Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Aminah Syukur, Tokoh Pendidikan Asal Samarinda Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Nasya Rahaya • Kamis, 9 Oktober 2025 | 19:09 WIB
KIPRAH: Sejarawan publik Muhammad Sarip memaparkan kiprah Aminah Syukur dalam dunia pendidikan Samarinda di acara talk show di Unmul Hub, Kamis (9/10).
KIPRAH: Sejarawan publik Muhammad Sarip memaparkan kiprah Aminah Syukur dalam dunia pendidikan Samarinda di acara talk show di Unmul Hub, Kamis (9/10).

SAMARINDA—Warga Samarinda pasti tak asing dengan nama Aminah Syukur, sebab nama itu dijadikan nama sebuah jalan di pusat Kota Samarinda. Tapi tak banyak yang tahu bahwa Aminah Syukur merupakan sosok tokoh pendidikan.

Pada 1928, Aminah membangun sekolah khusus perempuan yakni Meisje School. Ia juga mengajar di sekolah formal dan inisiatif mengajar privat dari rumah ke rumah untuk menjangkau murid-muridnya.

Berkat kiprahnya itu, sosoknya diusulkan memperoleh gelar Pahlawan Nasional. Wacana tersebut mengemuka dalam talk show bertema “Mendirikan Sekolah, Menyalakan Harapan: Warisan Pendidikan Aminah Syukur Untuk Generasi Muda” yang digelar di Gedung Unmul Hub, Universitas Mulawarman, Kamis (9/10).

Wacana ini mengemuka dalam talk show bertema “Mendirikan Sekolah, Menyalakan Harapan Warisan Pendidikan Aminah Syukur Untuk Generasi Muda” yang diselenggarakan di Gedung Unmul Hub Universitas Mulawarman Samarinda pada Kamis (9/10/2025).

Anggota Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Kalimantan Timur yang diwakili Muhammad Sarip menyatakan, setidaknya ada tiga poin utama alasan kelayakan gelar pahlawan nasional bagi Aminah Syukur.

“Pertama, kiprah perempuan Aminah Syukur dalam mendidik anak-anak melebihi tanggung jawabnya sebagai guru reguler, tanpa berorientasi finansial, sejak era kolonial ketika tenaga pengajar dan lembaga pendidikan di Samarinda masih minim,” papar Sarip.

Dilanjutkan Sarip yang juga sejarawan publik tersebut, poin kedua bahwa Aminah merupakan representasi perempuan untuk strategi pengarusutamaan gender yang bervisi kesetaraan dan keadilan gender.

Poin ketiga, Aminah berasal dari provinsi yang minim tokoh bergelar pahlawan nasional.

“Hingga 2025 Kaltim baru mempunyai satu pahlawan nasional, sedangkan daerah di Pulau Jawa sudah sangat banyak tokohnya, sehingga sangat urgen untuk meng-counter narasi Jawa-sentris dalam penganugerahan gelar pahlawan nasional,” tegas Sarip.

Sementara itu, Muhammad Lutfi selaku cucu dari Aminah Syukur mengungkapkan, neneknya tempo dulu sangat gigih dalam memperjuangkan pendidikan untuk anak-anak di Samarinda.

“Keteladanan beliau itu terutama tentang kegigihan dalam menjalani kehidupan dan semangat untuk pantang menyerah dalam berbuat kebaikan walaupun terdapat rintangan dan tantangan yang berat,” tutur Lutfi yang tak kuasa menahan tangis di forum.

Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unmul Rizal Izmi Kusumawijaya menyatakan, prodinya memang bertanggung jawab untuk lebih menggali sejarah para tokoh lokal Kaltim, salah satunya Aminah Syukur.

Di akhir forum, Sarip menyampaikan pesan kepada Pemerintah Kota Samarinda agar menindaklanjuti usulan gelar pahlawan nasional bagi Aminah Syukur.

Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 dan Peraturan Menteri Sosial Nomor 15 Tahun 2012, prosedur pengusulan gelar pahlawan nasional dilakukan secara bertingkat dimulai dari Dinas Sosial tingkat kota/kabupaten.

Editor : Muhammad Ridhuan
#Meisje School #Universitas Mulawarman #samarinda #pahlawan nasional #Aminah Syukur