Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Ayah Mahasiswa Unud yang Tewas di Kampus Buka Suara: Bantah Isu Penyakit dan Tempuh Jalur Hukum

Dwi Puspitarini • Minggu, 19 Oktober 2025 | 18:18 WIB

 

Ayah Timothy, Lukas Triana Putra, saat mendatangi Polresta Denpasar.
Ayah Timothy, Lukas Triana Putra, saat mendatangi Polresta Denpasar.

KALTIMPOST.ID, Ayah dari almarhum mahasiswa Timothy Anugerah Saputra, yaitu Lukas Triana Putra akhirnya angkat bicara soal kematian putranya yang ditemukan tak bernyawa di area kampus fakultas pada Selasa, 15 Oktober 2025.

Ia datang dengan maksud meluruskan banyak spekulasi yang selama ini beredar liar.

“Saya kaget, kenapa anak saya diberitakan bahwa terjadi dia (mengakhiri hidup) karena kesehatan,” tegas Lukas dalam wawancaranya.

Ia menegaskan bahwa seluruh informasi yang menyebutkan bahwa Timothy memiliki gangguan kesehatan mental atau fisik sama sekali tidak benar.

Lukas menjelaskan bahwa memang ketika masih kecil, Timothy pernah mengalami kelainan pendengaran—telinga yang tidak bisa mendengar dengan baik.

“Memang pada waktu masih kecil, ada kelainan pendengaran, telinganya tak bisa mendengar secara baik, sehingga dia kita bawa ke dokter spesialis THT anak,” ungkapnya dikutip dari YouTube Metro TV pada Minggu (19/10/2025).

Namun kemudian kondisi tersebut membaik. “Telinganya semenjak sudah dibersihkan, pendengarannya jadi baik,” tambahnya.

Dengan demikian, menurut Lukas, Timothy tidak memiliki riwayat penyakit kronis atau gangguan mental yang menjadi penyebab kematiannya.

Perjalanan Pendidikan dan Sosialisasi

Lukas juga membagikan sisi lain dari kehidupan anaknya yang mungkin jarang diketahui publik.

Timothy sempat memulai pendidikan di sekolah internasional sejak playgroup—sehingga dia lebih banyak menggunakan bahasa Inggris dan kemudian dianggap “kurang mahir bersosialisasi dengan Bahasa Indonesia”.

“Setelah kita lihat perkembangannya di kelas 4 (SD), kok dia tidak bisa bersosialisasi dengan baik dengan lingkungannya dengan bahasa Indonesia, kita khawatir,” ujar Lukas.

Karena itu, mereka memindahkan Timothy ke sekolah nasional plus dengan sistem tematik agar lebih mudah bersosialisasi dengan teman-temannya.

Sejak masa SMP, Timothy sudah dianggap membaik secara psikologis. “Pada saat itu kita juga pakai psikolog juga dan dinyatakan (Timothy) sudah bisa bersosialisasi tanpa psikolog itu di SMP,” ujar Lukas.

Dan saat menjadi mahasiswa di Universitas Udayana, Timothy “sudah dinyatakan tidak ada gangguan dari psikologinya,” tambahnya.

Kronologi Masih Dipertanyakan & Pilihan Jalur Hukum

Meski demikian, Lukas tetap merasa ada yang tidak beres dalam penanganan kasus ini oleh institusi kampus.

Ia mengungkap bahwa hingga saat ini tidak ada penjelasan resmi dari pihak kampus mengenai bagaimana tepatnya peristiwa kematian ini terjadi — apakah kecelakaan, bunuh diri, atau faktor lain.

Karena itu, ia memilih untuk melapor ke Polres Denpasar untuk menuntut kejelasan.

“Kenapa saya melapor ke Polres Denpasar, penyebabnya adalah tidak ada penjelasan dari pihak kampus yang menyatakan kronologinya kecelakaan itu terjadinya seperti apa,” tutup Lukas. ***

Editor : Dwi Puspitarini
#Timothy Anugerah Saputra #lukas triana putra