KALTIMPOST.ID, Tragedi ambruknya sebuah bangunan di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, yang merenggut 63 korban jiwa, mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Sebagai bentuk kepedulian, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menyerahkan santunan secara langsung kepada 17 perwakilan wali santri yang menjadi korban.
“Alhamdulillah, kita dapat berkumpul untuk doa bersama dalam menghadapi musibah ini. Sejak awal, Bapak Presiden telah memberikan atensi penuh pada musibah di Al-Khoziny hingga proses pemulihan. Tugas saya sebagai Mensos adalah melakukan pendampingan komprehensif untuk keluarga, yang mencakup santunan, jaminan sosial, pemulihan, hingga pemberdayaan,” kata Mensos Saifullah Yusuf.
Penyerahan bantuan ini dilakukan di tengah kegiatan Tahlil Akbar Syuhada Al Khoziny yang diselenggarakan di Gedung Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, pada Sabtu (11/10).
Setiap wali santri menerima bantuan sosial senilai Rp 15 juta beserta paket sembako.
Acara tersebut turut dihadiri oleh sejumlah tokoh, termasuk Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur (Jatim) KH Abdul Matin Djawahir, Pengasuh Pesantren Al-Khoziny KH Abdul Salam Mujib, serta Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah (Sekda) Jatim HA Djazuli, yang mewakili Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.
Dalam kegiatan yang diawali dengan khotmil Qur'an, pembacaan Surah Yasin, dan Tahlil ini, Mensos menjelaskan bahwa penyaluran santunan dimulai dari wali santri yang berdomisili di Surabaya, dan akan berlanjut ke Madura, Sidoarjo, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan wilayah luar Jawa.
Mensos juga berbagi kisahnya saat menjenguk santri yang selamat namun harus menjalani perawatan intensif.
“Kemarin saya telah mengunjungi Syehlendra Haikal Aditya dan Syaifur Rozi Abdillah di RS Sidoarjo. Mereka selamat, meski salah satu kakinya harus diamputasi. Saya menyemangati mereka sebagai santri agar memiliki kesabaran, keikhlasan, dan kekuatan dalam menerima cobaan. Bagi seorang santri, musibah adalah nasihat dan pelajaran yang harus kita terima dengan baik,” ujarnya.
Selain santunan, Kementerian Sosial (Kemensos) juga berkomitmen memberikan pemberdayaan dan pendampingan psikososial bagi keluarga yang terdampak.
Bantuan ini diwujudkan melalui pemberian modal usaha dan pelatihan keterampilan yang disesuaikan dengan potensi masing-masing keluarga.
Kemensos melakukan asesmen mendalam terhadap setiap keluarga korban untuk memastikan bantuan yang diberikan tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan spesifik mereka.
“Misalnya, jika ada yang berencana membuka warung atau toko. Kami akan asesmen, memberikan pelatihan, dan kemudian memberikan modal usaha,” jelas Mensos.
Bagi para korban yang mengalami disabilitas, Kemensos menjalin kerja sama dengan Komisi Nasional Disabilitas (KND) untuk menyediakan pendampingan dan alat bantu yang dibutuhkan, seperti kaki atau tangan palsu, kursi roda, dan tongkat.
“Namun, hal terpenting adalah bagaimana setelah ini kita bisa membangkitkan kembali semangat para santri. Ini bukanlah akhir, melainkan sebuah permulaan yang harus kita tata lebih baik agar mereka tetap dapat meraih prestasi,” tegasnya.
Mengenai penanganan bencana, Mensos menjelaskan bahwa pemerintah memiliki Prosedur Operasi Standar (SOP) yang meliputi tiga fase: evakuasi, kedaruratan, serta rekonstruksi dan rehabilitasi.
Dalam fase pemulihan, PWNU Jatim diharapkan dapat berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk melaksanakan audit kelayakan bangunan pesantren.
Menanggapi musibah ini, Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim KH Abdul Matin Djawahir meyakini bahwa para santri yang meninggal dunia adalah syuhada.
"Insyaallah, santri Al Khoziny yang menjadi korban musibah ini adalah syuhada. Kita mungkin berduka, namun mereka berbahagia karena insya Allah masuk surga. Musibah ini adalah nasihat bagi kita semua di dunia untuk belajar menerima ujian,” tambahnya. ***
Editor : Dwi Puspitarini