau semua prosesnya,” tuturnya.
Sebelumnya, gedung tiga lantai di kompleks asrama putra Ponpes Al Khoziny ambruk pada Senin sore, 29 September 2025, saat ratusan santri tengah menunaikan salat Asar berjemaah.
Editor : Uways Alqadrie